Senandung Cinta Gadis Desa

Senandung Cinta Gadis Desa
Bagian 15


__ADS_3

Jodi masuk ke kamar sambil menggendong Dio. Perhatiannya segera mengarah ke buku nikah yang baru saja dipegang oleh Kakek. Bisa jadi Kakek sudah membaca. Tapi, kalau sudah membaca pasti tidak akan secuek itu. Disimpan ke lemari buku nikah yang nyaris dibaca Kakek.


Dipeluk dengan lembut dan diciuminya kepala Dio.


"Aku tidak mengerti apa yang diinginkan oleh Ibumu nak. Biarlah kita ikuti saja keinginan Ibumu asalkan dia bahagia." bisik Jodi sambil menimang-nimang Dio. Diopun tertidur dalam pelukan Jodi. Jodipun ikut tertidur disamping Dio.


Sementara itu di rumah Sinta, Dirjo datang menjenguk Sinta. Melihat Dirjo yang datang muka Sinta batal ceria.


"Ada apa Kang ?" tanya Sinta sedikit ketus.


"Aduh Sinta, lama gak ketemu. Begitu ketemu langsung galak begitu." jawab Dirjo dengan senyumnya yang khas. Sinta melirik sambil mendelik.


Ciut juga nyali Dirjo. Dirjo terdiam untuk beberapa lama.


"Berita tentang kamu sudah menyebar Sin. Semua sudah tahu, kalau kamu nikah siri dengan Tono. Tapi, kamu harus tahu apa yang terjadi dengan Tono. Sekarang sudah pisah dengan Lastri." kata Dirjo.


Sinta terkejut mendengar penjelasan itu. Selama ini Sinta tidak mengikut berita tentang Tono.


"Tono belum bisa melupakan kamu. Selalu membicarakan kamu. Setelah menikah Tonopun selalu mencari kamu, tapi kamu sudah keburu pergi." cerita Dirjo. Semula Sinta cuek dengan cerita Dirjo, tapi lama-lama perhatian juga.


Sinta menghela nafas menahan perih masa lalu. Tak disangka, kepulangannya justru menoreh luka lama.


"Tunggu saja Sin, sebentar lagi pasti Tono akan menemuimu." kata Dirjo.


"Apa maksudnya Tono sudah pisah dari Lastri ?" tanya Sinta yang mulai terpancing dengan cerita Dirjo.


"Ya pisahan. Tidak tinggal serumah." jelas Dirjo.


"Baru beberapa bulan ini." tegas Dirjo.


"Lah, sama juga bohong. Artinya mereka pernah serumah. Pernah gituan juga." jawab Sinta sedikit sewot.


"He he. Iya Sin." jawab Dirjo cengengesan.


"Sudah, kang Dirjo pulang saja sana !" kata Sinta.


"Sebentar lah Sin. Bagaimanapun Kita pernah berteman kan ? " kata Dirjo memelas. Sinta luluh. Bagaimanapun Dirjo adalah temannya sejak kecil.


"Aku gak dikasih minum Sin ?" tanya Dirjo menggoda.


"Oh iya. Maaf. Mau minum apa Kang ?" tanya Sinta.


"Apa saja Sin. Asal dari kamu, walapun racun akan kuminum." gombal Dirjo.


"Weeek. Gombal banget. Nanti tak kasih racun beneran nih." kata Sinta sambil tertawa.


Dirjopun hanya tersenyum kecut.


"Anakmu mana Sin ?" tanya Dirjo saat Sinta kembali membawa segelas teh manis.


"Lagi tidur." jawab Sinta pendek.


"Aduh, Aku sebetulnya pengin lihat anak Tono." kata Dirjo.

__ADS_1


"Jangan sok tahu. Darimana kamu tahu kalau itu anak Tono ?" jawab Sinta sewot.


"Tono sendiri yang bilang, kalau Kamu lagi hamil waktu itu." jawab Dirjo.


"Jangan dipercaya semuanya kata-kata Tono. Buktinya dia sendiri tidak bisa dipercaya." tambah Sinta.


"Eh, iya ya." kata Dirjo.


"Tapi boleh dong, aku kenal anakmu. Siapa namanya ?" lanjut Dirjo.


"Namanya Dio. Boleh saja. Tapi lagi tidur." kata Sinta.


"Kalau bukan anaknya Tono, lalu anak siapa Sin ? Kamu sudah nikah lagi ?" tanya Dirjo semakin ingin tahu.


Sinta terdiam. Pertanyaan Dirjo ada benarnya juga.


"Aku juga siap kok Sin. Jadi bapaknya." kata Dirjo.


"Maksudnya ?" tanya Sinta melotot.


"Aku siap menggantikan Tono, jadi Bapaknya Dio." kata Dirjo.


"Lama-lama ngawur. Sebaiknya pulang saja Kang !" kata Sinta.


"Baiklah Sin. Tapi ingat ya, Aku serius." kata Dirjo sekali lagi.


"Udah sana. Pulang !" kata Sinta.


"I i i ya ..." jawab Dirjo.


Sinta termenung, melihat langkah gontai Dirjo meninggalkan rumahnya. Diawasinya Dirjo sampai tak terlihat bentuk tubuhnya.


"Ya ampun. Dio di mana ini ?" jerit Sinta dalam hati.


Bergegas Sinta ke rumah Jodi. Sepi. Kakek dan Nenek juga gak ada di sana. Perlahan Sinta membuka pintu rumahnya, mencari keberadaan Dio. Di ruang tamu tidak ada. Di dapatinya Dio lagi tidur nyenyak di ranjang Jodi.


Tiba-tiba seseorang memeluk dari belakang.


"Pak Jodi." jerit Sinta.


"Sttt. Nanti Dio bangun." kata Jodi sambil memeluk pinggang Sinta. Merekapun lalu berciuman mesra, sesuatu yang belum pernah dilakukan semenjak balik ke desa.


"Kakek dan Nenek ke mana ?" tanya Sinta kuatir.


"Lagi ke pasar, beli kebutuhan dapur dan kebun. Ini kesempatan baik." kata Jodi.


"Kesempatan apa ?" jawab Sinta.


Tanpa menjawab pertanyaan, segera tubuh Sinta di gendong Jodi ke kamar sebelah. Terjadilah pergulatan yang selama ini belum pernah dilakukan semenjak pulang ke desa.


Hasrat mereka telah tertumpah, tapi Dio masih tertidur pulas.


"Tadi Dirjo kesini ?" tanya Jodi.

__ADS_1


"I ya. Tahu ya ?" tanya Sinta sedikit malu-malu.


"Tadi dilamar ya ?" ledek Jodi.


"Apa sih pak. Itu sih kepedean." jawab Sinta.


"Bukan kepedean, emang kamu cantik kok Sin." kata Jodi sambil memeluk mesra istrinya.


"Dirjo mengira Dio anaknya Tono." jelas Sinta.


"Ya iyalah. Kalau bukan Tono, anak siapa lagi ?" jawab Jodi.


"Kata Dirjo, Tono mau kesini. " kata Sinta.


"Nah tuh, tambah ruwet masalah. Sampai kapan mau menyembunyikan ? Lagi pula, apa setiap kali Aku harus nyuruh Kakek dan Menek ke pasar, biar bisa enak-enak dengan kamu." lanjut Jodi.


"Ih, Bapak nakal." kata Sinta sambil mencubit Jodi.


"Ow." teriak Jodi reflek.


"Bapak kan sudah sering begituan. Apa tidak bosen ?" tanya Sinta.


"Bosen ! We lah. Ini juga pengin nambah." kata Jodi dengan tangannya mulai nakal.


"Ampun pak. Sudah. Sudah. Nanti Dio bangun lho." kata Sinta.


"Tuh, siapkan jawaban kalau Tono kesini. Apalagi kita tidak tahu keberadaan anak itu semenjak dimasukkan ke panti asuhan. Bahkan, kamu belum memberi nama." kata Jodi.


Sinta terdiam. Masalahnya menjadi semakin ruwet.


"Coba saja kalau Tono berani kesini, Aku siapkan pedang." kata Sinta berapi-api.


"Weih. Ya ndak gitu juga Sin. Bagaimanapun kamu harus menjelaskan dengan baik-baik. Masih ingin tinggal di sini kan ?" kata Jodi.


"Jelaskan dengan cara baik-baik. Jangan emosi begitu. Nanti masalahnya jadi semakin melebar." kata Jodi selanjutnya.


"Terus Aku harus ngomong apa ?" tanya Sinta.


"Bilang saja apa adanya, daripada mengarang cerita. Nanti kamu akan terus-terusan berbohong." lanjut Jodi.


"Terus Dio anak Siapa ?" tanya Sinta.


"Sudah jelas kan Bapaknya. Katakan saja." kata Jodi.


Sinta menggeleng.


"Aku belum ingin mengatakannya pak."


"Mau sampai kapan ?" kata Jodi.


"Nanti pas waktunya tepat. Bapak gak pa pa kan ?" tanya Sinta kuatir.


"Terserah kamu Sin. Yang penting kamu bahagia." jawab Jodi.

__ADS_1


Merekapun berpelukan. Tangan Jodi mulai nakal lagi, sehingga Sinta mulai melenguh nikmat. Pergulatan suami istripun terjadi lagi. Kini tidak peduli lagi terjadi disamping Dio yang sedang tidur. Dua manusia yang penuh hsarat mencoba menumpahkan hasratnya yang beberapa saat terpendam.


__ADS_2