
Rasa lapar membuat Sinta tidak betah rebahan di ranjang. Perutnya yang kriak kriuk mengantarkan langkahnya menuju ke rumah Pak Johan.
“Nek …” panggil Sinta.
”Nek. Nek. “ panggilnya berulang-ulang.
Tak seberapa lama, seorang perempuan tua keluar dari rumah megah Pak Johan. Tubuh dan wajahnya kotor, mungkin lagi membereskan sesuatu di rumah itu.
“Apa Sin ?” sahut Nek Ijah.
Sinta mendongak dan menatap wajah Neneknya.
“Lapar, tapi ndak ada makanan.” keluh Sinta pada nenek.
“Aduh, maaf ya nduk. Tadi nenek bergegas ke sini karena putranya pak Johan mau pulang. Jadi rumah ini harus bersih dan rapi. Kuatir kalau ndak keburu. Jadi nenek belum masak.” jelas sang nenek.
“Wis, ini beli saja di warung Yu Parti.” ujar Nek Ijah sembari menyodorkan uang lima ribuan.
Sinta menekuk mulutnya melihat jumlah uang tersebut. Wah, cuma dapat nasi dan sayur.
“Tambahin nek, cuma dapat nasi sama sayur.” protes Sinta.
Nek Ijah mengulurkan uang lima ribuan lagi sembari menarik nafas dalam-dalam. Senyum Sinta mengembang sembari berlari kecil meninggalkan nenek dan menyusuri jalan menuju warung Yu Parti.
Sesampai di warung Yu Parti suasana tak begitu ramai.
“Sin, mau beli apa ?” sapa Yu Parti.
“Nasi sayur yu, lauknya gorengan saja.” timpal Santi.
Segera Yu Parti menyiapkan apa yang menjadi pesanan Sinta. Namun, saat hendak membayar, tiba-tiba ada seseorang menyela.
“Biar Aku saja yang bayar Sin.” kata seseorang menyerobot.
Sinta menoleh melihat siapa yang ngomong baru saja. Ternyata Dirjo. Seorang pemuda yang sudah lama mencoba memikat hati Santi. Namun, hasrat Dirjo rupanya bertepuk sebelah tangan. Hati Sinta sudah memilih.
“Gak usah Kang, biar Saya bayar sendiri saja.” tolak Sinta sembari memberikan uang kepada Yu Parti.
“Berapa Yu ?”
“Udah yu, biar aku saja yang bayar.” serobot Dirjo. Sontak membuat Sinta terkejut karena semenjak tadi tidak terlihat batang hidungnya, tiba-tiba terdengar suara.
“Ndak. Ndak usah kang. “ tolak Sinta.
“Yu ini uangnya. “ kata Sinta sembari meletakkan uang sepuluh ribuan di meja. Lalu bergegas meninggalkan warung tanpa peduli uang itu lebih atau kurang untuk membayar makanan pesanannya.
Dirjo hanya bengong. Terdiam tiada kata. Untuk kesekian kalinya, usahanya selalu membentur dinding yang keras dan tebal.
__ADS_1
“Sin, Sin !” panggil Yu Parti. Namun, Gadis cantik itu sudah menghilang dengan cepatnya.
“Ini uangnya kembali dua ribu. Orangnya pergi begitu cepat.” gumam Yu Parti.
“Yu, biar kembaliannya Aku kasih ke Santi.” usul Dirjo.
“Oh, baik kalau begitu. Makasih ya Jo.” jawab Yu Parti.
“Sama-sama Yu.” jawab bahagia Dirjo melihat sebuah kesempatan dan harapan.
Bergegas Dirjo pergi dari warung Yu Parti berusaha mengejar Sinta. Dari kejauhan terlihat Sinta tengah berjalan gontai menyusuri tepian jalan. Secepatnya Dirjo mengayuh sepeda sehingga tak seberapa lama Sinta terkejar Dirjo.
“Sin. Sin. “ panggil Dirjo.
Sinta menoleh, memalingkan wajah menuju ke arah sumber suara. Begitu mengetahui Dirjo mengejar dirinya menggunakan sepeda, langkahnya dipercepat setengah berlari. Namun, secepat apa Sinta melangkah tak akan mampu menghindari Dirjo dengan sepedanya. Akhirnya Sinta menyerah, terdiam di sisi jalan sembari menunduk cemberut.
“Ini Sin, uangmu tadi masih ada sisa. Kembalian dari Yu Parti.” jelas Dirjo sembari menyerahkan uang dua ribuan ke Sinta.
“Eh. Makasih ya.” kata Sinta sembari menerima uang sisa pembelian. Ada sedikit penyesalan dan malu karena sudah menduga yang kurang baik. Kalau orang bilang GR.
Sinta melanjutkan langkah kakinya. Namun, Dirjo tak juga beranjak pergi. Dirjo turun dari sepeda dan melangkah bersebelahan dengan Sinta. Serta merta Sinta terdiam. Menghentikan langkahnya.
“Duluan saja kang !” usul Sinta.
“Kenapa Sin ? Takut ada yang marah ya ?” tanya Dirjo. Sinta hanya terdiam. Tidak mengiyakan juga tidak menampiknya.
“Tak bonceng saja yuk !” ajak Dirjo. Sinta menggeleng pelan dan berharap Dirjo segera pergi. Selain Sinta tidak ada hati dengan Dirjo, dalam hatinya juga kuatir kalau kebersamaan mereka di sini diketahui oleh orang lain. Dirjo begitu ulet. Walau Sinta sudah menunjukkan ketidak sukaannya, ia masih berusaha melangkahkan kaki di sebelah Sinta.
“Sin. Sin. “ segera Sinta menoleh mencari arah sumber suara. Hatinya sangat gembira begitu mengetahui Diah memanggil dirinya.
“Diah !” ujar Sinta sembari melambaikan tangannya.
Sinta segera menghapiri Diah yang bersepeda menuju kearahnya.
“Darimana Sin ? Eih, ada Dirjo” tanya Sinta.
“Aku nganggu ya ?” goda Sinta.
Seketika gerakan tangan reflek Sinta menimpuk punggung Diah.
“Sakit.”
“Makanya jangan usil.” pekik Sinta sembari menaruhkan pantat di boncengan sepeda.
“Jalan.” bisik Sinta pada Diah.
“Lho, bukannya lagi duaan sama Dirjo.” jawab Diah perlahan sembari matanya melirik ke Dirjo. Pancaran mata Dirjo menunjukkan ketidaksukaan akan hadirnya Diah.
__ADS_1
“Jalan. “ bisik Sinta sembari mencubit pinggang Diah.
“Auw. Sakit neng.” jerit Sinta.
“Makanya. Jalan.” ulang Sinta sekali lagi.
Tidak ada pilihan lain, Diah segera mengayuh sepedanya. Gowesan kaki Diah tak seberapa cepat. Jalannya limbung kiri kanan. Maksud hati menghindari Dirjo, malah Dirjo dengan santainya mengayuh sepeda di samping mereka.
“Berat Yah ?” tanya Dirjo. Ada sedikit mengejek dalam senyumannya.
“Gak usah mengikuti Kita. Duluan Jo !” seru Diah.
“Ndak pa pa. Aku mau bareng kok.” jawab Dirjo.
Sinta merasa gerah dengan situasi ini. Senyumnya yang penuh dengan kebahagiaan dengan hadirnya Diah, seketika sirna melihat Dirjo begitu menikmati mengayuh sepeda di samping Diah.
“Cepat dikit Yah !” protes Sinta.
“Kamu berat tahu. Sekarang kamu tu gendut. “ balas Diah.
“Asem. Gedutan kamu daripada aku.” timpal Sinta.
“Ayo jalan.” bisik Sinta.
Sekali lagi Diah mengayuh sepedanya. Tapi, seperti sebelumnya, laju sepedanya terseok-seok. Limbung ke kanan dan ke kiri. Senyum tipis Dirjo mengekspresikan kemenangan. Begitu santai Dirjo mengikuti laju sepeda Diah. Sesekali melirih ke arah Sinta. Namun segera memalingkan muka begitu melihat muka Sinta ditekuk dan matanya melotot tajam.
Laju sepeda Diah bukannya makin kencang tapi melambat seiring dengan nafasnya yang ngos-ngosan. Akhirnya habis sudah tenaga yang dimiliki Diah. Sepeda terhenti.
“Kenapa Yah ?” tanya Sinta.
“Capek tau.” timpal Diah. Sinta melirik ke samping. Dirjopun ikut menghentikan laju sepedannya. “Asem banget.” batin Sinta.
“Udah Sin, Kamu bonceng Aku saja !” kata Dirjo menawarkan diri. Lebih tepatnya mengejek. Sinta cuma terdiam dan menekuk wajah.
“Sini, Aku yang di depan Yah !” bisik Sinta. Diah mengangguk pelan.
Kedua gadis itu pun bergantian posisi. Sinta kini di depan mengayuh sepeda. Sementara Diah di belakang membonceng.
“Welah, mbok sini bonceng Aku saja. Berat lho. Diah kan gendut. “ kata Dirjo.
“Hai. Jaga omonganmu !” teriak Diah. Rupanya tak terima dikatakan gendut oleh Dirjo. Dirjo terdiam membisu. Pasti kecewa dengan celetukannya baru saja.
“Jalan Sin !” teriak Diah.
“Pegangan yang kuat Yah !” tegas Sinta.
Sinta mengayuh sepeda dengan kekuatan yang ada. Semua tenaganya dikeluarkan. Walaupun belum sarapan, tapi energi tersembunyinya dikeluarkan untuk menghindar dari Dirjo. Sontak saja, sepeda mereka melaju dengan kencang. Dirjo sempat tercengang, segera mengejar dua gadis itu. Kejar-kejaran dua sepeda itu terlihat seperti film kartun micky mouse. Sepasang makhluk berusaha menghindar sementara seorang lagi berusaha mengejar.
__ADS_1
Hebat juga tenaga Sinta. Dirjo tertinggal jauh. Beruntunglah rumah Pak Jodi tidak begitu jauh dari warung Yu Parti. Sehingga dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Sinta mampu mengayuh sepedanya dengan cepat sampai di rumah. Begitu sepeda kedua gadis itu berbelok menuju rumah, Dirjo berhenti. Menghela nafas panjang. Ada rasa sesal yang dalam karena gagal dalam upaya berdekatan dengan gadis pujaan hatinya. Tetapi seperti kata pepatah, bisa berdekatan dengan pujaan hati itu sudah cukup untuk membuat hati berbunga-bunga.
Akhirnya, dengan laju perlahan, Dirjo meninggalkan buruannya. Mengayuh sepeda dengan santai sambil mendendangkan lagu tentang cinta dan kerinduan.