Senandung Cinta Gadis Desa

Senandung Cinta Gadis Desa
Bagian 6


__ADS_3

Sinta masih merasa kesakitan akibat jatuh dari tempat tidur. Ia berjalan tertatih-tatih menuju ke kamar mandi. Mulutnya meringis. Rupanya rasa sakit akibat mimpi indah tentang Tono menyisakan memar di kakinya.


Saat hendak ke kamar mandi, Sinta berpapasan dengan Nenek.


“Kamu mimpi apa Sin ? Mantap sekali sampai loncat dari tempat tidur.” tanya nenek. Ditanya seperti itu Sinta cuma meringis.


“Hiiiii. Gak mimpi apa-apa nek.” elak Sinta.


“Gak mimpi kok teriak sambil loncat. Ah, bohong kamu. Malu kali ya cerita sama Nenek ?” sahut nenek.


Sinta hanya tersenyum simpul, lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.


“Gak ke sungai ?” tanya nenek.


“Gak ah.” jawab Sinta menggeleng.


“Biasanya lebih suka mandi di sungai.” ujar nenek.


“Lama-lama malas nek, digodain terus sama cowok.” curhat Sinta.


“Cowok. Siapa ? Welah. Ganteng ndak ?” goda sang Nenek.


“Ha ha ha. Ya begitulah.” jawab Sinta.


Sejujurnya masih segar mandi di sungai. Airnya jernih dan pemandangan alamnya masih mempesona. Dan yang paling penting bisa ngobrol sama Diah. Cuma kadang ada lelaki iseng seperti Dirjo dan lainnya yang suka menggoda. Jadi malas.


Mandi di rumahpun tak kalah segar. Air yang digunakan masih air dari sumber yang sama. Selagi asyik menikmati segarnya air, tiba-tiba terdengar suara Nenek memanggil.


“Sin ! Sin ! Dicari temannya !” panggil nenek.


“Siapa nek ? “ jawab Sinta dari dalam kamar mandi setengah berteriak.


“Ndak tau. Lagi nunggu di luar.” sahut neneknya.


“Ya. Tunggu sebentar.” kata Sinta dan mempercepat mandi paginya.


“Mungkin Diah yang datang.” batin Sinta.


Namun betapa terkejut dan kecewanya setelah tahu yang datang bukan Diah, tapi Dirjo.


“Ada apa kang ?” tanya Sinta.


“Boleh masuk ndak ? Biar enak ngobrolnya.” kata Dirjo.


“Di luar saja ya. Ndak enak rumah kosong. Kakek dan Nenek lagi di tempat Pak Jodi.” usul Sinta.


“Baik, tak masalah.” ungkap Dirjo.


Mereka berdua duduk di teras depan rumah. Keduanya duduk berjauhan. Sinta enggan duduk dekat-dekat dengan Dirjo.

__ADS_1


Lama, Dirjo tak jua mengutarakan maksudnya datang kerumah Sinta. Dia hanya terdiam dengan sesekali melirik ke arah Sinta. Situasi seperti ini berlangsung lama, sehingga Sinta mulai habis kesabarannya.


“Ada perlu apa sih Kang ?” tanya Sinta sekali lagi.


“Eh, anu. Tentang rencana rekreasi.” papar Dirjo memulai. Tingkahnya betul-betul menunjukkan kalau sedang grogi. Kata-kata Dirjo yang terbata-bata membuat Sinta semakin gemas.


“Ayo to Kang ? Ada apa ini ? Ngomong saja.” ujar Sinta dengan suara yang semakin keras.


“I i i i yaaa Sin. Gi gi ni lho. Saya pengin minta bantuan Sinta.” kata Dirjo tergagap.


Sinta mendengarkan serius. Tatapannya tajam ke arah Dirjo.


“I i i kuut jadi panitia, sebagai sekretaris.” pinta Dirjo.


Seperti yang sudah diduga sebelumnya, Sinta menolak.


“Maaf Kang. Aku ndak bisa.” tolak Sinta.


“Kenapa Sin ? Aku betul-betul membutuhkan bantuanmu.” rengek Dirjo.


“Kan ada Lastri, Endah, Sri, Diah dan masih banyak lagi. Kenapa gak mereka ?” sanggah Sinta.


“Saya lebih cocok sama kamu Sin. “ perjelas Dirjo.


“Tapi Aku nggak mau Kang.” tolak Sinta mempertegas.


“Dari tadi kok kenapa terus. Aku sudah bilang ndak mau. Ya ndak mau.” jawab Sinta ngotot.


“Tidak semua sikap harus punya alasan Kang. Aku tidak mau.” pertegas Sinta sekali lagi.


“Ayolah Sin !” paksa Dirjo.


Sinta sudah betul-betul sebel, namun ia tidak tahu harus bicara apa lagi. Sinta tidak tega menaikkan nada suaranya lagi pada Dirjo untuk mengungkapkan penolakannya. Lagi pula wajah sudah ditekuk mengekspresikan ketidak setujuannya.


Sesaat mereka terdiam. Namun Dewi Fortuna masih berpihak pada Sinta. Tiba-tiba neneknya memanggil dari rumah Pak Jodi.


“Sin ! Sin ! Tolong ke sini !” teriak Nenek.


Mendengar teriakan Nenek memanggil, Sinta seperti mendapatkan seorang penyelamat. Tanpa ragu-ragu Ia segera menyahut.


“Iya Nek. Segera datang. “ jawab Sinta sambil teriak.


“Maaf ya Kang. Aku dipanggil nenek nih.” kata Sinta sembari pergi tanpa mempedulikan Dirjo.


“Tapi Sin. Sin. “ cegah Dirjo berupaya menghalangi kepergian Sinta.


Tapi terlambat, Sinta sudah berlari ke rumah Jodi tanpa peduli lagi dengan Dirjo yang hanya menghela nafas dalam-dalam dengan kecewa. Dipandanginya Sinta yang tengah berlari meninggalkan dirinya menuju ke rumah Jodi. Mukanya betul-betul menunjukkan kekecewaan. Terbengong-bengong dengan kepergian Sinta.


“Sombong sekali kamu Sin.” batin Dirjo.

__ADS_1


“Awas ya ! Tunggu pembalasanku.” batin Dirjo selanjutnya.


Tak perlu lama, Sinta telah menghilang dari pandangan Dirjo. Lenyap begitu saja. Akhirnya Dirjo pergi meninggalkan rumah Sinta.


Sementara itu Sinta telah berada di rumah Jodi. Ada Kakek dan Nenek di sana. Tampak seorang lelaki berusia sekitar 40 tahun sedang berbincang-bincang dengan Nenek dan Kakeknya. Mereka sudah sangat akrab, pasti sudah saling mengenal.


“Pasti itu yang namanya Pak Jodi. “ tebak Sinta.


Selama ini, Ia hanya sering mendengar tentang Pak Jodi dari cerita Kakek dan Neneknya. Baru kali inilah, Sinta melihat sosok majikannya itu. Sudah berumur, tapi masih bersahaja. Artinya orangnya ganteng, perlente, tegap perkasa. Walau hanya mengenakan kaos oblong dan celana jeans tapi Jodi terlihat sangat keren. Dengar-dengar pak Jodi sudah menduda karena ditinggal Istrinya nikah lagi.


Sinta mendekat malu-malu. Ia berjalan perlahan tanpa terdengar suara langkah kakinya. Kini, ia berdiri mematung di belakang neneknya.


“Itu siapa ?” tanya Jodi tatkala melihat Sinta di belakang neneknya.


“Oh, itu Sinta mas. Cucu saya. Ibu dan Bapaknya sudah tiada.” jelas Nenek.


“Oh ya ya. “ jawab Jodi sembari mengangguk-anggukan kepalanya.


“Ayo Sinta. Kenalkan ini nak Jodi.” kata nenek.


Jodi mengulurkan tangan pada Sinta. Sinta menyambutnya malu-malu.


“Oh ya, ayo bantu Kakek dan Nenek bawa masuk barang-barang Pak Jodi.” ujar Nenek pada Sinta dan Kakek.


Merekapun bersama-sama memasukkan barang-barang Jodi dari mobil. Barang-barang itu sangat banyak. Kayaknya Jodi mau tinggal di desa ini.


“Mas Jodi mau tinggal di sini selamanya ?” tanya Kakek Sinta.


“Ndak pak. Ndak selamanya. Tapi cukup lama. Saya ingin membereskan dulu semua barang peninggalan Ayah.” jelas Jodi.


“Baik kalau begitu.” jawab Kakek.


Bergotong royong mereka membawa barang-barang bawaan Jodi ke kamar. Kamar yang besar dan rapi. Rumah itu nggak terlalu mewah. Sederhana dan Rapi. Untuk ukuran di desa Indragiri, rumah itu memang termasuk rumah mewah. Karena rata-rata rumah di desa ini sederhana saja. Bahkan masih banyak ditemui rumah yang terbuat dari kayu dan bambu.


“Letakkan di situ saja mba Sinta. Biar nanti Saya yang merapikan ke lemari. “ kata Jodi melihat Sinta diam mematung di kamar sambil membawa tas koper.


“Baik Pak. Panggil Sinta saja. Tidak usah pakai Mba.” usul Sinta.


“Oke. Oke Sinta. Terima kasih ya.” jawab Jodi.


“Sama-sama Pak. Saya kembali dulu ke Nenek.” kata Sinta.


“Eh, tunggu. Ini buat kamu.” kata Jodi sambil mengulurkan sebuah bungkusan.


“Apa ini ?” tanya Sinta.


“Oleh-oleh. Buka saja nanti di rumahmu ya ?” usul Jodi.


Sinta mengangguk pelan. Lalu melangkah keluar kamar Jodi perlahan. Namun, sebelum keluar rumah Sinta mengintip ke teras rumahnya untuk memastikan Dirjo sudah pergi dari sana. Setelah dilihatnya teras rumah sepi, Sinta segera pulang kerumah dengan riang gembira.

__ADS_1


__ADS_2