Senandung Cinta Gadis Desa

Senandung Cinta Gadis Desa
Bagian 16


__ADS_3

Aktivitas Sinta dan Jodi terhenti manakala terdengar suara tangis Dio yang bangun dari tidurnya. Untungnya hasrat mereka telah tersalurkan dengan tuntas. Disisa-sisa aktivitasnya itulah tangis Dio terdengar. Sinta segera menggendong Dio dan membawanya pulang.


Namun, langkahnya terhenti ketika di depan rumahnya, Sinta melihat Tono. Seperti yang dikatakan oleh Dirjo, Tono akan segera menemuinya. Sinta segera membalikkan tubuhnya tapi keburu ketahuan Tono.


"Sin." panggil Tono. Sebenci-bencinya Sinta pada Tono namun tak pernah dipungkiri pernah mewarnai hari Sinta. Hatinya campur aduk antara marah, benci dan rasa rindu yang mendalam.


Perlahan Sinta membalikan tubuhnya.


"Kak Tono. Ada perlu apa ?" kata Sinta.


"Aku ingin ketemu kamu Sin." kata Tono sedikit bergetar.


Sinta melangkah menuju ruang tamu diikuti Tono. Dio digendongnya dalam pelukannya.


"Itu anak kita Sin ?" tanya Tono.


"Anak kita ? Apa maksudnya ?" tanya balik Sinta sedikit sewot.


"Bukankah waktu itu kamu sedang hamil ?" kata Tono.


"Memang, tapi tidak serta merta kamu menyimpulkan ini anak kita." jawab Sinta.


"Lalu anak siapa ? Kamu sudah menikah lagi ?" tanya Tono semakin ingin tahu.


"Kak Tono tidak perlu tahu." sanggah Sinta.


"Masa aku tidak boleh tahu tentang anakku ?" protes Tono.


"Kak Tono menikah dengan Lastri, meninggalkan aku begitu saja. Apa masih kurang untuk memberikan alasan." kata Sinta.


Tono terdiam.


"Aku salah Sin. Aku mohon maaf." kata Tono menghiba.


"Kak Tono sebaiknya pulang atau aku akan berteriak kencang." kata Sinta.


"Tapi Sin."


"Kak Tono punya keluarga. Sebaiknya cepat pulang. Tidak baik dilihat orang." tegas Sinta sekali lagi.


"Tapi Sin."


"Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan." kata Sinta tegas sambil masuk ke kamar. Di tutupnya pintu kamar setengah di banting.


Tono kaget. Ia baru sadar keseriusan dan kemarahan Sinta.


"Aku pamit Sin. Nanti balik lagi."


Sinta hanya terdiam di balik pintu tanpa mengucapkan sepatah katapun. Air matanya menetes mengingat peristiwa yang baru saja terjadi. Dipeluknya Dio erat-erat seolah takut anak itu hendak direbut Tono.


Sinta terduduk di balik pintu sembari memeluk Dio dalam waktu yang lama. Duduk terdiam bengong. Pikirannya sedang berkecamuk. Antara kemarahan dan kerinduan dalam hatinya. Bagaimanapun Tono pernah membuat hatinya berbunga-bunga. Membuatnya seperti terbang ke awang-awang dengan apa yang pernah Tono lakukan. Walaupun itu sudah berlalu, tetapi tetap saja terukir indah di hati Sinta.


"Sin ! Sin !" terdengar suara Kakek memanggil.

__ADS_1


"Iya Kek." sahut Sinta sambil menghapus air mata. Sinta berusaha tampil seceria mungkin.


Sinta menemui kakeknya sambil menggendong Dio.


"Sin, ada yang hendak Kakek sampaikan."


"Iya Kek." jawab Sinta duduk di depan Kakeknya.


"Tadi, Kakek ketemu dengan bapaknya Dirjo. Intinya mau melamar kamu untuk dinikahkan dengan Dirjo." kata Kakek.


Sinta terkejut. Tak mengira Dirjo senekad itu.


"Bagaiman Sin ? Kamu terima lamaran Dirjo ?" tanya Kakek.


"Maaf kek. Sinta tidak bisa." tolak Sinta.


"Masih bagus ada yang melamar kamu. Ada yang bertanggung jawab dengan kehidupan kamu. Coba lihat kamu sekarang. Punya anak tidak ada bapaknya. Warga desa sudah pada membicarakan kamu. Apa kamu tidak malu ? Dirjo bisa menyelamatkan muka kamu." kata Kakek dengan nada tinggi.


"Sinta tidak bisa kek." jawab Sinta sekali lagi.


"Tidak bisa. Apa yang ada di otak kamu. Punya anak tidak punya suami. Kakek mau tanya. Anak siapa ini ? Tadi Kakek dengar kamu ngobrol dengan Tono, katanya Dio bukan anaknya. Lalu anak siapa ? Kamu hanya menikah dengan Tono. Coba jelaskan !" kata kakek dengan nada semakin tinggi.


Sinta diam saja.


"Sudah bagus ada laki-laki yang mau menerima kamu apa adanya." kata kakek selanjutnya.


"Tapi, Sinta tidak cinta Kek."


"Cinta ? Lihat lelaki yang kamu cintai ! Sekarang malah menikah dengan perempuan lain. Itu yang namanya cinta. Melumurkan kotoran di wajah keluarga kita." kata kakek semakin marah.


Sinta diam saja, air matanya mulai menetes.


"Jangan-jangan kamu jadi penjaja cinta. Lalu melahirkan anak haram ini." kata Kakek geram.


"Kakek !" kata Sinta histeris. Lalu Sinta masuk kamar. Menangis sejadi-jadinya.


Kakekpun lalu pergi. Entah kemana. Begitu kakek menghilang, Sinta segera mengadu ke Jodi.


"Ha ha. " kata Jodi sambil tertawa.


"Bapak kok tertawa. Tidak lucu." jawab Sinta sewot.


"Haduh Sin. Makanya kalau bukan artis jangan suka akting." jawab Jodi santai.


"Istrinya dikatakan l0nte malah tertawa." kata Sinta cemberut.


"Perempuan punya anak tanpa ada suami, mau disebut apa lagi ? Cara berfikir kakekmu sudah benar. Mungkin kita yang harus mawas diri." ujar Jodi.


"Kita pulang ke kota saja yuk ! Status kita jelas. Pak RT yang menikahkan kita. Lagi pula, di sana orang-orangnya tidak seusil orang desa." usul Jodi.


Sinta terdiam. Dia dulu ingin pulang ke desa untuk mencari kedamaian, malah jadi ribet begini.


Pembicaraan mereka terdiam karena Dio menangis. Mereka akhirnya sibuk menenangkan Dio.

__ADS_1


 


Keesokan harinya.


"Sin. Sinta. Ini ada tamu." teriak Kakek pada Sinta.


Sinta keluar dari kamarnya. Dilihatnya ada pak Dukuh, pak RT dan aparat lainnya. Sinta kebingungan.


"Ada apa ini pak ?" tanya Sinta.


"Tuh pak RT. Silahkan tanya langsung saja." kata Kakek seperti menahan amarah.


"Begini nak Sinta. Kita mau pendataan penduduk. Nak Sinta kan tercatat penduduk desa ini dengan KTP yang ada. Kita hanya mendata. " kata pak RT.


"Bisa melihat KTPnya nak ?" tanya pak RT.


Sinta memberikan KTPnya.


"Lha ini masalahnya. KTP nak Sinta kan lajang, lalu bagaimana dengan anak ini. Statusnya bagaimana ? Ada sertifikat lahir ?" tanya pak RT.


"Ada pak." jawab Sinta.


"Lha. Ada begitu kok. Sini saya data. Yang pasti belum masuk Kartu Keluarga ya ?" tanya pak RT lagi.


"Sebentar saya ambil." kata Sinta. Sinta lalu bergegas keluar rumah menuju ke tempat Jodi.


"Mau kemana ?" tanya nenek Sinta.


"Saya ambil berkas-berkasnya di tempat pak Jodi." kata Sinta.


"Kalau begitu biar Dio sama saya saja." balas Nenek. Diopun digendong sama Nenek.


Bergegas Sinta ke tempat Jodi. Ditemuinya Jodi lagi masak di dapur.


"Eh Sinta. Dio kok nggak diajak ?" tanya Jodi.


"Bapak sekarang ke rumah saya, bawa berkas-berkasnya !" kata Sinta gugup.


"Berkas apa ?" tanya Jodi pura-pura bego. Padahal Ia sudah tahu, pasti masalah status pernikahan dan status Dio. Tapi Jodi pura-pura bego, biar Sinta merasakan apa yang sudah menjadi keinginannya.


"Berkas-berkasnya ada dimana ?" tanya Sinta sekali lagi.


"Di kamar. Di lemari." jawab Jodi dengan enteng.


Bergegas Sinta ke kamar Jodi. Dicarinya berkas-berkas itu, tapi tak ketemu.


"Dimana pak ?" teriak Sinta.


"Sabar kenapa sih. Aku lapar nih. Belum makan. Mana Kakek dan Nenek, dari tadi aku menunggu tidak kunjung kesini." kata Jodi.


"Cepat pak, ditunggu pak RT dan pak Dukuh !" kata Sinta.


"Ya ampun, terjadi lagi peristiwa yang dulu." kata Jodi dengan senyum kecil.

__ADS_1


"Nggak lucu." kata Sinta.


__ADS_2