
Sementara itu, semenjak kepergian Sinta dan Satria, Jason sering duduk termenung. Dia selalu menunggu kedatangan mereka berdua.
"Tidak usah ditunggu Son. Satria memang biasa berkelana. Mungkin kali ini mengajak Sinta. Sudah, kamu di sini saja sama Nenek." kata nenek saat Jason termenung di depan pintu menunggu Sinta.
Sehari setelah Sinta dan Satria tidak kembali, Jason minta ijin nenek mencari Satria dan Sinta. Pencarian dimulai dengan melihat jejak kuda yang dikendarai oleh mereka. Pencarian dilakukan Janson dengan berjalan kaki.
Saat itu jejak kaki kuda masih terlihat dengan jelas. Jason menyusuri jalan yang terdapat jejak kaki kuda. Tak lelah Ia melangkah untuk menemukan Sinta. Bila telah dirasa lelah, Jason berhenti sebentar untuk melepaskan lelah. Setelah beberapa saat melangkah, sampailah Jason di tempat Sinta jatuh. Namun, Dia tidak menemukan Sinta dan Satria yang dicarinya.
Jason hanya menemukan kuda yang tertambat rapi di pinggir jurang. Kuda itu masih sehat karena banyak makanan di sekitarnya. Jason mendekati kuda itu dan mengelus-elus kepalanya. Rupanya kuda milik Satria masih mengenali Jason. Saat dielus kepalanya kuda itu meringkik lirih.
"Kemana Om Satria dan Tante ?" gumam Jason.
"Apa mereka jatuh ?" kata Jason lirih sembari melongok ke dasar jurang. Bulu kuduk Jason merinding melihat jurang begitu dalam.
Tempat itu begitu sepi. Hanya suara hembusan angin yang terdengar. Jason mencoba menjatuhkan sebutir batu, tak terdengar batu itu terhenti.
"Ih !" gumam Jason yang lehernya bergidik.
Jason duduk seharian di samping kuda dengan harapan salah satu atau keduanya muncul. Namun hingga matahari terbenam tak ada seorangpun yang menampakkan batang hidungnya. Sebelum matahari terlanjur terbenam dan jalanan menjadi gelap Jason memutuskan untuk pulang. Dicobanya menunggang kuda seperti yang diajari oleh Satria.
Kuda yang masih mengenali Jason langsung meringkik keras saat ditunggangi bocah kecil itu. Perlahan kuda itu mulai berjalan menyusuri jejak-jejak saat ke sini. Awalnya melangkah pelan, namun seiring dengan waktu Jason semakin bersemangat memacu kuda itu. Langkahnya menjadj panjang dan cepat.
Begitulah, setiap hari Jason bolak-balik ke tempat itu. Duduk sampai sore lalu kembali keesokan harinya. Namun, hingga berhari-hari tak ada yang dijumpai di tempat itu.
Berbeda dengan hari ini, Jason menjumpai dua orang hendak turun tebing menggunakan tangga terbuat dari tali.
"Apa itu Pak ?" tanya Jason saat kedua orang itu siap-siap menuruni jurang dengan tangga tali.
"Eh, kamu siapa ? Kenapa ada di sini ?" tanya balik orang itu tanpa menjawab pertanyaan Jason.
__ADS_1
"Saya lagi latihan menunggang kuda." jawab Jason sekenanya.
"Oh. Hebat. Rajin berlatih ya !" kata orang itu sambil mengacungkan jempol.
"Bapak mau apa ? Pakai tangga dari tali ?" tanya Jason.
"Kami pemburu madu lebah. Di bawah ada goa yang banyak lebah madu. Kami mau mengunduh madu di situ. Pakai tangga tali ini." jelas pencari madu.
Jason mengangguk-angguk dan berdecak kagum.
Sementara itu di dalam jurang Sinta sedang beraktivitas pagi. Sehabis meminum madu yang menetes Sinta segera beranjak menuju perigi kecil. Merasa dunia hanya miliknya Sinta tanpa ragu-ragu melepas bajunya dan menikmati segarnya air goa.
Asyik sekali Sinta berendam. Tak terpikirkan apakah bisa keluar dari goa di situ. Tubuhnya digosok-gosok dengan batu yang tersedia disekitar situ.
Namun tanpa Sinta sadari kedua oran pengunduh madu liar sudah sampai dimulut gua. Suara mereka turun tak terdengar Sinta karena saking asyiknya menikmati mandi pagi.
Melihat pemandangan dalam goa, para pengunduh madu itu seakan tidak percaya, bagaimana ada perempuan cantik di goa yang sulit dicapai. Bahkan mereka harus menuruni tebing yang curam menggunakan tangga terbuat dari tali agar bisa mencapai goa tersebut. Bagaimana bisa perempuan cantik ini berada di sini dan mandi dengan santainya.
"Siang begini kok kunthi. Ada-ada saja kamu. Lihat tuh. Tubuh molek itu menapak di tanah." sahut yang lain.
"Yuk ! Rejeki nomplok. Mau cari madu malah dapat bidadari."
Mereka turun mengendap-endap mendekati Sinta. Sampai sejauh ini Sinta belum sadar akan kehadiran dua orang di belakangnya. Sinta masih asyik memanjakan tubuhnya dengan air goa. Dua orang pencari madu itupun duduk bersila menonton aktivitas Sinta.
Lama-kelamaan Sinta memutar tubuhnya. Dia langsung tercekat begitu melihat ada dua orang lelaki sedang duduk bersila di belakangnya. Secara reflek Sinta langsung berendam hingga hanya terlihat kepalanya. Walau masih terlihat namun tidak sefulgar sebelumnya.
"Bapak-bapak ini siapa ?" tanya Sinta. Dia bingung, apakah harus bahagia atau harus waspada.
"Maaf Pak, mohon ke sana dahulu. Saya mau pakai baju." pinta Sinta harap-harap cemas.
__ADS_1
"Kalau mau pakai baju, pakai saja." sahut salah seorang pangunduh madu.
"Saya kan malu Pak." jawab Sinta.
"Tak usah malu neng. Tempat ini susah dijangkau. Saya sendiri tidak habis faham, bagaimana si eneng bisa sampai ke tempat ini."
Sinta menangkap gelagat yang tidak baik dari kedua orang itu.
"Bagaimana ini ?" batin Sinta. Lama-kelamaan Sinta juga merasa kedinginan.
Sinta nekad. Ia berlari ke arah bajunya. Ternyata orang-orang itu hanya iseng. Mereka cuma tertawa tanpa melakukan apa-apa. Hanya tertawa. Sinta segera berlari ke arah tangga tali milik mereka. Tanpa basa-basi Sinta memanjat tangga itu.
"Mau kemana neng ?" goda salah seorang diantara mereka.
"Udah, biar saja pergi Dia."
"Tapi, bagaimana perempuan itu bisa sampai di sini ? Kita ke sini saja bersusah payah menggunakan tangga tali."
"Tak usah difikir masalah itu. Yang penting banyak sarang lebah madu di atas."
Memang, banyak sarang lebah madu di bibir goa. Itu juga yang membuat Sinta semakin sehat karena setiap hari meminum madu.
Sinta yang sudah berada di tangga tak menyia-nyiakan kesempatan. Dengan mengerahkan segenap kekuatan yang dipunyai, Sinta segera memanjat ke atas. Kadang kakinya terpeleset, namun semua itu tak menggoyahkan semangatnya untuk segera sampai ke atas.
Tak sekalipun Sinta menengok ke bawah, karena hanya akan membuat gemetar dan takut. Dipijaknya tangga tali itu dengan semangat walau tangga itu bergoyang tapi tak memupus semangat Sinta yang ingin segera sampai ke atas dan bebas dari semua belenggu itu.
Tiba-tiba angin bertiup kencang. Tangga tali itu bergoyang kuat. Sinta memegang tangga tali dengan kuat sambil berdoa pada Tuhan yang Maha Kuasa agar dimudahkan perjuangan hidupnya.
Tatkala angin mulai mereda, Sinta segera melanjutkan menapaki tangga. Satu demi satu tangga dilalui hingga Sinta sampai di atas. Tempat Dia terjatuh ketika bersama Satria.
__ADS_1
"Tante !" teriakan Jason seakan menambahkan tenaga bagi Sinta. Bergegas Sinta naik ke tempat Jason menunggu.
"Son. Ya ampun !" keduanya berpelukan erat. Tak terpikir lagi apa yang dilakukan oleh pencari madu di bawah sana.