Senandung Cinta Gadis Desa

Senandung Cinta Gadis Desa
Bagian. 29


__ADS_3

Keesokan harinya Jason mulai latihan lagi. Kali ini latihannya di depan rumah. Sejumlah tumpukan batu berjejer di halaman rumah. Tugas Jason menyambit batu kecil yang di letakkan paling atas dari jarak 50 meter.


Satria memberikan contoh terlebih dahulu. Dari jarak 100 meter disambitnya batu paling kecil di bagian paling atas tumpukan batu.


Thak. Terdengar bunyi keras benturan batu dengan batu. Batu yang saling berbenturan pecah karena saking kerasnya lemparan Satria.


"Nah, latihan hari ini seperti itu. Ayo Jason !" kata Satria.


"Ayo Jason semangat !" kata Sinta memberikan semangat.


Percobaan pertama gagal. Percobaan kedua juga gagal. Ketiga dan seterusnya masih gagal. Lemparan yang ke 500 Jason menyerah duduk bersimpuh.


"Ayo, Jason dikasih semangat !" kata Satria pada Sinta.


"Son. Capek ya ?" tanya Sinta ingin menghibur Jason.


"Ah. " jawab Jason lemes.


"Ayo sekali lagi. Pasti kena." ujar Sinta memberikan semangat.


"Sudah ah Tante. Capek." jawab Jason malas.


"Ayo sekali lagi. Nanti Tante buatin sate menjangan." bujuk Sinta.


"Enggak ah. Sudah saja. Istirahat." kata Jason.


"Jason maunya apa ?" tanya Sinta menyerah.


"Jason mau coba lagi, tapi Tante juga ikut mencoba." kata Jason memberikan syarat.


"Baik. Tante ikut latihan nih." ujar Sinta memberikan semangat.


Sinta bersiap-siap hendak menyambit tumpukan batu sebelahnya. Sambitan pertama gagal. Tahu akan hal itu Jason bersemangat lagi. Namun usahanya juga gagal. Sinta meyambit lagi, juga gagal. Giliran Jason.


Thak. Suara batu membentur.


"Hore ! Hore !" teriak Jason kegirangan. Sinta dan Satria juga ikut tersenyum bahagia.


"Sekarang giliran Tante !" kata Jason.


"Baik." sahut Sinta sambil melemparkan kerikil di tangannya.


Thak. Bunyi kerikil mengenai sasaran.


"Ah, Tante curang." ujar Jason ngambek karena Sinta hanya melakukan tidak sampai sepuluh kali mencoba sudah berhasil. Satria dan Sinta tertawa bersama.


Latihan dilanjutkan dengan menunggang kuda.

__ADS_1


"Ayo Sinta naik dulu. Lalu Jason di depan Sinta." ujar Satria.


Satria menuntun kuda. Awalnya berlajan pelan. Lama-lama berlari pelan.


"Sin, pegang tali kekangnya !" teriak Satria.


Sinta segera memengang tali kekang kudanya.


"Tante, biar aku saja yang pegang !" pinta Jason.


Jason memegang tali kekang. Mereka berlatih berkeliling di atas kuda. Berjalan dan berlari perlahan.


"Tarik tali kekangnya pelan untuk menghentikan kudanya !" teriak Satria memberikan instruksi.


Jason menarik tali kekangnya. Kudapun berhenti.


"Bagaimana rasanya naik kuda ?" tanya Satria.


"Asyik Om. Besok aku diajari naik kuda sendirian ya ?" pinta Jason.


"Tentu saja. Sekarang Jason istirahat dulu. Om mau mengajari Tante naik kuda berlari kencang." kata Satria.


"Aku juga dong Om." kata Jason.


"Gantian dong. Ini kudanya kencang larinya. Kalau tadi kan pelan-pelan." kata Satria menjelaskan.


"Oke Om." jawab Jason.


"Ayo Sin, naik !" kata Satria.


Sinta segera naik. Satria menyusul naik dan duduk di bagian belakang Sinta. Awalnya kuda berjalan perlahan. Seiring dengan teriakan Satria, kuda jadi berlari kencang.


"Hiya ! Hiya ! Hiya !" teriak Satria menyemangati kuda.


"Tria, jangan terlalu kencang." kata Sinta sedikit ketakutan.


"Tenang Sin, ada aku." jamin Satria.


Kuda berlari semakin kencang. Sinta hanya bisa duduk di pelana kuda dengan kedua tangannya erat memegang Satria. Kuda berlari-lari mengitari halaman rumah Nek Ijah. Setelah beberapa kali berputar, laju kuda meninggalkan halaman rumah menyusuri jalan sekitar.


Semakin jauh Sinta dan Satria meninggalkan rumah. Kini Satria memacu kudanya ke arah bukit. Jalan yang dilalui begitu menanjak. Sinta tambah ketakutan.


"Tria, kita mau kemana ?" teriak Sinta di tengah laju kencang kuda.


Satria diam tak menjawab. Hanya langkah kudanya bergerak semakin ke atas bukit. Kuda begitu lincah bergerak di antara jalan bebatuan dan pohon-pohon yang rimbun. Beberapa saat kemudian laju kuda berhenti di sebuah dataran pinggir jurang. Pemandangan yang sungguh indah ke arah jurang sekitarnya.


"Ayo kita turun !" ajak Satria begitu kuda telah berhenti.

__ADS_1


"Wow, indah sekali pemandangan di sini." puji Sinta.


"Bagus kan ?"


"Tria sering ke sini ?" lanjut Sinta.


"Kadang. Kalau lagi ingin menenangkan diri."


"Sebelah sana jurang ?" tanya Sinta kembali.


"Ya. Orang tak akan selamat kalau jatuh ke sana." sahut Satria menjelaskan.


Sinta memundurkan kaki dua langkah, seakan terbayang kalau jatuh ke jurang.


"Sayang, Jason tidak diajak kesini. Pasti senang sekali kalau melihat pemandangan seindah ini." ujar Sinta.


"Nanti kita ke sini bersama-sama." tegas Satria menenangkan Sinta.


Sinta tersenyum bahagia. Tempat yang indah dan menyenangkan. Langkahnya mendekat ke pagar pembatas dengan bibir jurang, lupa sudah dengan rasa takut kalau seandainya jatuh ke jurang.


Tangan Sinta berpegangan pada pagar pembatas. Angin lembah yang bertiup membuat rambut Sinta berterbangan bergelayut di kepalanya. Wajah Sinta terlihat semakin cantik dengan rambut seperti itu.


Diam-diam Satria memeluk pinggang Sinta dari arah belakang. Sinta terlonjak. Namun karena pelukan Satria begitu kuat, lonjakan Sinta tak berarti apa-apa.


"Lepaskan Tria." protes Sinta.


"Sudah nikmati saja !" bisik Satria.


Sinta berusaha berontak, namun apa daya tenaganya tak bisa dibandingkan dengan tenaga Satria. Usahanya tidak mampu menggoyahkan Satria. Sinta menghentikan rontaan tubuhnya dengan harapan Satria juga mengendurkan pelukannya. Sesuai dengan harapan Sinta, Satria mengendurkan pelukannya. Sinta segera membalikkan tubuhnya. Wajah mereka saling berhadapan.


"Lepaskan Tria, jangan lakukan ini !" pinta Sinta memohon.


Namun permintaan Sinta tak mengendurkan Satria. Bibirnya berusaha mencium Sinta, tapi Sinta menghindar. Dicoba sekali lagi, lagi-lagi Sinta menghindar. Serangan Satria pindah ke leher. Sinta tak menduga saat bibir Satria begitu semangat menjilat leher putih Sinta. Sinta tak sempat menghindar. Dekapan tangan lelaki itu kian erat. Sia-sia juga Sinta berontak.


Tapi Sinta tak kekurangan ide. Dibiarkannya bibir Sartria bergerilya di leher Sinta. Hal itu dilakukan untuk membuat Satria terlena. Untuk membuat Satria semakin terlena, Sinta bersikap seolah-olah melayani dan pasrah pada kehendak Satria.


Sesuai dengan dugaan Sinta, Satria mulai merasakan bahwa Sinta sudah pasrah. Satria semakin agresif dan berani. Dekapan Satria mulai mengendur. Itulah peluang Sinta untuk melepaskan diri.


"Inilah saatnya." batin Sinta sembari mendorong Satria sekuat tenaga. Namun tubuh Satria yang gagah perkasa tak goyah oleh hentakan Sinta. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, justru Sinta yang terdorong ke belakang.


Brak.


Tubuh Sinta terlempar menghantam pagar pembatas.


"Sinta aaaaaa aaaaa !" teriak Satria begitu tahu tubuh Sinta menabrak pagar pembatas, selanjutnya Tubuh Sinta terlempar ke jurang.


"Sintaaaaaaaaa ! Tidak !" jerit Satria mengiringi tubuh Sinta yang melayang jatuh ke jurang.

__ADS_1


Satria begitu panik. Ia berusaha ke sana ke mari mencari jalan turun, namun sepertinya usahanya sia-sia. Kini, Satria hanya terduduk bersimpuh sambil menyesali perbuatannya.


__ADS_2