Senandung Cinta Gadis Desa

Senandung Cinta Gadis Desa
Bagian 3


__ADS_3

Malam hari, di hari yang sama.


Suasana desa Indragiri dimalam hari begitu sunyi. Meski listrik telah menerangi seluruh wilayah desa Indragiri, namun suasana pedesaan masih mendominasi. Tidak ada hingar bingar musik. Lampu yang menyalapun hanya untuk penerangan jalan. Tidak berlebihan. Justru kondisi seperti itu yang membuat suasana menjadi syahdu, teduh dan desa jadi indah.


Selepas sholat magrib dan mengaji, Santi bersiap hendak pergi ke pertemuan karang taruna. Malam ini ada pertemuan untuk membahas acara kegiatan remaja akhir tahun dan pemilihan ketua panitia. Biasanya acara akhir tahun pemuda dan pemudi Indragiri diisi dengan rekreasi atau studi banding. Pada pertemuan malam ini akan ditentukan apa yang akan dilakukan oleh mereka untuk mengisi acara akhir tahun dan menyonsong tahun yang baru serta siapa yang menjadi ketua panitia.


Sinta sibuk di depan cermin. Merapikan rambutnya dan mengepang jadi dua. Tanpa memakai make up, wajah Sinta sudah cantik. Diliriknya jam di dinding. Rupanya Sinta sedang menunggu Diah.


Tak seberapa lama, terdengar seseorang memanggil.


“Siinnnn ttaaaa.” panggil Diah dari depan rumah.


“Iya. “ jawab Sinta. Sinta meloncat dari tempat duduknya dan berlari menghampiri Diah. Neneknya cuma menggelengkan kepala melihat kelakuan Sinta.


“Aku pergi dulu nek. Ada undangan pertemuan karang taruna.” ujar Sinta sambil salaman dengan Nenek.


“Ya, hati-hati. Jangan terlalu malam pulangnya !” ingat Nenek.


“Baik nek. Nggak usah kuatir, Aku bareng Diah kok.” terang Sinta.


“Pergi dulu nek.” pamit Sinta.


“Pamit nek.” lanjut Diah.


“Iya. Hati-hati jangan terlalu malam.” pesan Nenek.


Mereka berdua berbegas menuju balai desa. Tentu saja masih menggunakan sepeda. Sepeda tanpa lampu, sehingga Sinta harus mengarahkan senternya ke depan. Suasana jalan desa di malam hari membuat laju sepeda Diah terseok-seok, terombang ambing ke kanan dan ke kiri menghindari batu. Kadang ada kubangan air yang menghalangi laju sepeda, karena tidak terlihat tetap dilalui. Sontak saja airnya muncrat ke arah mereka.


“Diah ! hati-hati gowesnya ! Basah.” teriak Sinta tatkala sepeda Diah menghajar kubangan air.


“Maaf, ndak kelihatan. Gelap. Makanya pegang senternya yang bener.” timpal Diah.


“Wuufff.” celetuk Sinta.


Beruntung jarak rumah dengan balai desa tak begitu jauh sehingga perjalanan malam yang penuh perjuangan tak berlangsung lama. Merekapun segera sampai. Suasana di balai desa sudah ramai. Sudah banyak muda-mudi berkumpul, berbincang-bincang kesana kemari. Mereka berbincang-bincang, kadang tertawa cekikikan. Sebagian besar dari mereka adalah ABG jadi pembicaraannya nyambung dan saling sahut-menyahut.


Begitu sampai Sinta dan Diah langsung gabung dengan mereka. Karena seusia dengan cepat Sinta dan Diah membaur. Meriah sekali suasana malam ini. Diah tiba-tiba melihat kelebat bayangan seorang pemuda ganteng.


“Sin. Tono tuh !” bisik Diah sambil menunjuk ke seorang lelaki ganteng.


Sinta memalingkan muka sebentar, lalu tertunduk malu. Ada deru ombak samudra bergejolak di hatinya. Semakin lama semakin terasa tatkala matanya mencoba melirik Tono lagi.


“Cie. Cie. Deg deg pyur pasti di dada.” celetuk Diah.

__ADS_1


Kontan saja Sinta mencubit pinggah Diah. Merekapun tertawa lepas bersama.


“Sin. Yah. Sudah lama datang ?” sapa seseorang. Belum kelihatan jelas wajahnya karena datang dari arah belakang. Tapi, Sinta merasakan sesuatu yang berbeda di hatinya. Secepatnya ia menoleh. Betul kan ? Tak disangka-sangka Tono menghampiri mereka.


Mulut Sinta bergerak ingin menjawab tapi tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut. Bibirnya hanya bergetar perlahan.


“Baru saja kok Ton.” sahut Diah mencairkan suasana. Mata Diah melirik ke Sinta, masih terlihat bibirnya yang bergetar pelan dan perlahan warnanya memucat.


Untung suasana malam hari jadi perubahan mimik Sinta tidak begitu kentara.


“Masuk yuk ! Kita mulai rapatnya.” ajak Tono.


Kedua gadis itu mengangguk. Segera mereka melangkah menuju ruang rapat di balai desa.


Ruangan itu sudah penuh dengan puluhan pemuda dan pemudi. Mereka sudah duduk sesuai dengan selera masing-masing. Diah dan Sinta memilih untuk duduk di pojok belakang. Tampak Lastri duduk di depan berhadapan dengan Tono. Sekilas Lastri terlihat cantik, namun kalau dibadingkan tentu saja masih cantik Sinta.


“Lastri di depan Tono tuh !” bisik Diah sembari menunjukkan jari ke arah Lastri.


Sinta terdiam. Ada sebersit rasa cemburu dalam hatinya. Ada juga rasa sesal mengapa tadi tidak memilih duduk di depan sehingga bisa sepuasnya berada di dekat Tono. Tapi, seperti kata pepatah, pikir dulu pendapatan sesal kemudian tiada berguna. Mereka berduapun duduk di pojok belakang dengan sedikit penyesalan.


Suara riuh rendah terdengar di ruang rapat balai desa. Rapat belum dimulai. Mereka asyik bercanda dan berbincang sepuas hatinya. Kadang suara tawanya terdengar menggaung di seluruh ruangan. Lebih tepatnya bising. Itulah masa remaja. Masa yang masih penuh dengan kegembiraan dan keceriaan. Belum nampak bagi mereka beban hidup karena masih jauh tertutup kabut di balik lembah.


“Teman-teman, mohon perhatiannya !” teriak Jaya sekretaris pemuda karang taruna.


“Rapat akan segera Kita mulai.” ulangnya.


“Agenda malam hari ini adalah membahas kegiatan Kita di akhir tahun. Selanjutnya memilih ketua panitia kegiatan tersebut.” lanjut Jaya.


“Teman-teman, segera saja Kita mulai diskusi penentuan kegiatan Kita akhir tahun. Ada usul ?” tanya Jaya sekali lagi.


“Studi Banding saja. Kita lihat peternakan lebah. Siapa tahu bisa menirunya di sini.” usul Kirno.


“Rekreasi saja. Menghilangkan suntuk. “ usul Endah.


“Ada usul yang lain ?” tanya Jaya.


“Bagaimana kalau Kita rekreasi ke pantai. Nanti studi banding ke tambak udang. Jadi refreshingnya kena. Studi bandingnya kena ?” usul Gayatri.


“Ide bagus itu.” timpal sebagaian yang lain.


Suasana jadi ramai dengan diskusi masing-masing. Masing-masing meyakinkan teman-teman di sekitar tentang usul-usul yang disampaikan. Semakin lama semakin ramai. Semakin keras pula diskusi mereka.


“Apa usulmu Sin ?” bisik Diah.

__ADS_1


“Ikut saja.” jawab Sinta.


“Ayo usul Sin. Biar bisa kontak dengan Tono.” lanjut Diah.


“Siapa tahu bisa jadi harapan.”


“Harapan apa ?” sahut Sinta.


“Harapan bisa berduaan dengan Tono.” terang Sinta.


“Nggak lucu.” jawab Sinta sambil memonyongkan bibirnya.


“Emang gak lucu, kalau lucu aku ketawa. Ha ha ha.” timpal Diah.


Sinta terdiam.


“Kalau kamu penginnya kemana Yah ?” tanya Sinta.


“Hmmm. Kasih tahu nggak ya ?” goda Diah.


“Weeeeeek.” balas Sinta.


“Kamu ada yang ditaksir nggak Yah ? Mumpung ada kesempatan nih ?” serangan balik Sinta.


“Nggak ah. Malas. Masih pengin sendiri.” jawab Diah.


“Kirjo ganteng juga tuh.” bisik Sinta.


“Iiiiih. Sin. Gak lucu.” teriak Diah sembari mencubit pinggang Sinta.


“Auw.. Yah. Sakit.” pekik Sinta.


“Biar. Biar kedengaran Tono. Nanti kan kesini.”


“Ah, Diah rese.” umpat Sinta.


Sementara itu Jaya pemimpin rapat mulai berbicara lagi.


“Teman-teman. Bagaimana kalau Kita ke pantai saja. Sesuai usul Gayatri. Selain bisa rekreasi Kita bisa juga belajar banyak tentang perikanan.” kata Jaya.


Lagi-lagi disambut dengan suara riuh rendah peserta rapat. Namun, sudah tak ada lagi yang berani usul.


“Baik. Kayaknya Kita putuskan untuk jalan-jalan ke pantai saja.” lanjut Jaya.

__ADS_1


Peserta rapat sudah tidak ada yang menanggapi. Akhirnya diputuskan untuk berekreasi ke pantai sembari studi banding di tambak udang.


Waktu sudah menunjukkan pukul 8.00 wib, tapi rapat belum selesai. Agenda selanjut adalah menunjuk ketua panitia rekreasi.


__ADS_2