Senandung Cinta Gadis Desa

Senandung Cinta Gadis Desa
Bagian 23


__ADS_3

Berhari-hari pencarian Sinta dilakukan, namun tak membuahkan hasil. Sinta seperti ditelan bumi. Sinta seperti diselimuti sebuah dinding yang membuatnya sulit ditemukan. Anak buah Jodi sudah kehabisan tenaga. Begitu juga dengan Jodi. Akhirnya mereka memilih pulang.


Sementara itu, Sinta di rumah Rejo diperlakukan seperti saudara jauh yang baru tiba. Disambut dengan hangat. Diperlakukan dengan penuh kemesraan. Apalagi Jason, semenjak Sinta tiba Jason begitu lengket dengan Sinta. Rasanya tak ingin sedetikpun mau berpisah dengan Sinta.


"Nte Sinta, sebentar lagi Om Danu akan datang." lapor Jason pada Sinta saat mereka sedang sarapan siang bersama.


"Anak saya mba Sin. Dia suka jalan-jalan. Berpetualang. Sudah bosan mungkin, jadi mau pulang." kata Istri pak Rejo.


"Ya tidak bosan lah Bu. Kangen sama orang tuanya lah." kata pak Rejo.


"Kangen Pak ? Sejak kapan ceritanya."


"Hush. Ibu kok ngomong begitu." tegur pak Rejo.


"Om Danu ganteng lho Nte. Tante pasti suka nanti." kata Jason.


Sinta cuma tersenyum tipis. Kedatangan Danu diharapkan memberikan secercah harapan. Selama di sini, belum ada satupun orang yang membantu Sinta untuk kembali. Termasuk tetangga yang Sinta tanyai. Mereka rata-rata tidak mengetahui bagaimana harus menemukan rumahnya.


Seusai makan siang Sinta rebahan sambil ditemani oleh Jason. Jason jadi seperti anaknya Sinta. Begitu akrab dan mesra merek berdua.


"Tante kenapa, kok kelihatan sedih begitu ?" tanya Jason.


"Tante ingat sama Dio. Anak tante." jawab Sinta.


"Anak tante ada berapa ?" tanya Jason.


"Satu. Dio." jawab Sinta dengan dada bergemuruh hebat.


"Anak tante ada dua." batin Sinta meralat jawabannya.


"Oh. Pasti senang jadi anak tante." kata Jason.


"Kok Jason bisa menyimpulkan begitu ?" tanya Sinta balik.


"Saya gak tau. Tapi rasanya nyaman di dekat tante. Pasti Dio senang punya Ibu seperti tante." lanjut Jason.


Mendengar kata-kata Jason, Sinta memeluk bocah itu dengan erat. Jasonpun membalas pelukan Sinta tak kalah eratnya.


"Tante, nanti kalau tante pergi dari sini, aku ikut tante ya ?" pinta Jason.


Sinta terkejut mendengar kata-kata anak itu. Pasti ada yang tidak beres pada keluarga Rejo. Selama ini keluarga itu terkesan harmonis. Tapi itu yang terlihat di mata.


"Jason tidak suka tinggal di sini ?" tanya Sinta berbisik.

__ADS_1


Jason menggeleng perlahan.


"Tapi jangan di omongkan sama Bu Rejo ya tante !" pinta Jason lirih.


"Tentu. Tentu saja. Akan menjadi rahasia kita berdua." bisik Sinta.


"Terima kasih."


Tiba-tiba dari luar rumah terdengar suara mobil.


"Itu pasti Om Danu." kata Jason malas.


"Lho, kok gak suka pada Om Danu ?" tanya Sinta penuh selidik.


Jason menggeleng pelan.


"Jason ! Jason ! Ini lho ada Danu. Ayo sini !" teriak Bu Rejo.


Jason segera menemui Danu.


"Hai Jason. Apa kabar ?" kata Danu sambil memeluk Jason. Jasonpun memeluk Danu.


"O ya, ada lagi yang perlu dikenalkan." kata bu Rejo.


"Ini Sinta." kata bu Rejo memperkenalkan.


Sinta dan Danu berkenalan dengaa saling menjabat tangan.


"Sinta." kata Sinta memperkenalkan diri.


"Danu." begitu pula dengan Danu.


"O ya, aku sudah mendengar dari Ibu cerita tentang Sinta. Aku turut prihatin." kata Danu.


"Terima kasih Mas." kata Sinta.


"Panggil namanya saja. Danu. Itu lebih enak di telinga." usul Danu.


"Baik Dan." ujar Sinta.


"Nah, itu lebih baik." kata Danu sambil tertawa renyah.


"Masak apa Bu ?" tanya Danu sambil menuju ke meja makan.

__ADS_1


"Lihat saja. Ayo ! Jason ! Sinta ! Ayo !" kata Bu Rejo.


Mereka makan siang bersama. Melihat sikap Danu, tak perlu ada yang dikuatirkan. Tapi, melihat sikap Jason pada keluarga ini, Sinta menjadi waspada. Apalagi semenjak kedatangan Danu, sikap Jason menjadi sedikit ketakutan. Walaupun Jason berusaha menyembunyikannya.


Waktu bergulir terus. Siang telah pergi. Malampun menjelang.


"Malam ini, Jason tidur sama Om ya !" kata Danu.


"Tidak, saya sama tante saja." kata Jason menolak.


"Jason, Om kan kangen sama kamu. Lagi pula Om punya oleh-oleh mainan buat Jason." kata Danu sambil menggendong Jason. Ada penolakan kecil, tapi apalah artinya kekuatan Jason yang masih kecil dibandingkan dengan tenaga Danu.


Sinta masih melihat pandangan kecewa Jason. Tapi, Dia juga tidak mampu berbuat apa-apa. Lagipula Sinta belum menemukan sesuatu yang aneh, selain sikap Jason.


"Semoga semua baik-baik saja." batin Sinta.


Setelah Jason pergi ke kamar Jodi, Sinta segera merebahkan diri di kamar. Biasanya di kamar itu Ia tidur bersama dengan Jason. Kali ini Sinta tidur sendirian. Namun, sudah beberapa saat Sinta belum juga tertidur. Hawa malam ini terasa panas tidak seperti biasanya. Sinta betul-betul gerah. Apalagi tidak ada AC ataupun kipas angin. Mau buka jendela, Sinta enggan melakukannya. Itu sangat beresiko.


Sintapun melepas bajunya. Kini, Ia hanya mengenakan pakaian dalam. Ia hanya mengenakan BH dan ****** *****. Rupanya dengan hanya mengenakan pakaian dalam bisa mengurangi rasa panas yang dirasakan tubuhnya.


Sinta merebahkan tubuhnya dalam posisi terlentang. Sungguh, posisi itu mempertontonkan Sinta menjadi sangat seksi. Betul-betul wanita cantik sempurna seperti istri Rama Wijaya dalam tokoh wayang. Perlahan Sinta mulai mengantuk dan tertidur.


Rupanya, kondisi kamar Sinta menjadi panas itu ulah Danu. Dengan pengalamannya yang luas di dunia luar, bukanlah hak sulit untuk melakukan hal itu. Danupun sudah mengira-ira apa yang akan Sinta lakukan. Sesuai dengan perkiraan Danu, kini Ia bisa melihat Sinta hanya mengenakan pakaian dalam. Danu sudah mempersiapkan semuanya sehingga ia bisa melihat Sinta dalam kamarnya dengan jelas walaupun dengan penerangan lampu tidur.


Nafsu birahi Danu mulai melonjak, melihat posisi Sinta tertidur. Danu mengamatinya dari tempat yang tak terlihat dengan nafas memburu. Ingin rasanya Ia masuk ke kamar Sinta dan menemaninya tidur. Tapi, Danu tak mau melakukan itu. Kayaknya Ia cukup terbiasa untum melakukan hal-hal seperti itu pada wanita yang didambakannya.


Posisi tidur Sinta yang semakin menantang membuat nafas Danu semakin memburu.


"Oh Sin, seandainya tidak di rumah orang tuaku, ceritanya akan berbeda." batin Danu.


Rupanya selain mengintip Sinta, Danu juga berusaha merekam Sinta. Menggunakan kamera yang bagus sehingga di dapat sudut yang bagus.


Asyik sekali Danu melakukan aksinya. Aksi antara ketegangan dan nafsu birahi. Namun, ada yang dilupakan oleh Danu, Jason ditinggalnya sendirian di kamar.


Tok. Tok. Tok. Ada ketukan di kamar Sinta.


Danu terkejut, "Siapa yang mengetuk kamar Sinta."


Tok. Tok. Tok. Berulang lagi ketukan pintu Sinta.


"Tante ! Tante ! Tante ! Bukan pintunya ! Ini Jason." kata Jason berusaha membangunkan Sinta.


"Asem betul ini bocah kecil, mengganggu saja." batin Danu.

__ADS_1


__ADS_2