Senandung Cinta Gadis Desa

Senandung Cinta Gadis Desa
Bagian 8


__ADS_3

Perjalanan bus wisata telah sampai ke tempat tujuan. Sinta menghela nafas lega. Berakhir sudah penderitaan panjang yang dialaminya selama perjalanan. Dirjo semakin nekad. Perjuangan cinta Dirjo memasuki babak baru karena sudah berani melakukan tipu daya untuk mewujudkan harapan cintanya.


Sinta berlari kencang saat turun dari bis. Seperti dikejar binatang buas. Saking kencangnya Ia berlari sampai lupa lihat kanan kiri, akhirnya.


Bruk.


"Aduh." jerit Sinta karena menabrak seseorang.


Sinta dan orang yang ditabrak jatuh di tanah. Seperti yang difilm-film itu. Wajah mereka berdekatan. Nyaris berciuman. Perlahan Sinta melirikkan matanya mencermati siapa yang ditabrakknya. Perlahan tapi pasti Sinta melihat dengan jelas siapa lelaki korban tindakannya.


“Kak Tono.” batinnya.


Ternyata Tono. Kenapa bisa begitu kebetulan begitu. Justru Sinta merasa bersyukur bisa bertabrakan dengan Tono. Betul-betul hidup ini seperti certia sinetron.


"Kamu tidak apa-apa Sin ?" tanya lelaki korbannya dengan lembut sesaat setelah mereka berdua hanya terdiam tanpa melakukan apa-apa.


Jantung sinta serasa berhenti berdetak. Peredaran darahnya seperti enggan mengalir. Mukanya jadi pucat. Bibirnya jadi kaku. Pandangannya kabur. Untung tak sampai pingsan. Debar jantungnya tiba-tiba mengencang.


"Tidak apa-apa ?" tanya lelaki sekali lagi.


Sinta menggelengkan kepalanya. Perlahan Ia bisa menguasai diri.


"Tidak apa-apa Kak." katanya serak dan gemetar. Tapi suara yang keluar dari mulutnya nyaris tak terdengar. Hanya gerakan bibirnya yang bergerak yang bisa terlihat dari raut wajah Sinta.


"Kamu tidak apa-apa Sin?" seru seseorang berteriak menggelegar. Suaranya membuat orang di sekitarnya terkejut. Mendengar suara itu serta meta Sinta bangkit lalu spontan berkata.


"Tidak apa-apa kok" jawab Sinta serta merta berdiri begitu tahu Dirjo datang sambil berteriak kencang.


"Kamu tidak apa apa Ton ?" tanya Dirjo pada Tono.


Tono hanya menggeleng perlahan. Lalu berdiri di samping Sinta.


“Aduh Sin, kenapa bisa jatuh begitu ?” serobot Diah yang begitu kuatir sama Sinta.


“Tidak apa-apa Yah. Lihat nih !” jawab Sinta sambil menunjukkan anggota tubuhnya.


Tiba-tiba terdengar suara Jaya dari samping bis.


“Ayo kumpul dulu sini !” teriak Jaya melalui megaphone.


Para peserta segera bergerak ke tempat kumpul mereka. Disaat itulah Diah berbisik,


“Kamu tidak modus kan Sin ?” tanya Diah berbisik.


“Ih, jahat banget kamu Yah. Emang Aku serendah itu ?” balas Sinta.


Diah cuma nyengir. Diah tahu kata-kata orang bijak. Cinta itu membuat orang kehilangan warasnya sekaligus berakal sehat.


Sinta mencari Tono yang tadi ditabraknya. Terlihat dia sedang mengatur teman-teman. Hatinya lega, tak ada sesuatu yang berarti terjadi pada Tono.

__ADS_1


"Baiklah teman-teman semua, hari ini Kita ke tambak udang dulu. Baru nanti acara santai-santai." jelas Jaya.


“Baik Kak.” teriak peserta bersamaan.


Segera setelah rombongan, Sinta berusaha mencari Tono. Selain hendak meminta maaf sekali lagi, Ia juga ingin bersama. Namun harapannya tak kesampian. Sinta melihat Tono sedang berjalan dengan Lastri. Mereka berbincang-bincang serius sambil berjalan. Namun terkadang gelak tawa menyelingi pembicaraannya. Seketika Sinta terbakar api cemburu. Api cemburu yang disiram dengan kekecewaan mendalam membuat nyalanya semakin menggelora. Dengan rasa kecewa Sinta memutuskan untuk pergi keluar rombongan. Sinta memilih untuk sendiri. Ia tidak tahan melihat lelaki pujaan hatinya begitu akrab dengan perempuan lain.


Sinta menyelinap diantara mobil-mobil yang parkir. Langkahnya begitu pelan dan hati-hati sehingga tidak menimbulkan kecurigaan. Sampai-sampai sahabatnya sendiri tidak mengetahui kalau Ia meninggalkan rombongan.


Sinta menuju ke sebuah bangku yang memang disediakan untuk pengunjung. Terdiam membisu sembari menikmati indahnya pantai. Hembusan angin pantai yang tidak begitu kencang perlahan mulai mendamaikan hatinya. Apalagi melihat anak-anak begitu asyik bermain-main di pantai, rasa hatinya begitu tentram.


Namun kedamaian itu hanya sesaat. Tanpa disadari, aksinya meninggalkan rombongan kepergok oleh Dirjo. Payahnya Dirjo membiarkannya. Mungkin itu sengaja dilakukan oleh Dirjo. Itu adalah sebuah kesempatan agar bisa berdua dengan Sinta. Dirjo menahan diri terlebih dahulu sebelum mendekati Sinta. Hal ini dimaksudkan agar rombongan menjauh terlebih dulu, sehingga nanti tidak terkejar oleh Sinta ketika mengetahui dirinya berusaha bersamanya.


Dirjo menanti saat yang tepat untuk bisa mendekati Sinta. Seperti burung elang yang mengamati buruannya untuk dijadikan santapan. Akhirnya saat itu datang. Dirjo berjalan mendekati dimana Sinta tengah duduk sendiri. Saat itu rombongan peserta rekreasi sudah bergerak menjauh, bahkan sudah menghilang dari pandangan. Mustahil terkejar oleh Sinta seandainya berusaha menghindar dari Dirjo. Bermodal sebuah botol air minuman kemasan, Dirjo mendekati Sinta. Lalu duduk di sebelah Sinta yang memang kosong.


"Minum dulu Sin." kata Dirjo sambil menawarkan sebotol air mineral yang dibawanya.


Sinta terkejut melihat kehadiran dirjo. Tubuhnya sampai terlontar.


"Lho, kang Dirjo kok disini ?" tanya Sinta tanpa bisa menghilangkan rasa terkejutnya.


Dirjo cuma tersenyum. Lalu meletakkan botol minuman di sebelah Sinta karena tak kunjung diterima.


"Iya. Tadi kulihat kamu menyelinap keluar dari rombongan. Makannya kuikuti." jelas dirjo.


"Lalu, teman-teman bagaimana ?" tanya Sinta.


"Tono juga ada. Malah sama Lastri." kata Dirjo mulai membakar api cemburu Sinta.


Sinta terdiam. Api cemburu yang mulai mereda kini dihembuskan lagi oleh dirjo.


“Kenapa tidak ikut rombingan Sin ?" pancing dirjo.


“Aku gak minat." jawab Sinta pendek.


“Sama sin, aku juga kurang berminat." jawab Dirjo dengan enteng. Kayaknya situasi Dirjo lagi di atas angin.


“Ayo, minum dulu Sin." kata Dirjo sambil menyodorkan kembali botol minuman yang sedari tadi sudah ditawarkan.


“Kamu kan ketua panitia rekreasi kang, masa nggak ikut ke sana." ujar Sinta.


“Sebagai ketua panitia rekreasi, tugasku menjamin agar acara kali ini berjalan lancar. Nah, urusan ketemu aparat di sini atau ketemu peternak biar menjadi urusan ketua pemuda. Gitu lho Sin," jawab Dirjo diplomatis.


Sinta terdiam. Bagaimanapun apa yang dikatakan Dirjo ada benarnya.


“Kenapa kamu nggak ikut rombongan ?" tanya Dirjo sekali lagi.


“Tadi kan sudah dijawab. Kurang minat.” sahut Sinta.


“Aku rasa bukan karena itu." selidik Dirjo. Sinta melirik Dirjo dengan tajam.

__ADS_1


“Jangan berprasangka buruk Kang.” ujar Sinta.


Dirjo diam saja. Dia hendak mengatakan dugaannya, tapi malah bisa jadi bumerang. Nanti dirinya sendiri yang sakit hati.


Mereka terdiam dalam suasana hati masing-masing. Dirjo gelisah, berkeringat dingin. Sebenarnya dia ingin mengutarakan sesuatu mumpung lagi berdua. Ingin Dirjo mengungkapkan bahwa dirinya begitu suka dan sayang pada Sinta.


Nampaknya Dirjo mengerahkan segenap keberaniannya dan energinya untuk mengungkapkan rasa cintanya pada Sinta.


“Sin, sebenarnya. Ak ... Aku." kata Dirjo terhenti.


“Suka Kamu." terbatin dihati dirjo. Tapi tak sampai keluar dari mulutnya.


“Aku apa ?" tanya Sinta menyelidik.


“Aku …” kata Dirjo. Namun tak bisa dilanjutkan karena ada seseorang berteriak dari arah belakang.


“Sin, kamu curang ya. Yang lain pada studi banding, kalian berdua malah mojok." teriak seorang gadis dari belakang.


“Diah ! Buat kaget saja." sahut Sinta sambil pura-pura cemberut. Padahal dalam hatinya sangat bersyukur sahabatnya segera menemui.


Dirjo menelan ludah. Untuk kesekian kali usahanya gagal gara-gara Diah.


“Eh sin. Minta minumnya ya !" pinta Diah mengambil botol minuman pemberian Dirjo. Sinta mengangguk. Sementara di sebelah Sinta ada wajah yang menatap kecewa. Wajah yang begitu memelas. Setelah gagal mengutarakan hati pada Sinta, minuman yang seyogyanya buat Sintapun diembat Diah.


“Uh, nasib." batin Dirjo.


“Kok nggak ikut rombongan Sin ? “ tanya Diah.


“Aku gak tertarik." jawab Sinta sekenanya.


“Gak tertarik, apa anu ?” selidik Diah.


“Yah, jangan usil. “ teriak Sinta.


Diah terdiam. Pasti karena ada Dirjo. Sinta jadi tidak mau terbuka.


“Kamu juga yah. Kenapa balik ?" tanya Sinta.


“Sewaktu jalan, aku cari kamu tidak ada. Makanya aku balik. Eh, ternyata lagi mojok sama akang Dirjo.” kata Diah terkekeh.


“Diah, ndak lucu." jawab Sinta yang membuat Dirjo menelan ludah.


Semenjak kehadiran Diah, hilang sudah kesempatan untuk berdua dengan sinta. Apalagi sedari tadi Diah nyerocos terus. Sama sekali tidak memberi kesempatan pada Dirjo untuk berbicara.


“Yah, main air yuk !" ajak Sinta.


“Wah, ide bagus tuh Sin. Ayuk !" sambut Diah dengan gembira.


Sinta segera bangkit dari tempat duduknya. Menggandeng tangan Diah lalu segera menuju ke pantai. Mereka berdua sangat ceria. Sintapun perlahan mulai melupakan lara hatinya.

__ADS_1


__ADS_2