
Sesampai di rumah didapatinya Nek Ijah sedang berkebun. Tubuhnya yang sudah tua dan renta, apalagi jalannya yang sudah menggunakan tongkat, tak menghalangi aktivitas Nek Ijah. Diusianya yang senja masih semangat melakukan aktivitas sehari-hari.
Rupanya Jason senang sekali berada di kebun. Ia begitu bersemangat membantu Nek Ijah mencangkul rumput, menanam bibit dan memanen beberapa buah yang sudah masak. Banyak sekali hasil panen kali ini.
"Sebanyak ini mau diapakan Nek ?" tanya Jason.
"Dijual. Nanti sudah ada yang mengambil dan membawanya ke pasar. Sebagian buat dimakan." jawab Nek Ijah.
"Jason. Santi. Bawa pulang itu kuat tidak ?" tantang Nenek.
"Kuat Nek !" jawab Sinta dan Jason hampir bersamaan.
Mereka segera membawa hasil panen ke rumah. Awalnya berjalan santai, tapi lama-lama tambah cepat. Jason seakan tidak mau ketinggalan dari Sinta. Mereka berdua berkejar-kejaran, saling berlomba untuk berada di posisi depan. Sesekali Jason berada di depan, namun sering juga terkejar oleh langkah Sinta.
"Tuh, rumahnya sudah kelihatan. Ayo, siapa yang menjadi tercepat !" tantang Sinta sambil berlari kencang. Jason tak mau kalah menyusul dari arah belakang. Sampai di depan pintu rumah mereka segera membuka pintu. Pintu rumah terbuka lebar. Dari arah dalam rumah seseorang berteriak, " Hai, siapa itu ?"
Jason dan Sinta terbengong. Seorang lelaki sedang ganti baju berada dalam rumah. Dia hanya mengenakan cd. Batang timunnya terlihat tersembunyi kekar dan malu-malu dari balik celana itu. Sesaat setelah tersadar Sintapun berteriak, "Àaaaaaaa !". Segera berlari keluar menghindari pemandangan itu.
Jason terpana memandangi lelaki hampir bugil itu. Mulutnya melongo dan matanya melotot. Diam terdiam saja tidak bergerak.
"Jason, keluar sini !" panggil Sinta.
Namun, Jason tidak bereaksi. Sinta terpaksa masuk lagi dan menarik Jason. Sesaat Sinta masuk kembali, matanya sempat melirik barang kekar dari balik ****** ***** lelaki itu. Hatinya sempat bedetak lebih kencang. Bagaimanapun Sinta sudah pernah merasakan belaian laki-laki dan kenikmatan yang didapat dari belalai gajah itu.
"Kanapa kamu tidak keluar ! Diam di dalam saja ?" hardik Sinta pada Jason.
"Belalainya bisa segede itu ya Tan ?" gumam Jason.
"Itu, belalai yang di sini." kata Jason sembali menunjuk ke arah depan celananya.
"Hush. Apa sih kamu !" hardik Sinta sekali lagi.
Tak seberapa lama lelaki itu keluar dari dalam rumah dengan pakaian yang lengkap. Lelaki yang ganteng, gagah perkasa dengan rambut panjang sebahu.
"Kalian siapa, masuk rumah orang tanpa permisi. Masuk begitu saja. Untung saya tidak telanjang bulat tadi." kata lelaki itu.
Sinta diam seribu bahasa. Tak tahu harus menjawab apa. Dalam kebisuan itu tiba-tiba Nek Ijah datang tergesa-gesa dan berkata, "Satria, kamu pulang juga."
"Iya Nek." kata lelaki itu yang ternyata Satria, cucu Nek Ijah.
__ADS_1
"Kau apakan tamuku, sampai berteriak kencang begitu." tanya Nek Ijah pada Satria.
"Tidak ada apa-apa Nek, mungkin cuma kaget saja. Siapa mereka Nek ?" jawab Satria.
"Mereka tamuku. Sudah beberapa hari ini menemani Nenek. Tidak seperti kamu, pergi terus sampai lupa sama Nenek." jawab Nenek.
"Ayo masuk. Kita ngobrol di dala, sambil berkenalan." pinta Nek Ijah mengajak masuk.
Satria dan Nenek masuk dahulu ke dalam rumah. Sinta dan Jason masih terdiam. Bengong. Ada perasaan tidak enak dalam hati mereka terhadap Satria.
"Sinta ! Jason ! Ayo masuk sini !" panggil Nek Ijah pada Sinta dan Jason.
"Baik Nek. Ayo Son." ajak Sinta.
Mereka berduapun masuk dan berkumpul di meja di tengah ruangan.
"Ini cucu Nenek, yang pernah Nenek ceritakan." kata Nek Ijah.
Merekapun saling berkenalan. Sinta menjabat tangan Satria dengan malu-malu.
"Maafkan kami mas." pinta Sinta.
"Baik Tria. Kalau Jason panggilnya Om ya !" ledek Sinta sambil tertawa. Merekapun tertawa bersama.
"Saya bawa daging menjangan kesukaan Nenek." kata Satria.
"Aduh, terima kasih Tria. Sudah lama Nenek tidak makan daging menjangan." kata Nenek sambari membawa daging menjangan untuk di masak.
"Saya bantuin Nek." ujar Sinta menawarkan diri.
"Kamu sudah pernah masak sup daging menjangan ?" tanya Nek Ijah.
"Belum Nek." jawab Sinta menggelengkan kepala.
"Masak sop daging sapi pernah kan ?" tanya Nek ijah lagi.
""Wah, kalau itu sering Nek." jawab Sinta.
"Tidak jauh berbeda. Mirip-mirip." kata Nek Ijah menjelaskan.
__ADS_1
"Kalau begitu, serahkan sama saya Nek. Nenek lihat saja. Nanti kalau ada yang salah boleh di betulkan sekalian." ujar Sinta.
"Kamu kan anak laki-laki, sana belajar sama Tria. Jangan belajar masak." timpal Nek Ijah.
"Belajar apa Nek ?" kata Jason sedikit kecewa.
"Tria itu, pintar memanah dan menunggang kuda. Selain itu juga pintar main golok. Itu keahlian laki-laki. Kamu layak sekali belajar itu." kata Nek Ijah menjelaskan.
"Oh, kalau itu aku mau. Om Tria mau mengajari saya ?" tanya Jason penuh harap.
"Ya tentu saja mau. Ayo. Kita mulai sekarang sambil menunggu sop daging menjangannya masak." ajak Satria penuh semangat.
"Ayo ! Ayo, Om !" teriak Jason kegirangan.
Jason dan Satria bergegas keluar rumah. Mereka mulai belajar ilmu ketangkasan. Sinta melanjutkan memasak bersama Nek Ijah.
"Nek, ada Satria. Kami sebaiknya bagaimana ?" tanya Sinta yang mulai kuatir tentang tempat tinggalnya.
"Tidak usah kuatir. Nanti biar Satria tidur di gudang belakang. Tempat menyimpan jerami." kata Nenek.
"Di kandang itu Nek ?" kata Sinta memastikan.
"Iya, emang kenapa ?" balas Nek Ijah.
"Saya saja dan Jason yang tidur di sana." pinta Sinta.
"Eh, tidak-tidak. Kamu tetap di sini bersama Nenek. Lagi pula, Satria itu dibesarkan oleh alam. Tidak usah kuatir, dia biasa tidur cuma beralaskan jerami." kata Nenek menjelaskan.
"Dan untukmu Sin, Nenek sangat senang kalau kamu menetap di sini saja. Sudah, tidak usah berpetualang seperti Satria. Satria itu laki-laki, tidak masalah berpetualang seperti itu. Kamu kan wanita, kurang pas kalau harus berpetualang seperti itu." kata Nenek Ijah panjang lebar.
Sinta terdiam. Dalam hatinya berkata, " Aku tidak sedang berpetualang Nek. Aku lagi mencari jalan pulang ke keluargaku. Oh, Dio. Anakku. Pak Jodi. Bagaimana kabar kalian. Aku kangen sekali."
"Eh, Sinta. Itu awas. Apinya !" teriak Nek Ijah melihat api di tungku membesar liar.
"Kamu melamun ya ? Siapa yang lagi di fikir ? Mikir Satria kah ? Dia ganteng kan ? Tubuhnya juga perkasa." kata Nek Ijah menggoda Sinta.
"Ah Nenek bisa saja. Saya tidak mikir apa-apa." sanggah Santi.
Padahal dalam hati Sinta yang paling dalam ada juga rasa kekaguman pada Satria. Betul-betul seorang satria. Gagah perkasa. Betul-betul lelaki yang bisa didambakan untuk memberikan perlindungan. Sekaligus didambakan untuk memberikan kebahagiaan. Dalam hati Sinta mengakui bahwa hatinya bergetar saat melihat belalai Satria membetuk relief di cdnya. Begitu besar dan kekar. Dua lelaki yang pernah mengisi hidupnya, belalainya tidak sebesar itu. Mengingat hal itu, Sinta hanya tersenyum malu-malu dan ditahan kuat-kuat agar tidak diketahui oleh Nek Ijah.
__ADS_1