
Rombongan Kakek dan Jodi kemudian bergabung. Mereka melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Kakek Sinta yang sudah hafal betul daerah itu segera bisa menemukan rumah yang dimaksud.
Sebuah rumah dengan dua orang penjaga di depannya. Kakek Sinta dengan mudah melumpuhkan penjaga itu. Tak disangka ternyata Kakek Sinta jawara juga.Pandai silat rupanya. Itu semua belum pada tahu sehingga semua yang ada di situ pada terdiam kagum.
Perlahan Kakek Sinta dan Jodi masuk rumah. Di ruang tamu tak ditemukan siapa-siapa. Rupanya Tono sedang di kamar. Terlihat Dia sedang bermesraan dengan seorang perempuan.
"Dasarl lelaki hidung belang !" teriak Kakek Sinta sambil mendobrak pintu kamar.
Tentu saja Tono terkejut bersama pasangan kencannya. Untung saja mereka berdua masih berpakaian lengkap sehingga tak perlu begitu malu.
"Kakek !" teriak Tono terkejut.
"Tidak usah panggil Kakek. Aku muak dengan menantu kaya kamu !" bentak Kakek.
Tono dipegang oleh anak buah Jodi, begitu juga dengan teman kencan Tono.
"Bagaimana Kakek bisa sampai ke sini ?" tanya Tono keheranan. Tono mengira daerah itu sangat aman dari jangkauan orang-orang luar sehingga aman untuk melakukan aktivitas mesum dengan perempuan.
"Bagaimana kamu bisa melupakan Sinta dan Lastri ?" kata Kakek dengan gigi gemeretak menahan amarah.
Tono terdiam, seribu kata. Tak tahu harus berucap apa. Dia hanya terduduk pasrah dalam cengkeraman anak buah Jodi.
"Di mana Sinta ?" tanya Kakek sambil mencengkeram kerah baju Tono.
Lagi-lagi Tono terdiam. Bingung harus menjawab apa. Dia juga kehilangan Sinta.
"Ayo jawab !" kata Kakek memaksa Tono untuk mengatakan keberadaan Sinta.
Tono hanya bisa terdiam karena memang tidak tahu. Kakek Sinta dan Jodi begitu kesal dengan sikap Tono yang hanya terdiam. Habis sudah kesabaran mereka.
"Hajar !" kata Jodi pada anak buahnya. Serta merta sebuah bogem mentah anak buah Jodi mendarat di kepala Tono. Kepala Tono terpental. Tubuhnya terhuyung-huyung dan hendak terduduk sebelum kepalan tangan mendarat di perut Tono. Tono terjungkal jatuh terlentang. Melihat Tono tidak berdaya jadi mainan anak buah Jodim perempuan bersama Tono berteriak, "Tunggu ! Tunggu ! Aku kasih tahu kebenarannya."
"Kenapa tidak dari tadi ?" teriak Jodi.
"Sinta kabur. Tadi memang memang sempat di sini. Tapi kabur ketika Tono dan anak buahnya lengah." kata perempuan itu.
"Kabur ke mana ?" tanya Jodi geram.
__ADS_1
"Kita tidak tahu Om. Anak buah Jodi sedang mencari ke mana kaburnya Sinta. Makanya di sini sepi. Hanya tinggal dua orang di luar sana." kata perempuan itu menjelaskan.
"Kamu tidak bohong kan ?" tanya Jodi lagi.
"Saya tidak bohong. Kalau Om tidak percaya, tunggu saja anak buah Jodi yang sedang melakukan pencarian. Nanti mereka akan kembali ke sini."
Kakek Sinta dan Jodi tidak serta merta mempercayai omongan perempuan teman kencan Tono. Mereka memilih menunggu anak buah Jodi pulang. Dua buah anak buah Jodi di suruh menunggu di luar rumah dengan mengenakan baju anak buah Tono. Sementara itu, Tono dan perempuan itu disekap dalam kamar. Mereka berdua diikat dan disumpal mulutnya agar tidak bersuara.
Malampun semakin larut, namun kedatangan anak buah Tono tak muncul jua. Sesekali mereka melihat kondisi Tono dan perempuan itu. Terbersit juga dalam benak mereka kalau mereka sedang dibohongi. Jodipun menghela nafas dalam-dalam. Dalam hatinya ingin menghajar dua orang itu. Namun, Jodi masih membutuhkan informasi darinya.
Tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut dari luar. Anak buah Jodi dan anak buah Tono sedang berkelahi. Merek sedang saling serang. Namun karena jumlah anak buah Jodi lebih banyak, anak buah Tonopun akhirnya takluk. Mereka di bawa ke ruang tengah. Jumlahnya ada tiga orang laki-laki.
"Di mana Sinta ?" tanya Jodi tidak sabar.
Ketiga anak buah Tono saling berpandangan. Mereka bungkam.
"Di mana Sinta ?" giliran Kakek Sinta yang bertanya.
Lagi-lagi mereka hanya terdiam.
"Hajar !" perintah Jodi sudah tidak sabar.
"Tunggu !" teriak salah satunya.
"Kami kehilangan lacak. Sinta menghilang saat di perkebunan. Waktu itu ada petani mengangkut sayur ke pasar. Sinta ikut mobil itu. Saat kami buntuti, kami kehilangan lacak di pasar."
"Pasar ? Pasar yang mana ?" tanya Kakek Sinta.
"Pasar yang mana lagi. Pasar di sini cuma satu. Yang di utara pemukiman." jelas mereka.
"Hmmm. Apa kalian bisa dipercaya ?" tanya Jodi.
"Kalau mau, saya tunjukkan di mana terakhir Sinta menghilang."
"Baiklah. Rombongan kita bagi dua. Rombongan Kakek bawa Tono dan anak buahnya. Serahkan sama pak Lurah. Sedangkan saya, Slamet, Parman dan Sarmin, ikut orang ini ke tempat Sinta terakhir terlihat." kata Jodi.
"Apa tidak sebaiknya saya ikut Nak Jodi saja ?" usul Kakek Sinta.
__ADS_1
"Sebaiknya tidak Kek. Nanti Kakek yang menjelaskan pada pak Lurah tentang masalah ini. Kalau hanya anak buah saya, pak Lurah belum tentu percaya." tolak Jodi sambil menjelaskan alasannya.
Kakek Sinta setuju. Merekapun segera berpencar.
"Tolong, jangan bawa saya ke pak Lurah !" pinta Tono.
"Tidak ! Kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu." kata Kakek Sinta.
"Biar saya ikut mencari Sinta saja." kata Tono memelas.
"Nanti kalau Sinta lihat kamu, malah dia lari." ujar Jodi.
Merekapun segera bergerak. Tidak mempedulikan apa yang dikatakan oleh Tono. Tono masih tetap memohon.
"Diam !" bentak Kakek Sinta.
Rombongan Jodi segera bergerak menuju ke pasar yang ditujukkan oleh anak buah Tono yaitu Gimbal.
"Ke arah sana pak Jodi !" kata Gimbal sebagai penunjuk jalan. Mobilpun melaju kencang menuju kearah pasar.
Saat mobil sedang melaju, tiba-tiba Jodi melihat sesuatu di pinggir jalan.
"Berhenti !" teriak Jodi.
Parman menghentikan mobil. Jodi berlari ke arah barang yang tergeletak di pinggir jalan. Ternyata baju Sinta.
"Ada apa pak Jodi ?" tanya Parman yang sedari tadi mendampingi Jodi.
"Sinta pernah lewat sini. Ini kain batik yang dipakai Sinta saat hendak pergi ke pesta pernikahan Diah. Sinta sengaja melepas kain batik ini agar dapat berlari lebih kencang." kata Jodi.
"Betul pak, sepertinya begitu." kata Parman.
"Ayo kita lanjutkan perjalanan !" perintah Jodi.
"Baik pak."
Merekapun melanjutkan perjalanan menuju pasar, tempat terakhir Sinta terlihat batang hidungnya. Dengan harapan Sinta segera bisa ditemukan.
__ADS_1
Sesampai di pasar malam sudah begitu larut. Jodi dan anak buahnya memutuskan untuk beristirahat. Mereka tidur di pinggir jalan. Ada yang tidur dalam mobil dan ada yang tidur di hamparan rumput. Suasana malam itu memang dingin, sehingga jaket tebal yang mereka kenakan sungguh membantu dalam mengatasi hawa dingin yang menusuk tulang. Walau tidur di atas hamparan rumput, serasa di atas kasir empuk. Apalagi saat mimpi-mimpi indah menyelemuti mereka. Tidak ada bedanya tidur di kasur empuk dan tidur di hamparan rumput.