Senandung Cinta Gadis Desa

Senandung Cinta Gadis Desa
Bagian 26


__ADS_3

Sinta membawa seember air ke dapur. Lalu mulai memasak air.


"Tante masak apa ?" tanya Jason yang tiba-tiba nongol di depan Sinta.


"Masak air." jawab Sinta singkat.


"Kamu lapar ya ?" tanya Sinta.


Jason mengangguk pelan. Rupanya obrolan mereka di dengar Nenek Ijah.


"Sekalian saja masak buat makan malam Nak Sinta !" ujar Nek Ijah.


"Baik Nek. Nek Ijah pengin makan apa ?" tanya Sinta.


"Itu disitu ada telur bebek. Kalau pengin ikan, tinggal ambil di kolam belakang rumah. Kalau mau makan bebek, besok saja. Harus tangkap sendiri, lalu disembelih sendiri." kata Nek Ijah selanjutnya.


"Wah, lengkap juga ya Nek ! Semua ada dan tidak usah beli." ujar Sinta.


"Itulah, makanya Nenek betah sekali tinggal di sini. Semua di sediakan alam." kata Nenek.


"Baik Nek. Saya masak dulu."


"Aku bantuin ya Tan !" pinta Jason.


Sinta mengangguk. Mereka berdua begitu harmoni menyiapkan makan malam buat semuanya. Jason keluar sebentar menangkap ikan di kolam. Sinta dengan sigap menyiapkan bumbu dan mengolahnya. Nek Ijah tertawa melihat tingkah Sinta dan Jason.


"Anakmu ini lucu sekali Sin." ujar Nek Ijah sembari menyeruput secangkir teh.


Sinta dan Jason terkejut mendapat komentar begitu. Mereka lalu berpandangan.


"Iya Nek, lucu dan menggemaskan." jawab Sinta sekenanya.


Tak seberapa lama makanan sudah siap.


"Ayo Nek, makanan sudah siap. Jason, ayo. Tadi katanya lapar."


Jason mendekati Sinta malu-malu. Memang Dia menahan lapar. Oleh karena itu, Jason mengambil nasi dan lauk begitu banyak.


"Mumpung gratis." batin Jason.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama makanan yang dimasak Sinta ludes. Nek Ijah juga ikut lahap makan bersama. Terlihat beberapa kali menambah nasi dan lauk. Sinta sangat bahagia, masakannya disukai oleh nenek dan Jason.


Malam menjelang. Sang mentari mulai enggan menyinari bumi. Ia berlari perlahan dan bersembunyi di ufuk barat. Suara burung hantu mulai terdengar. Lengkingannya membuat bulu kuduk berdiri. Membuat bulu roma merinding. Membuat malam semakin mencekam dan menakutkan.


Jason semakin erat memekul Sinta. Ia ingin secepatntya merasakan damainya dalam pelukan Sinta. Sebuah kerinduan seorang anak pada ibunya.


Malam ini dilalui dengan bahagia. Tertidur nyenyak dan mimpi indah. Mungkin itulah tidur paling damai yang pernah dialami Jason dan Sinta. Padahal mereka hanya tidur di atas tikar pandan dan ranjang bambu. Namun, suasana hati mereka tidak mampu dipengaruhi oleh benda-benda di sekelilingnya.


Tanpa terasa pagipun tiba. Merekapun segera bangun dan bersiap-siap melakukan aktivitas hari ini. Sintapun belum tahu apa yang akan dilakukan hari. Selama ini yang dilakukan agar terhindar dari Tono dan Danu. Pegal-pegal di kaki akibat melangkah lam kemarin, belum begitu hilang.


"Jason, sudah pagi. Ayo bangun !" kata Sinta berbisik membangunkan Jason.


"Masih ngantuk Tan." jawab Jason malas.


"Ya udah, Tante tinggal ya. Tante mau mandi di sungai." kata Sinta.


Mendengar itu, Jason segera bangun.


"Kalau mau mandi di sungai, Aku ikut." kata Jason.


Setelah berpamitan pada Nek Ijah, merekapun pergi ke sungai.


Tanpa ragu Jason segera membuka bajunya. Hanya mengenakan cancut, Jason langsung menceburkan diri ke sungai. Bahagia sekali bocah itu bisa berenang ke sana ke mari. Sinta tertawa melihat tingkah Jason. Sesaat hilang kesedihan akibat perjalanan hidupnya.


Sinta siap-siap ikut mandi sungai. Kali ini, Sinta agak nekat. Dilepasnya baju dan celana panjangnya. Lalu nyemplung ke sungai hanya mengenakan ****** ***** dan kutang.


Begitu tubuhnya terendam di sungai, kesegaran segera menyelimuti seluruh tubuhnya. Ingatannya kembali ke masa lalu, saat bermain air di sungai dengan Diah. Sinta seperti menemukan kembali hidupnya. Begitu lincah berenang ke sana ke mari. Tubuhnya yang padat berisi meliuk-liuk di air sungai. Apalagi Sinta hanya mengenakan dalaman. Sekilas terlihat tak mengenakan apapun. Jadi seperti putri duyung bercengkerama dengan ikan.


Jasonpun terpesona pada sesosok perempuan yang sudah dianggap ibunya. Namun, Jason tetaplah seorang lelaki. Matanyapun melotot melihat Sinta bertingkah seperti itu. Perpaduan yang sempurna antara keindahan seorang perempuan dengan indahnya alam. Pemandangan seperti itu telah membuat Jason tanpa sadar diam melongo. Batang kecil miliknya mulai bangkit. Selama ini, batang itu belum pernah bangkit. Sekarangpun, Jason tak tahu kenapa batang itu bangkit. Selain itu, ada rasa yang menjalar pada diri Jason. Rasa yang begitu indah. Sehingga Ia begitu menikmati pertunjukkan Sinta meliuk-liuk di air sungai.


Perlahan Sinta segera sadar dengan apa yang terjadi pada Jason. Diambilnya kerikil kecil, lalu ditimpuknya ke Jason.


"Aduh Tante, sakit." teriak Jason.


"Makanya, jangan nakal begitu." balas Sinta.


"Nggak kok Tan." kata Jason sambil berenang kembali.


Jasonpun tertawa dan kembali berenang. Merekapun asyik beraktivitas. Sampai tiba-tiba terjadi sesuatu pada Jason.

__ADS_1


"Aduh Tante. Tolong !" teriak Jason seperti mau tenggelam. Tangannya menggapai-gapai berusaha meraih sesuatu untuk pegangan. Namun, tak ada yang diraih untuk dipegang.


"Tante ! Tolong ! Tolong !" teriak Jason sekali lagi. Lalu hening tak ada suara.


"Jason ! Jason !" pekik Sinta melihat kejadian itu.


Segera Sinta berenang ke arah Jason. Namun Jason tak jua timbul di permukaan. Sinta menyelam, terlihat Jason melayang di dalam air. Sinta segera meraih tubuh Jason dan di bawa ke pinggir sungai. Jason tergeletak dan berbaring.


"Jason ! Jason !" teriak Sinta berusaha membangunkannya. Namun, Jason sama sekali tidak bereaksi.


"Jason ! Jason !" sekali lagi Sinta berusaha membangunkan Jason. Dipeluknya Jason erat-erat ke dada Sinta.


Saat kepala Jason menempel di dada Sinta, diam-diam Jason membuka matanya dan tersenyum manis. Apalagi, saat Sinta semakin erat memeluk Jason. Jason dengan nakal berusaha mencium dada Sinta. Hembusan nafas Jason terasa oleh Sinta, apalagi jantung Jason berdetak normal, Sinta tersadar kalau sedang dikerjai bocah kecil itu. Tiba-tiba dilemparnya Jason ke tanah.


"Aduh, sakit Tan." teriak Jason.


Sinta segera meraih bajunya dan kembali berpakaian.


"Nanti malam tidak boleh tidur sama Tante ya !" teriak Sinta kesal.


"Maaf Tan. Maaf. Habis, Tante cantik dan ." kata Jason terputus.


"Dan apa ?" hardik Sinta.


"Dan seksi." kata Jason sambil berlari menjauh.


"Jason. Awas ya ! Tante nggak mau masakin lagi." ancam Sinta.


"Maaf Tan. Maaf, cuma bercanda." kata Jason menghiba.


"Bodo !" balas tegas Sinta sambil bergegas meninggalkan Jason.


"Tante ! Tunggu !" teriak Jason yang kemudian mengejar Sinta.


Mereka segera pulang ke tempat Nek Ijah setelah asyik bermain di sungai.


"Tante, selanjutnya kita kemana ?" tanya Jason pada Sinta.


"Kita cari makanan yuk ! Buat makan pagi." kata Sinta.

__ADS_1


"Di rumah Nenek Ijah kan banyam bahan makanan Tan." kata Jason.


"Itu kan milik Nek Ijah. Kita kan menumpang di sana, harus pandai-pandai jaga diri." kata Sinta menjelaskan pada Jason. Mereka melanjutkan perjalanan dengan tangan bergandengan mesra. Kejadian di sungai tadi tidak berpengaruh dalam kedua mahluk Tuhan itu.


__ADS_2