
"Sebelah mana pak ?" tanya Sinta lagi.
"Ini lho." kata Jodi sembari mengambil berkas-berkas mereka ke Sinta.
"Nah ini. Saya bawa dulu ya pak." kata Sinta sambil berlari keluar.
Jodi diam saja. Tapi wajahnya menyimpan senyum dikulum.
"Pasti Sinta balik lagi." batin Jodi.
Tak seberapa lama Sinta balik lagi.
"Bapak ikut saja. Biar jelas sekalian." ajak Sinta sambil menarik tangan Jodi.
Mereka segera kembali ke rumah Nenek dan Kakek.
"Selamat siang bapak-bapak." sapa Jodi.
"Siang pak Jodi." jawab mereka hampir serempak.
"Ini lho pak Jodi, lagi pendataan warga." kata pak RT.
Jodi mengangguk angguk.
"Ini akta kelahiran Dio pak." kata Sinta sambil menyerahkan akta kelahiran ke pak RT.
Kakek dan nenek Sinta dahinya berkerut. Ternyata Dio bisa punya akta kelahiran.
"Baiklah. Di sini tercatat ibunya Sinta dan bapaknya .., ehmmm. Oke." kata pak RT.
"Siapa bapaknya ?" tanya Kakeknya keras.
"Oh iya. Di sini tertulis Jodi Prasojo. Pak Jodi." kata pak RT.
"Betul-betul pak RT." kata Jodi sambil tersenyum.
"Mohon maaf pak Jodi. Ini bapak beneran, apa cuma dicantumkan namanya ?" tanya pak RT.
Jodi melirik ke Sinta. Sinta mengangguk pelan.
"Saya bapak Kandungnya pak RT." jawab Jodi.
"Apa ?" kata Kakek dan Nenek Sinta bersamaan.
"Jadi kalian menikah ?" tanya Kakek.
"Betul Kek, tapi ceritanya nanti saja. Biar urusan sama pak RT kelar dulu." kata Jodi.
"Baiklah pak Jodi. Buku nikahnya ada ?" kata pak RT.
"Ada pak RT. Ini dia." kata Jodi.
Aparat desa segera mencatat administrasi yang diperlukan. Setelah selesai mereka segera berpamitan pulang.
"Tolong jelaskan sama kami, apa yang terjadi !" kata Kakek pada Jodi dan Sinta.
Lalu Jodi menceritakan semua kejadian sewaktu di kota.
"Begitulah Kek, Nek, ceritanya. Saya dan Sinta terpaksa menikah dengan wali hakim. Namun, perlahan kami bisa menjalaninya dan mulai tumbuh rasa cinta walau usia kita terpaut jauh." kata
"Ya ampun Sin, kenapa gak cerita dari dulu." kata Nenek.
"Tidak sempat nek. Waktu itu kita disibukkan dengan kehamilan Sinta. Anaknya Tono. Habis melahirkan, tak lama kemudian hamil lagi si Dio." kata Jodi melanjutkan.
"Gimana Kek, Nek. Pernikahan kita direstui kan ?" tanya Jodi.
"Pastilah nak Jodi."
__ADS_1
"Nak Jodi." kata Kakek sambil memeluk Jodi dan menangis sesegukan. Air matanya mulai mengalir. Air mata kebahagiaan.
"Jadi, Dio ini cucu Tuan Johan ?" tanya Kakek selanjutnya.
"Pastinya kek. Dia penerus ayah Johan." kata Jodi mantap.
Tiba-tiba Kakek mengambil Dio dari gendongan nenek, lalu mencium Dio. Sambil tertawa lebar. Melihat itu, Sinta menitikkan air mata bahagia.
"Lalu bagaimana dengan anak hasil pernikahanmu dengan Tono ?" tanya Kakek pada Sinta.
"Sinta menitipkannya di panti asuhan. Katanya setiap kali melihat anak itu, bayangan Tono tidak bisa lepas dari dirinya."
Hari itu merupakan hari bahagia milik Sinta dan Jodi. Pernikahan mereka sudah direstui Kakek dan Neneknya. Merekapun tak perlu main kucing-kucingan saat hendak melepaskan hasrat.
Sore harinya, Kakek dan Nenek Sinta mengundang tetangga dan mengumumkan pernikahan Sinta dan Jodi. Tentu saja, berita gembira ini menjadi berita menyedihkan bagi Tono dan Dirjo. Lain halnya dengan Diah, justru sangat gembira dengan berita ini.
"Ya ampun Sin, kamu kok merahasiakannya dari aku ?" begitu kata Diah saat berkunjung ke tempat Sinta.
"Tapi sekarang sudah tahu kan ?" jawab Sinta sambil tersenyum.
"Kamu nikah sama Tono aku juga tidak dikasih tahu." balas Diah sambil cemberut.
"Itu kan nikah siri Yah. Lagi pula sudah berakhir sekarang." kata Sinta.
"Sekarang hidupmu sudah mapan Sin. Pak Jodi pribadi yang sangat bertanggung jawab." kata Diah.
"Ha ha. Pasti nanti mau meledek." kata Sinta.
"Nggak Sin. Kamu itu." kata Diah.
"Ayu nyusul Yah." kata Sinta.
"Sama siapa ?"
"Kan ada Dirjo."
"Ih Sinta. Gak lucu tau." kata Diah.
"Tapi kan mapan." kata Diah.
"Masing-masing ada lebih kurangnya Yah. Tinggal hatimu, sesuaikan dengan hatimu." kata Sinta memberi nasehat.
"Baik bu." kata Diah.
Mereka tertawa bersama.
"Apa benar Tono pisahan sama Lastri ?" tanya Sinta.
"Siapa yang buat isu begitu ?" selidik Diah.
"Dirjo. Kemarin kesini." jelas Sinta.
"Haduh, kamu dibohongi Sin. Tono sama Lastri adem ayem saja. Rukun bahagia. Cuma belum punya anak." jelas Diah.
"Kenapa Dirjo bohong begitu ya ?" selidik Sinta.
"Biar kamu mendengarkan omongannya dong. Kalau cerita apa adanya, kamu pasti sudah usir dia." kata Diah.
"Betul juga katamu Yah."
Malam telah menjelang dan para tamupun sudah pada pulang. Sepi.
Kakek dan Nenek Sintapun sudah balik ke rumah di belakang. Sintapun bersiap-siap menggendong Sinta menuju ke rumah nenek dan kakek.
"Lho Sin, mau kemana ?" tanya Sinta.
"Mau menidurkan Dio. Ini sudah bobo." jawab Sinta.
__ADS_1
"Gak salah ? Kita sudah undang warga, masih mau sendiri-sendiri ?" lanjut Jodi.
Sinta tersenyum.
"Tidurkan di kamarku." bisik Jodi.
Sintapun menidurkan Dio. Lalu ikut tiduran di sebelahnya.
"Eh, mama yang ini belum boleh tidur." kata Jodi.
"Kenapa pak ?" tanya Sinta.
Tanpa banyak bicara Jodi menggendong Sinta ke ruang sebelah.
"Aku capai pak, besok saja ya ?" bisik Sinta.
"Aku gak tahan. Pengin sekarang." jawab nakal Jodi.
Merekapun bergumul sepuasnya tanpa kuatir ketahuan seperti kemarin.
---
Keesokan harinya Diah balik ke rumah Sinta.
Tok tok tok.
"Sin. Sin. " panggil Diah.
Sinta yang lagi rebahan di samping Dio segera ke luar.
"Diah, ayo masuk." kata Sinta.
"Kamu sih Sin." kata Diah setelah mereka berdua duduk.
"Lho aku kenapa ?" tanya Sinta.
"Candaan kamu kemarin jadi kenyataan." jelas Diah.
"Candaan yang mana ?" tanya Sinta lagi.
"Itu lho tentang Dirjo."
"Kenapa Dirjo ?"
"Dia mau melamar. Sesuai dengan candaan kamu kemarin."
Sinta tertawa.
"Jangan tertawa Sin."
"Maaf Yah. Bukan maksudku. Lalu masalahnya apa ?"
"Aku tidak cinta sama Dirjo. "
"Dulu, aku juga tidak suka sama pak Jodi. Tapi, seiring dengan berjalannya waktu, lama-lama rasa cinta itu tumbuh. Betul kata orang tua kita dulu. Witing tresno jalaran seko kulino."
"Kamu mendukung Sin ?" tanya Diah sedikit mendelik.
"Tak ada yang salah dengan Dirjo. Orangnya baik. Memang sedikit usil, tapi masih dalam batas yang wajar. Tinggal tanya hatimu."
"Tak ada gunanya tanya ke hati. Bapakku bilang, kalau aku tidak mau, aku disuruh pergi. Merantau." kata Diah menjelaskan.
"Tegas juga bapakmu."
"Mau pergi kemana aku Sin. Belum ada pengalaman. Tidak ada teman dan Saudara. Teman-teman aku di sini semua."
"Diterima saja. Dirjo orang baik kok Yah."
__ADS_1
"Menurutmu begitu ya Sin. Nanti aku diajari jadi istri ya ?" kata Diah.
"Bisa sendiri nanti. Otomatis." kata Sinta sambil tertawa renyah.