Senandung Cinta Gadis Desa

Senandung Cinta Gadis Desa
Bagian 14


__ADS_3

Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Sembilan bulan sudah sejak Sinta ditinggal menikah lagi oleh Tono. Kini, Sintapun telah melahirkan seorang anak lelaki. Masalahnya semenjak Sinta nikah lagi dengan Jodi, Ia begitu antipati dengan anak dalam kandungannya. Bahkan sempat meminta Jodi untuk menggugurkan anak itu. Namun tidak ada klinik yang bersedia melakukannya karena bayi sudah membesar.


Sudah menjadi kehendak Tuhan bayi itu lahir ke dunia.


"Aku ingin menyerahkan bayi ini ke panti asuhan." kata Sinta.


"Apa ? Kamu serius ?" tanya Jodi.


"Aku tidak bisa menghapus bayang-bayang Tono setiap kali melihat bayi itu. Kalau bayi itu masih bersamaku, Aku akan mengajarkan kebencian pada Bapaknya." kata Sinta antara sedih dan marah.


"Kalau kau mau merawatnya, aku siap kok. Tidak usah takut, aku akan menjaganya seperti anakku sendiri." kata Jodi.


Namun Sinta menggeleng perlahan. Hatinya sudah bertekad menghapus jejak Tono dalam hidupnya dan memulai lembaran baru dengan keluarganya yang baru.


Pihak pinta asuhan menerima anak Sinta dengan syarat anak itu dilepas tanpa ikatan apapun. Sinta tidak boleh mencari lagi dan menghubungi anaknya lagi. Artinya putus sudah hubungan Anak dan Ibu. Sintapun menyetujui. Anak Sinta dibawa oleh pegawai panti ke suatu tempat tanpa ada yang tahu. Sinta hanya menangis dalam hati.


Perang batin berkecamuk antara insting seorang Ibu dan kemarahan sebagai seorang perempuan.


Suasana ini membuat Sinta dalam kondisi mengenaskan. Seperti ketika dulu ketika pertama kali ditinggal oleh Tono menikah. Seperti orang linglung. Kerjanya hanya makan, tidur dan seperti itu setiap hari.


Namun, semenjak Sinta hamil lagi, suasana hati Sinta mulai berubah. Perlahan Ia mulai kembali ke jati diri Sinta yang dulu. Seorang yang ceria dan penuh kasih sayang. Walaupun hamil dari pernikahan yang dipaksakan, tapi benih-benih cinta mulai tumbuh di hati Sinta.


"Hati-hati Pak Jodi. Ini ada dedek bayi di dalam." kata Sinta pada suatu malam saat mereka sedang berduaan.


"Iya. Aku akan hati-hati. Aku kangen banget sama anakku. Boleh kutengok ya ?" ledek Jodi.


"Ih, Bapak jorok." ujar Sinta.


"Masa bapak tidak boleh nengok anaknya sendiri." kata Jodi.


"Boleh saja. Asal jangan muntah nanti." jawab Sinta malu-malu.


"Kamu lebih jorok Sin." kata Jodi sembari mencumbu Sinta. Sinta tersenyum malu-malu. Wajahnya memerah tandanya Ia juga menyimpan hasrat.


Begitulah kehidupan mereka. Tidak ada yang berubah. Sinta tetap memanggil Jodi dengan Bapak. Begitu juga dengan Jodi, memanggil Sinta dengan namanya. Namun semua itu tidak mengubah kemesraan di antara mereka berdua.


Hari-hari mereka penuh dengan kemesraan hingga kehamilan Sinta semakin besar. Hingga Sinta melahirkan anak lelaki buah cinta mereka berdua. Namanya Dio.


"Mirip Aku ya ?" kata Jodi.


"Ya iya lah. Mau mirip siapa lagi ?" jawab Sinta sambil tersenyum.


"Kan bisa mirip kamu Sin." balas Jodi.

__ADS_1


"Enggak. Mirip Bapak kok." kata Sinta.


"Kakek dan Nenek belum tahu lho, kalau Kita menikah. Pasti anak ini dikira anakmu dengan Tono." kata Jodi.


"Biar saja. Kakek dan Nenek juga gak peduli."


"Ya tidak begitu Sin. Sebaiknya kita pulang dan menceritakan yang sebenarnya terjadi." usul Jodi.


"Aku setuju pulang. Cuma tidak setuju kalau cerita tentang Dio. Anak kita." kata Sinta.


"Lho kenapa ?"


"Biar saja. Dulu Kakek dan Nenek juga gak peduli waktu aku pengin lihat Tono menikah." kata Sinta.


"Masih ingat hal itu ? Masih marah juga ?" sahut Jodi.


"Ah, tau ah. Pokoknya tidak usah cerita. Biar saja dikira anak Tono." sahut Sinta ketus.


Pembicaraan mereka terhenti karena Dio menangis. Sintapun menggedong anaknya dan menidurkannya.


Merekapun kembali ke desa. Ke kehidupan alami yang jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota. Dengan menggunakan sedan pribadi Jodi mereka menempuh perjalan pulang. Selama ini belum pernah sekalipun mereka pulang ke desa.


Tentu saja hal itu membuat kakek dan nenek terkejut. Apalagi tidak memberi tahu kepulangannya. Mobil itu berhenti di depan rumah Jodi. Sintapun berjalan kaki menggendong Dio menuju ke rumah kakek dan neneknya di belakang rumah Jodi.


"Oh, ini buyut nenek. Wah, manis dan lucu sekali. Siapa namanya ?" tanya nenek.


"Dio nek." jawab nenek.


Sementara kakeknya tidak begitu menanggapi. Memandangnya dengan dingin. Sehabis bersalaman dengan Sinta lalu keluar rumah.


Sinta melirik melihat kakeknya. Lalu menghela nafas panjang.


"Sabar Sin, kakek masih marah mungkin." kata neneknya menghibur.


"Iya nek." jawab Sinta sambil beres-beres kamar.


Kakek Sinta menuju kerumah Jodi. mereka bertemu tatkala Jodi lagi sibuk membongkar kopernya.


"Eh, kakek." sapa Jodi.


"Terima kasih nak, sudah menjaga Sinta." kata kakek.


"Aduh kakek. Tidak usah begitu." kata Jodi.

__ADS_1


"Usaha di sana lancar ?" tanya kakek.


"Ya begitulah kek. Toko yang aku buka mulai berkembang." kata Jodi sembari tersenyum.


"Kebun di sini panennya bagus kan ?" tanya Jodi.


"Alhamdulillah nak Jodi, belum pernah gagal panen. Untuk catatanya nanti saya sampaikan kalau nak Jodi sudah istirahat." jelas kakek.


"Alhamdulillah. Iya kek. Tidak usah buru-buru." kata Jodi sambil tersenyum.


"Sudah ketemu buyutnya ?" tanya Jodi selanjutnya.


Seketika wajah kakek muram. Antara marah dan gelisah. Jodi melihat perubahan itu.


"Bagaimana Sinta hendak mendidik dan membesarkan anak itu. Betul-betul ceroboh." kata kakek lirih.


Jodi tidak merespon kata-kata kakek. Dia juga mencoba memahami isi hati Sinta tidak buru-buru menceritakan pernikahan mereka.


Jodi dan kakek melanjutkan aktivitas mereka tanpa bercakap-cakap lagi.


Tiba-tiba terdengar suara tangisan keras Dio dari arah rumah nenek dan kakek. Suaranya keras melengking dan tidak kunjung berhenti.


"Kanapa tuh si Dio ?" kata Jodi.


"Biar saja nak Jodi. Sudah ada nenek sama Sinta." jawab kakek.


"Tidak kunjung berhenti kek. Saya lihat dulu ya. Biasanya kan aku gendong kek. Kakek di sini saja meneruskan bongkar koper." kata Jodi.


Kakek sibuk merapikan pakaian Jodi. Suara tangis Diopun sudah tak terdengar.


"Biarpun bukan ayahnya tapi kalau biasa menggendong pasti bayi itu akan hafal." batin kakek.


Saat merapikan koper, kakek melihat ada buku nikah.


"Buku nikah siapa ini. Apa nak Jodi masih menyimpan buku nikah dengan mantan istrinya." batin kakek.


Kakek hanya merapikan buku nikah di meja Jodi. Saat hendak meninggalkan kamar Jodi, kakek berbalik, penasaran ingin tahu buku nikah siapa. Segera mengambil buku nikah itu. Perlahan kakek mulai membuka. Tapi, belum sempat membaca, tiba-tiba ada suara dari pintu kamar.


"Tuh, kake buyut disini !" kata Jodi yang sedang menggendong Dio.


Kakek terkejut dan segera mengembalikan buku nikah itu ke tempatnya dan belum sempat melihat apa-apa di buku nikah itu kecuali covernya.


"Wah, sudah terbiasa dengan nak Jodi mungkin. Sudah hafal tubuh dan baunya." ujar kakek menutupi kegugupannya.

__ADS_1


__ADS_2