
Sinta terus berlari. Walaupun kakinya sudah pegal dan sakit, ia terus berlari. Secercah harapan tiba-tiab muncul ketika didapatinya sebuah mobil pickup mengangkut sayuran.
"Permisi pak, boleh numpang tidak pak ?"
"Mba mau kemana ?" tanya sopir.
"Ke pasar pak."
"Naik mba. Di belakang ya !"
Segera mobil itu bergerak meninggalkan daerah itu. Sinta berbaur dengan ibu-ibu di dalam mobil pickup. Mobil itu melaju. Dari kejauhan Sinta melihat anak buah Tono berkeliaran di sekitar mobil tadi parkir. Sinta menghela nafas lega.
"Mba mau kemana ? Seperti mau kondangan." tanya salah seorang ibu.
"Iya bu. Mau kondangan malah ketinggalan. Dikejar ndak dengar." kata Sinta mengarang cerita.
"Ealah, sampai dandanannya luntur gitu." celetuk yang lain.
Setelah menempuh perjalan seberapa lama, sampailah mobil pickup itu di pasar. Sinta betul-berul tidak mengerti daerah mana ini. Tidak ada satu orangpun yang dikenalnya. Daerah itupun tidak diketahuinya.
"Terima kasih ya pak." kata Sinta sambil hendam memberikan uang sekedarnya.
"Tidak usah mba. Wong mba tadi naik di belakang kayak yang lain." tolak sopir saat Sinta hendak memberi ongkos.
Sinta melangkah tak tentu arah. Di berjalan mengikuti kata hatinya. Yang penting bisa jauh dari Tono. Dia melangkah menjauhi pasar. Menuju tempat sepi. Jarang orang lalu lalang disitu. Langkah kaki Sinta terseok-seok. Tubuhnya mulai lunglai.
Tak jauh dari Sinta melangkah terlihat sebuah sungai yang jernih. Sejernih air sungai di desanya. Ingatan Sinta masih terukir kuat, saat ia dan Diah main air sungai. Sungguh segar dan membahagiakan. Segera Sinta menuju sungai itu. Dibasuh mukanya dengan harapan biar mengembalikan tenaga yang telah terkuras.
Namun, bagaimanapun Sinta telah mengeluarkan energi begitu besar. Ia berlari sekuat tenaga dan menerjang rintangan batuan dan duri, energi Sinta terkuras habis. Perlahan pandangannya mulai menguning, memburam dan akhirnya Sinta jatuh tak sadarkan diri.
Tergeletak di semak-semak dekat sungai. Jatuh tak sadarkan diri. Tempat sepi. Tak ada seorangpun yang menolong Sinta. Permintaan tolongpun tak terdengar, ditengah kesunyian tempat itu. Sinta tergeletak tak berdaya. Tak bangun-bangun. Tak ada yang menolong.
Tiba-tiba mata Sinta membuka perlahan. Hidungnya mulai mencium bau harum. Tapi, tunggu. Itu bukan lagi di semak. Dibukanya mata lebar-lebar. Sebuah kamar rapi dan baunya harum tercium di hidungnya.
"Apa aku sudah mati ? Apa alam yang berbeda ? Tadi terduduk di samping sungai." batin Sinta.
Saat dalam kebingungan, tiba-tiba terdengar sebuah teriakan.
"Mama, tante itu sudah bangun." teriak seorang bocah kecil memberitahu ibunya.
__ADS_1
Tak seberapa lama terdengar langkah kaki mendekati Sinta.
"Oh, mba sudah bangun ?" tanya seorang perempuan tua pada Sinta.
"Saya dimana ?" tanya Sinta.
"Mba di rumah kami. Tadi Jason menemukan mba pingsan di dekat sungai. Tuh, disitu." kata perempuan tua itu lagi.
"Oh. Terima kasih atas pertolongannya bu." kata Sinta.
"Maya. Panggil saja Bu Maya." jelas perempuan itu.
"Saya hendak diperkosa Bu. Saya berlari untuk menghindar, sehingga kehabisan tenaga dan pingsan di pinggir sungai. Saya berusaha untuk membasuh muka dan minum waktu itu." cerita Sinta yang tidak mau berterus terang bercerita tentang kejadian yang menimpa dirinya.
"Oh ya. Memang banyak orang jahat sekarang. Makanya Jason jangan main jauh-jauh dari rumah, banyak orang jahat." kata bu Maya.
"Baik mama." jawab Jason. Seorang bocah lelaki kecil yang menggemaskan.
Memandang Jason, Sinta teringat pada anaknya yang dititipkan di panti Asuhan. Pasti sekarang sudah sebesar Jason. Air matanyapun menetes. Tapi apa daya, saat ini dia hanya mampu tergeletak di atas ranjang rumah bu Maya. Harapan indah bisa berpesta di pernikahan Dirjo dan Diah pupus sudah. Ia tidak mengenal daerah, bagaiamana hendak pulang. Sekujur tubuhnya pegal-pegal dan sakit.
Sinta menangis lirih. Air matanya terus mengalir. Akhirnya tertidur.
"Dio. Dio." panggil Sinta lirih.
"Apa aku sudah kembali ke rumah ? Apa aku bermimpi ? Aduh, bagaiman Dio ?" jerit batin Sinta.
"Eh, Tante. Bangun lagi." kata bocah kecil di samping Sinta. Ternyata Jason.
"Jason, kenapa tidur di sini ? Tidak bobo sama mama ?" tanya Sinta.
"Jason pengin bobo sama Tante." jawab Jason singkat.
"Boleh kan Tante ?" tanya Jason selanjutnya.
"Ya, tentu saja boleh. Tante jadi punya teman." kata Sinta.
"Terus bu Maya kemana ?"
"Mama bobo sama papa. Jason kan kalau tidur sendiri. Tidak sama mama dan papa." jelas Jason.
"Oh, begitu. Ya udah. Bobo sini saja. Sini Tante peluk." kata Sinta sambil memeluk Jason. Berangsur-angsur kondisi Sinta semakn membaik. Apalagi setelah tidur beberapa saat, tenaga Sinta serasa pulih kembali. Hanya sakit di kaki yang tertusuk duri dan batu saja belum pulih sepenuhnya.
__ADS_1
Tidur Jason sangat nyenyak di pelukan Sinta. Kayaknya anak ini kurang dapa t kasi sayang dan perhatian dari Bu Maya dan Suaminya. Kayaknya Jason bukan anak kandung mereka. Kalau melihat dari usia, Jason layak menjadi cucunya.
Pagi hari, Sinta bangun sudah pulih sepenuhnya. Tenaga dan fikirannya sudah kembali seperti sedia kala. Pagi itu, Sinta membantu bu Maya memasak di dapur.
"Oh, ini yang namanya Sinta." tanya suami bu Maya saat bertemu Sinta di dapur.
"Betul pak." jawab Sinta sambil menganggukkan kepalanya.
"Saya Rejo. Suaminya Maya."
Mereka berkenalan.
"Oh ya, sebetulnya di rumah ini ada satu orang lagi. Parno. Tukang kebun dan bantu-bantu yang lainnya. Cuma tidak menginap di rumah ini. Pulang kalau sore. Ada istri dan anaknya." kata pak Rejo selanjutnya.
"Bagaimana ? Sudah pulih kondisi tubuhnya ?" tanya pak Rejo.
"Akhamdulillah, sudah pak. Setelah istirahat semalam, tenaga saya sudah pulih." kata Sinta menjelaskan.
"Tadi malam bisa tidur ? Kata Maya diganggu Jason. Jason tidur sama kamu semalam." kata pak Rejo.
"Betul pak, Jason tidur sama saya semalam. Tidak menganggu. Malah tidurnya pulas sekali." jelas Sinta.
"Syukurlah kalau begitu. Bagaimana Jason, enak tidur sama tante Sinta ?" tanya pak Rejo sambil tersenyum.
"Enak Pa, anget. Dipeluk sama tante Sinta." jawab Jason.
"Wah, jadi ketagihan Jason ini." kata pak Rejo sambil tertawa.
"Boleh ndak Pa, nanti malam tidur sama Tante lagi ?" tanya Jason penuh harap agar dikabulkan.
"Tentu saja Jason. Boleh kok." jawab pak Rejo sambil tertawa.
"Asyik. Terima kasih ya Pa." jawab Jason sambil jingkrak-jingkrak gembira.
"Tapi, Tante Sinta mau tidak tidur sama Jason." ledek pak Rejo.
"Pasti mau." jawab Jason.
"Sudah. Sudah. Ini Sinta lagi bantuin Mama masak. Jangan diganggu terus. Nanti ngobrolnya diteruskan." kata bu Maya.
Mereka semua tertawa. Kehadiran keluarga baru ini mampu menjadi obat sementara Sinta.
__ADS_1