
"Cegat sebelah sana Son !" teriak Sinta pada Jason.
Jason segera berlari ke arah yang ditujukkan Sinta. Jason mau membantu menangkap kelinci karena Ninda hanya duduk sambil menangis.
Kelinci berlari ke arah Jason. Jason menangkap kelinci itu sembari meloncat.
"Hore Tante ! Berhasil !" teriak Jason kegirangan.
"Ayo kasihkan ke Ninda." ujar Sinta.
"Tante saja." tolak Jason.
"Kenapa ? Kamu musuhan dengan Ninda ya ?" ujar Sinta tersenyum.
Malas diledek lagi, Jason memberikan kelinci itu pada Ninda.
Tanpa terima kasih, tanpa senyuman. Ninda merebut kelinci itu. Jason terkaget-kaget. Setelah itu Ninda melengos pergi. Ninda berlari menemui neneknya.
"Sudah ketangkap Nek !" teriak Ninda mengadu pada nenek.
"Wah, bagus itu. Nah begitu dong. Jangan cuma menangis saja. Perempuan jugs bisa. Tak sekedar menangis." komentar nenek Ninda yang membuatnya cengar-cengir. Ninda sadar bukan dia yang menangkap kelinci itu. Ekor matanya menatap tajam ke Jason.
Jason menunduk. Tak kuat dia beradu pandang dengan Ninda. Hatinya merasa lega tatkala Ninda segera menghilang dari depan dirinya.
Sementara itu perhatian Sinta tertuju pada rumah kosong di dekat rumah nenek Ninda. Rumah itu tidak terurus, tapi masih layak huni.
"Oh, itu rumah salah seorang pekerja yang dulu di sini, tapi memilih untuk pergi." jawab Nenek Ninda sewaktu Sinta mempertanyakan status rumah itu.
"Apa bisa dimanfaatkan Nek ?" tanya Sinta harap-harap cemas.
"Hm ... Kayaknya bisa. Kan sudah terbengkalai seperti itu. Nanti kalau apesnya wongso kembali kesini, kamu ya harus bersedia pergi." jawab Nenek Ninda menjelaskan.
"Wongso ? Itu kan nama kakeknya. Apa betul itu rumah milik kakeknya ?" batin Sinta.
"Ah, bisa jadi namanya sama. Jangan terlalu berharap." lanjut Sinta membatin.
Mendengar jawaban dari Nenek Ninda, Sinta segera bergegas menuju ke rumah sebelah. Tak begitu jauh dari rumah nenek Ninda. Jason menyusul tak lama kemudian.
Sinta memasuki rumah wongso. Semua masih lengkap hanya perlu membersihkan. Secara bentuk tak begiti jauh dengan rumah nenek Ninda. Oleh karena itu, Jason senang sekali.
"Kita mau tinggal di sini Tante ?" tanya Jason.
Sinta mengangguk perlahan.
"Saatnya kita memburu Son. Selama ini kita jadi buruan. Kita harus bersiap menjadi pemburu." jawab Sinta berapi-api.
"Apa maksud Tante ?" tanya Jason bingung dengan jawaban Sinta.
"Sudahlah, nanti juga kamu faham. Kamu mendukung Tante kan ?" tanya Sinta pada Jason.
"Siap Tante. Siap jiwa dan raga." jawab Jason sambil berdiri tegap.
__ADS_1
Sinta tertawa melihat tingkah Jason.
Merekapun mulai membersihkan rumah itu. Semua masih lengkap, hanya tidak dirawat dan digunakan.
"Kamarmu yang itu Son, aku yang di depan." kata Sinta sambil menunjuk ke kamar. Beruntung sekali rumah itu ada dua kamar.
"Baik Tante." kata Jason sambil berlari keluar.
"Lho mau kemana ?" teriak Sinta pada Jason.
"Mau ambil baju di rumah Ninda." jawab Jason sambil berlari. Rupanya selama ini Jason tertekan tinggal di tempat Ninda.
Sinta tersenyum melihat tingkah Jason. Tak seberapa lama Jason sudah kembali. Tak hanya barangnya yang diambil, barang milik Sintapun ikut diambilnya. Kali ini Sinta betul-betul tertawa.
"Ada apa dengan anak ini ?" batin Sinta.
Tanpa disuruhpun Jason merapikan kamar yang menjadi miliknya. Begitu pula dengan Sinta. Mereka bahu-membahu agar rumah itu nyaman di tempati. Walau sederhana, tapi bisa menaungi dari panas dan hujan.
Setelah semua selesai, Sinta duduk termenung. Apa yang hända dilakukan untuk bankat menjadi seorang pemburu. Dia tidak mau menjadi seekor kijang buruan, tapi sudah saatnya menjadi seorang pemburu.
"Aku harus kuat dan memiliki sumber dana. Tapi, darimana kudapat semua itu ?" bisik Sinta.
"Ah, tunggu. Pasar. Aku harus mencari pasar. Dari situlah semua akan bermula." batin Sinta.
Saat sedang asik melamun, tiba-tiba Jason membuyarkan lamunannya.
"Tante, lapar." rengek Jason.
Mereka Kemudian bertanya pada Nenek Ninda di mana letak pasar. Beruntung, pasar tidak begitu jauh dari rumah yang mereka tempati.
Sinta berpakaian tomboy. Sekilas nampak seperti laki-laki.
"Tante, pakaiannya kok seperti itu. Jadi kayak Om-Om.” komentar Jason.
“Baguslah. Jadi tidak menarik perhatian. Ayo jadi mau makan tidak ?” tanya Sinta.
“Ayo Tante ! Siap.” kelakar Jason.
Sinta tertawa. Inilah yang membuat Sinta begitu suka kalau ada Jason. Kesedihan dan kegundahan hatinya bisa sesekali diselingi dengan tawa.
Mereka berjalan. Namun Jason merasa ada yang aneh.
“Kok ini ke arah sungai ?” batin Jason.
“Tante, ini kok ke arah sungai ? Tadi katanya mau ke pasar ?” tanya Jason kebingungan.
“Emang kamu punya uang buat beli makan ?” tanya Sinta balik.
Jason faham. Dia lalu menggelengkan kepala.
“Ayo Jason, gunakan ilmu yang Tante ajarkan buat menangkap ikan.” ajak Sinta.
__ADS_1
Sesampai di sungai merekapun langsung menggunakan keahlian menangkap ikan dengan tangan. Kehidupan sungai adalah kehidupan Sinta. Oleh karena itu, tanpa menunggu lama Sinta telah mendapatkan begitu banyak ikan. Semua di tusuk dengan menggunakan tali bambu yang di dapatkan di pinggir sungai.
“Son, dapat ikan berapa ?” teriak Sinta.
“Sepuluh Tan. Nih ! teriak Jason bangga.
“Nih punya Tante !” kata Sinta menunjukkan ikan hasil tangkapannya yang tentu saja lebih banyak.
“Yah, banyak punya Tante.” ujar Jason kecewa.
“Ayo buruan ke pasar, nanti keburu siang.” teriak Sinta.
Langkah bahagia mengiringi mereka menuju pasar. Selama perjalanan banyak tawa dan canda Jason yang membuat Sinta tertawa. Oleh sebab itulah perjalan ke pasar menjadi perjalanan singkat.
Pasar saat itu sudah ramai. Orang-orang pada ramai bertransaksi jual-beli. Sinta dan Jason memilih menggelar dagangan di pinggir pasar. Lama mereka menunggu pembeli, namun tak kunjung datang juga. Jason sudah nyengir menahan lapar.
“Lapar banget ya ?” bisik Sinta.
“I ya Tante.” jawab Jason tersenyum malu.
“Tunggu sebentar lagi, kalau tidak ada yang beli kita pulang saja. Kita masak ikan ini.” bisik Sinta.
Jason menganggu setuju. Mereka menungg lagi. Lagi-lagi tak ada pembeli yang berminat pada ikan tangkapan mereka.
“Ayo Son, kita pulang saja !” ajak Sinta.
“Ayo ! Ayo !” jawab Jason.
Sinta dan Jason mengemasi barang dagangan mereka. Namun saat mereka hendak pergi, seseorang mencegat mereka.
“Berapa harga ikannya dik ?” tanya orang itu pada Jason. Jason lalu menyebutkan angka.
“Aku beli semua.” kata orang itu sembari memberikan uangnya.
Jason menerima uang itu dengan gembira. Begitu juga dengan Sinta.
“Sudah, kembaliannya kalian ambil saja.” kata pembeli itu dan pergi dari hadapan Jason.
“Hore Tante. Kita bisa makan. Banyak sekali uang ini ?” ujar Jason tertawa bahagia.
“Jason pengin makan apa ?” tanya Sinta.
“Apa saja yang penting halal dan kenyang.” jawab Jason tak sabar.
“Ayok !” sambut Sinta.
Hari itu berlalu dengan bahagia. Sebuah awal yang baik untuk memulai kehidupan yang baru. Pulangnya Sinta membeli kelinci sepasang.
“Kelinci ? Tante mau bersaing dengan Ninda ?” tanya Jason.
“Sudah, nanti penjelasannya di rumah. Sekarang kita pulang saja. Nih, kamu bawa makan buat siang dan sore. Tante yang membawa kelinci ini.” kata Sinta seraya menyerahkan bungkusan nasi dan lauk kepada Jason. Sementara Sinta sibuk membawa kelinci.
__ADS_1