
Tubuh Sinta melayang jatuh dalam jurang. Melayang dalam kedalaman jurang yang sangat dalam. Tubuhnya melayang laksana orang yang terjun bebas dari pesawat untuk melakukan terjung payung. Sesekali tubuhnya tersangkut ranting daun yang menjorok ke dalam jurang. Namun, ranting itu tidak mampu menahan beban tubuh Sinta. Ranting itu patah dan menyertai Sinta terjun bebas ke kedalaman jurang.
Tak ada suara yang terlontar dari mulut Sinta. Lidahnya sudah kelu. Bibirnya ingin berteriak namun tidak ada satu katapun yang terlontar dari mulutnya. Seperti ada yang mencekik tenggorokan Sinta. Tubuhnya terjun bebas ke bawah jurang.
Namun di dunia ini semua terjadi atas kehendak Tuhan. Manusia boleh saja berusaha semampunya tapi Tuhanlah yang menentukan segalanya. Begitu juga dengan Sinta. Beruntung, ada bagian jurang yang menjorok ke arah dalam jurang. Bagian itu ditumbuhi dengan pephonan rimbun. Tubuh Sinta menyangkut di pohon itu. Berayun-ayun di pohon dahan yang rapuh. Tak menunggu lama, tubuh Sinta jatuh menghempas di tanah.
Brugh. Gelap.
Dunia seperti dimatikan lampunya. Tak ada lagi kisah yang bisa disaksikan. Tak ada lagi pemandangan indah untuk dinikmati. Tak ada lagi kecantikan yang bisa memuaskan mata lelaki. Semua gelap.
Seperti itu yang dialami oleh Sinta. Gelap dan tak ada yang bisa dirasakan. Sinta tergeletak tak sadarkan diri. Angin kencang yang bertiup tak mampu menyadarkannya. Hujan gerimis juga tak mampu membuatnya terbangun. Begitu juga dengan hujan deras yang mengguyurnya tak mampu membuatnya membuka kedua kelopak matanya. Sinta tetap saja tergeletak menutup matanya dengan damai. Seolah tak ada masalah yang tengah dihadapinya.
Satu hari, dua hari hingga tiga hari, Sinta belum juga terbangun dari pingsannya. Apakah ini jadi akhir dari perjalanan hidup Sinta ? Apakah sudah berakhir cerita Sinta di dunia ini ? Tak ada tanda-tanda kehidupan dalam diri Sinta. Tubuh Sinta tergeletak tak berdaya seperti tubuh manusia yang baru saja meninggal dunia.
Hari keempat Sinta tergeletak pingsan. Matahari pagi bersinar begitu cerah. Sinarnya menerpa wajah Sinta dan menghangatkan tubuhnya. Baju yang basah terkena terpaan hujan perlahan mulai mengering. Kehangatannya membuat tubuh Sinta mulai berubah warna. Namun, tubuh sinta masih diam tak bergerak. Memang sudah kehendak alam semua itu terjadi dengan Sinta. Tubuh Sinta sudah berubah menyerupai batu. Warnanya sudah serupa dengan tanah di tempat Sinta tergeletak.
Oleh karena itu, beberapa ekor burung hinggap di tubuh Sinta. Tubuh Sinta menjadi tempat nyaman buat hinggap. Burung-burung itu mematuk-matuk tubuh Sinta. Tak lama kemudian datang lagi burung lain yang ikut hinggap dan mematuk. Semakin lama semakin burung yang hinggap dan mematuk.
__ADS_1
Kehendak Tuhanlah yang kemudian terjadi pada Sinta. Patukan burung jadi seperti pengobatan akupuntur. Paruh burung jadi seperti jarum akupuntur yang mengaktifkan syaraf-syaraf Sinta. Perlahan jari-jemari Sinta mulai bergerak. Semakin gencar burung-burung itu mematuk tubuh Sinta, semakin banyak organ tubuh Sinta yang mulai aktif. Dari mulai jari-jemari, kaki, dengkul dan akhirnya Sinta membuka matanya. Sinta sadar kembali.
Betapa terkejutnya ketika dilihat begitu banyak burung bertengger di tubuhnya. Namun, Sinta belum mampu menggerakkan tubuhnya. Hanya tangan dan kakinya yang bisa digerakkan.
"Hush ! hush !" teriak Sinta yang membuat burung-burung itu terbang dari tubuh Sinta.
Sinta tetap tergeletak. Tubuhnya belum bisa digerakkan. Hanya tangan dan kakinya yang bisa digerakkan. Sinta merasa lemas sekali, karena sudah empat hari tidak sadarkan diri. Dia berusaha melihat kesekelilingnya. Ada gua di sebelah kiri badannya. Sinta berusaha duduk, namun belum bisa. Lalu berusaha menggulingkan badan, ternyata gerakan ini mampi dilakukannya. Sinta menggulingjan badan ke arah gua.
Saat ini Sinta sudah di dalam gua. Tubuhnya betul-betul lemas. Sinta berusaha sekuat tenaga untuk duduk. Perlahan Dia bisa duduk bersandar di dinding gua. Hujan mulai turun rintik-rintik. Sinta memandang ke arah luar gua, tempat dia terjatuh dengan pandangan kosong. Hatinya sedang meratapi nasibnya. Berbagai kejadian silih berganti dan semuanya menimbulkan penderitaan bagi dirinya.
"Kenapa semua ini menimpaku ?" bisik Sinta.
Pandangannya menerawang ke atas. Perhatiannya langit-langit dekat mulut gua. Asanya sudah hampir punah. Namun, begitu gembiranya tatkala Dia melihat begitu banyak sarang lebang di langit-langit gua. Sarang lebah dengan begitu banyak madu seakan melambai ke Sinta untuk segera mengambil dan meminumnya.
"Bagaimana aku hendak ke atas sana ? Bergerak saja susah. Bagaimana hendak mendapatkan madu itu ?" batin Sinta. Sambil merenung tangannya bermain-main dengan batu kerikil.
"Tunggu ! Seandainya sarang lebah itu aku sambit pakai batu kecil pasti tidak akan mengganggu lebahnya. Madunya nanti akan menetes ke bawah." batin Sinta.
__ADS_1
Sinta mencobanya. Diambilnya batu kerikil kecil yang sekiranya tidak menganggu komunitas lebah. Dilemparnya ke arah sarang lebah, namun karena tubuh Sinta lemas jadi batu cuma terlempar tidak jauh. Jauh dari target. Namun Sinta tam menyerah. Diambil lagi batu kerikil lalu sekuat tenaga disambitnya sarang lebah di langit-langit gua.
Trap.
Kali ini berhasil. Lebah tidak terganggu dengan sambitan kerikil Sinta. Namun sayang, tidak ada madu yang menetes jatuh. Sinta menghela nafas panjang. Setidaknya Ia sudah mencoba. Disandarkan tubuhnya ke dinding gua sambil memejamkan mata. Semoga semua ini bisa dilewati olehnya. Mata terpejam untuk melupakan semua peristiwa yang menimpanya. Namun malah terbayang semuanya. Dio, Jodi dan Jason. Semuanya itu melintas dalam benaknya.
Tiba-tiba ada air menetes di pipinya.
"Air hujan masuk." batin Sinta.
Sinta membuka matanya. Namun dia tiba-tiba bersorak kegirangan.
"Terima kasih Tuhan." serunya. Air yang dikira air hujan ternyata madu yang menetes dari sarang lebah.
Sinta mengumpulkan segenap kemampuannya untuk menjangkau daun yang ada di sekitar mulut gua. Dia segera membuat takir dan digunakan untuk menampung madu yang menetes. Takir adalah kotak yang dibuat dari daun dan digunakan untuk menampung makanan.
Sinta dengan sabar menampung madu yang menetes dari sarang lebah di atas gua. Setelah dirasa cukup lalu diminumnya untuk mengganti makanan yang belum ditemukan. Sinta sangat bersyukur bisa menemukan madu. Itu akan menjadi langkah awal kebangkitan dirinya.
__ADS_1
Setiap hari Sinta minum madu. Karena khasiat madu, lama kelamaan Sinta menjadi pulih. Perlahan-lahan tubuhnya berfungsi kembali. Semua kembali semula. Sinta bisa berdiri lagi, berjalan dan berlari seperti sedia kala. Sinta tersenyum bahagia. Ia berdiri, kemudian menari-nari dan berputar-putar di dalam gua. Beruntung di dalam gua ada cekungang kecil mirip kolam renang alam. Tanpa ragu Sinta menceburkan diri di dalamnya dan mandi sepuas-puasnya. Begitu lama Dia tidak merasakan sejuknya air. Semenjak jatuh, hingga bisa beraktifitas kembali.