Senandung Cinta Gadis Desa

Senandung Cinta Gadis Desa
Bagian 11


__ADS_3

Pernikahan Tono dan Lastripun berlangsung. Sinta memaksa ingin hadir di pesta pernikahan itu. Rencana itu jelas ditolak oleh Kakek dan Neneknya.


"Aku hanya ingin melihat Kak Tono untuk terakhir kali." rengek Sinta.


"Tidak." larang Kakek dengan suara keras.


"Dulu Kakek sudah mendengarkan kemauanmu. Sekarang giliran Kamu mendengarkan kemauan Kakek."


Pembicaraan mereka terhenti. Kakek dan Nenek Sinta segera pergi menghadiri pernikahan Tono dan Lastri. Maklum karena yang punya hajat seorang Lurah dan memiliki banyak harta, pesta pernikahan dilakukan dengan meriah.


Sinta hanya bisa menangis. Isakan tangisnya terdengar semakin keras. Hal itu menarik perhatian Pak Jodi majikannya.


"Kenapa Sin ?" tanya Pak Jodi keheranan.


Sintapun menceritakan semuanya pada pak Jodi sambil menangis sesegukan.


"Ayo aku antar. Aku juga diundang sama pak Lurah. Tapi dengan syarat." kata Pak Jodi menawarkan.


Sinta mendongak. Wajahnya berbinar-binar.


"Apa syaratnya Pak ?"


"Kamu harus menyamar jadi laki-laki. Aku tidak ingin ada keributan di sana." kata Pak Jodi.


"Baik Pak."


"Ingat ya. Hanya melihat, setelah itu pergi." tegas Pak Jodi sekali lagi.


Sinta mengangguk pelan.


"Ikut aku."


Pak Jodi dan Sinta segera mempersiapkan diri. Pak Jodi merias wajah Sinta jadi laki-laki. Rupanya Pak Jodi punya pengalaman dalam hal rias-merias. Sinta yang telah di permak wajah dan tubuhnya betul-betul terlihat seperti laki-laki.


"Ganteng juga kamu Sin." kata pak Jodi. Sinta tersipu malu.


"Tapi ingat, Kamu hanya melihat saja dari kejauhan. Tidak ada jabat tangan, apalagi foto. Tidak ada ribut-ribut dan pingsan."


"Iya."


Mereka berangkat ke tempat resepsi pernikahan dengan mobil kesayangan Pak Jodi. Sebuah mobil sedan honda accord. Walaupun bukan mobil keluaran terbaru, tapi sudah sangat keren untuk ukuran di desa.


Sepanjang perjalanan Sinta hanya terdiam. Dadanya bergejolak. Ada sesuatu yang ingin meledak. Tapi semua ditahan.


Resepsi pernikahan Tono berlangsung meriah dan mewah. Mungkin seluruh desa diundangnya. Pak Jodi turun dari mobil berdampingan dengan Sinta. Penyamaran Sinta betul-betul sempurna. Tak seorangpun yang mengenalnya.


Saat mengisi buku tamu, tiba-tiba ada orang menyapa Pak Jodi.

__ADS_1


"Eh, Om Jodi." sapa seseorang, ternyata Diah.


"Mba Diah, bagaimana kabarnya ?" jawab balik Pak Jodi. Sementara Sinta berusaha sekuat tenaga menyembunyikan dirinya.


"Om, tadi ketemu Sinta gak ?" tanya Diah selanjutnya.


"Tadi ada di rumah." jawab Pak Jodi sekenanya.


"Ini siapa Om ? Boleh kenal tidak ?" kata Diah selanjutnya sambil matanya melirik ke arah Sinta yang menyamar.


"Oh iya, ini keponakan Om. Jasen." katanya sambil mengenalkan Sinta pada Diah. Malu-malu Diah mengajak Sinta bersalaman. Sinta menyambutnya dengan malas. Matanya terus menatap ke arah pelaminan, tempat pengantin bersanding.


Saat ini jarak Sinta dan Pak Jodi begitu dekat dengan mempelai.


"Bagaimana Sin ?" tanya Pak Jodi.


Sinta diam menahan perasaan. Tubuhnya bergetar.


"Masih mau salaman sama Tono ?" bisik Pak Jodi lagi.


Sinta mengangguk. Pak Jodi enggan bertanya lagi. Dia bisa faham apa yang tengah berkecamuk di hati Sinta.


Pak Jodi segera menghampiri Tono, si mempelai pria.


"Selamat ya Ton." ucap Pak Jodi. Tono sempat kaget. Sejenak tertegun.


"Selamat ya Mas Tono." ucap lelaki di belakang Pak Jodi. Sinta, bagaimana Dia bisa berakting seperti itu.


"Terima kasih. Ini siapa Om ?" tanya Tono selanjutnya.


"Oh, itu Jasen. Keponakan Om. Kebetulan lagi main ke sini. Biar tidak bosan di rumah." jelas Pak Jodi.


"O ya. ya. Terima kasih mas Jasen atas kehadirannya." jawab Tono sembari tersenyum ke Jasen. Mau tak mau Sintapun tersenyum. Walaupun di hatinya ada segudang air mata yang siap tertumpah.


"Selamat ya mbak Lastri."


"Terima kasih Om Jodi. Terima kasih mas Jasen."


Selepas memberi selamat para tamu biasanya menikmati hidangan pesta. Tapi, Sinta segera berjalan ke luar gedung. Pak Jodipun faham. Dia mungurungkan niatnya menikmati santapan yang sempat diambilnya.


Sinta segera masuk mobil. Disusul pak Jodi. Belum sempat tanya apa-apa tangis Sinta pecah. Menangis tanpa di tahan lagi. Menumpahkan segala kemelut yang berkecamuk di hatinya.


Takut menarik perhatian pengunjung lainnya Pak Jodi segera membawa mobil pergi dari area pesta pernikahan. Pak Jodi mengarahkan mobil ke arah perbukitan sunyi, semoga Sinta bisa menangis sepuasnya tanpa ada yang mencurigai.


Sepanjang perjalanan meninggalkan gedung Sinta menangis tiada henti, apalagi ketika tiba diperbukitan sunyi. Segala gundah gulana yang ada ditumpahkan melalui tangisannya. Pak Jodi terdiam membiarkan Sinta menangis seperti itu.


Alampun menjadi saksi, rasa hati seorang perempuan desa yang telah tersakiti.

__ADS_1


Setelah sekian lama, tangis Sintapun mereda.


"Sudah enakan ?" tanya Pak Jodi. Sinta mengangguk perlahan.


"Mau pulang ?" tanya Pak Jodi.


Sinta menggeleng.


"Kalau di sini terus, nanti kalau ada yang tahu bisa datang banyak fitnah."


"Aku kan pakai baju nyamar."


"Walau begitu, tetap saja. Mana ada lelaki menangis seperti tadi." kata Pak Jodi selanjutnya.


"Kalau belum ingin pulang, Kita jalan-jalan saja ke kota. Atau ke pantai."


"Oke. Kita ke kota saja ya. Makan dulu. Tadi aku belum sempat mencicipi makanan."


"Maaf pak. Jadi merepotkan Pak Jodi." kata Sinta.


"Sudah. Tidak perlu basa basi begitu. Aku pernah muda dan pernah mengalami sakit hati juga. Aku bisa mengerti yang kamu rasakan."


Mobil sedan itu melaju meninggalkan perbukitan desa. Meliuk-liuk mengikuti lukisan jalan menuju ke sebuah pisat perbelanjaan di kota. Mereka menuju ke sebuah restoran.


"Mau makan apa ?" tanya pak Jodi.


"Terserah Bapak saja." jawab Sinta.


Pak Jodipun segera memesan makanan. Senyum Pak Jodi mengembang melihat Sinta makan begitu lahap. Mungkin untuk menutupi kegundahan dihatinya. Selesai makan Sinta belum mau pulang. Masuk toko yang ini, keluar menuju ke toko yang itu.


"Pilih saja yang Kamu suka Sin. Nanti bapak yang bayar. Tenang saja." kata Pak Jodi menawarkan.


Namun tawaran itu tak ada artinya. Sinta terus berjalan dan berjalan. Berjalan dan tak ingin berhenti.


Mengikuti langkah Sinta yang tak kenal lelah, akhirnya pak Jodi menyerah.


"Belum mau pulang Sin ?" tanya pak Jodi kelelahan.


"Bapak capek ya ?" balas Sinta.


"Bukan itu yang kurisaukan. Tapi Kakek dan Nenekmu. Pasti mereka kebingungan karena tak mendapati kamu di rumah. Tadi pergi tidak pamit kan ?" jelas Pak Jodi.


"Biar saja pak. Kakek dan Nenek kan sudah tidak peduli sama aku."


"Ya nggak begitu lah. Hanya karena mencegah kamu datang ke pesta pernikahan Tono, kamu langsung berkesimpulan begitu."


Sinta terdiam. Apa yang dikatakan Pak Jodi ada benarnya. Tanpa disadarinya air mata yang tadi sempat mengering menetes lagi.

__ADS_1


"Lho, kok malah menangis lagi ?" kata pak Jodi.


__ADS_2