Senandung Cinta Gadis Desa

Senandung Cinta Gadis Desa
Bagian 35


__ADS_3

Malam telah datang. Semuanya sudah tertidur. Kecuali Sinta. Perlahan, Sinta keluar rumah. Dia berjalan menuju ke tempat yang disebut pintu gerbang ke desa terisolir itu. Desa tempat istri muda Lurah bersemayam. Sinta ingin mengetahui seperti apa penjagaan di pintu gerbang sehingga bisa pulang ke rumahnya.


Di tengah kegelapan malam Sinta melangkah dengan pasti. Menyusuri jalan gelap dan berbatuan. Setelah sekian lama berjalan sampailah di tempat yang dituju. Penjagaan begitu ketat. Mustahil menerobos penjagaan itu. Hanya orang dengan ijin yang bisa menyeberang dari sisi ke sisi lain.


Para penjaga yang memiliki tubuh perkasa berjajar menjaga dari kedua sisi. Kedua sisi dipisahkan oleh jurang yang begitu dalam. Nyawa Sinta nyaris terenggut oleh kedalaman jurang itu.


Melihat semua itu tubuh Sinta gemetar. Dia tak mengira sedang menghadapi kekuatan begitu besar. Tubuh lemas, hingga jatuh terduduk. Matanya menatap kosong ke arah penjagaan itu.


"Sebetulnya apa yang tersembunyi dari dusun ini sehingga harus dijaga begitu ketat." batin Sinta.


Penjagaan dusun ini seperti penjagaan sebuah kamp militer tersembunyi. Sinta hanya menggelengkan kepala tak memahami dengan apa yang sedang terjadi.


"Dio, apa kabar kamu nak ? Apa kabar dengan bapakmu ? Bisakah kita bersama kembali ?" bisik Sinta lirih.


Tak ada yang bisa menjawab. Semua terdiam. Hanya bunyi dedaunan yang terkena angin malam bergoyang-goyang sehingga menimbulkan suara berisik. Angin malam yang menina bobokan orang-orang yang ingin menikmati istirahat malam setelah bekerja keras di siang hari.


Sorot lampu mobil dari arah perkampungan menerangi pos penjagaan. Mobil itu berhenti sejenak dan menyeberangi jembatan di atas jurang yang menghubungkan kedua sisi tebing. Di pos penjagaan sisi dusun tersembunyi juga berhenti. Sinta berjalan perlahan ingin mengetahui siapa yang datang.


Seorang lelaki keluar dari mobil. Deg. Jantung Sinta nyaris berhenti begitu mengetahui siapa yang keluar dari mobil.


"Tono !" geram Sinta serasa ingin mencakar mukanya. Matanya melotot. Tangannya bergetar ingin menonjok mukanya.


Sinta mendekat lagi. Ingin tahu apa yang dibicarkan oleh Tono dan rekan-rekannya.


"Belum juga terendus jejak Sinta ?" tanya Tono datar.


Semua yang hadir di situ menggeleng.


"Kemana Sinta ? Pandai sekali bersembunyi dia ?" gumam Tono.


"Terakhir kepergok lagi di pasar. Tapi menghilang lagi." jelas salah satu bawahan Tono.


"Sebenarnya yang pak Bos inginkan itu Sinta atau anaknya ?" tanya salah satu bawahannya.


"Dua-duanya. Aku masih mencintainya." ungkap Tono tegas.


"Lagipula aku ,menikah dengan lastri sampai saat ini belum ada momongan. Lastri menuduh aku yang mandul. Hmm. Dia harus tau kalau Sinta sedang hamil pas aku menikahi Lastri." tegas Tono.


"Kenapa dulu tidak menikahi Sinta saja pak Bos ?"


"Aku sudah menikah sirri dengan Sinta."


"Kenapa hanya nikah sirri pak Bos ?"


"Hmmmm. Kamu pengin tau juga ya ?"

__ADS_1


"Kita kan perlu tahu pak Bos. Sinta harus diperlakukan sebagai musuh apa tuan puteri ?"


"Hus ! Awas kalau sampai kalian menyakiti Sinta. Perlakukan Dia seperti seorang tuan puteri. Dia memang betul-betul puteri. Suatu saat dia akan menjadi ratu." tegas Tono.


Pembicaraan mereka berhenti di situ. Tono memasuki mobil. Mobil itupun segera pergi menghilang di kegelapan malam.


Sinta semakin lemas mendengar pembicaraan Tono. Peluang untuk bisa hidup tentram dan damai dengan Jodi dan Dio pupus sudah. Kini Dia harus terlibat dalam konflik antara Tono dan Lastri. Sesuatu yang sebelumnya belum pernah Dia pikiran.


Sinta segera kembali ke rumah nenek Ninda. Dikumpulkannya segenap tenaga yang tersisa agar bisa kembali ke rumah itu.


"Hai siapa itu ?" teriak penjaga melihat kehadiran Sinta.


Sinta terkejut. Lalu dia berlari kencang.


"Hai tunggu !" teriak penjaga itu lebih keras.


Sinta tak peduli. Dia tetap berlari lebih cepat. Tak peduli lagi dengan apa yang terjadi. Beruntung, penjaga itu tak mengejarnya.


Sebelum subuh Sinta sudah sampai di rumah Nenek Ninda. Semua masih tertidur. Sinta masuk ke kamar. Termenung. Duduk di sisi ranjang tanpa sedikitpun kata-kata. Pikirannya masih tertuju pada peristiwa tadi. Rapinya penjagaan. Tampang Tono. Walaupun ada kegeraman melihat Tono, bagaimanapun Tono pernah singgah di hatinya. Bahkan mereka berdua pernah mereguk kenikmatan dunia bersama-sama. Sejujurnya masih ada ruang bagi Tono di hati Sinta. Pernikahannya dengan Jodi hanya upaya untuk menyelamatkan diri.


Sinta terbengong. Matanya menatap kosong ke langit-langit.


"Apa sebaiknya dia menemui Tono dan memulai lagi semuanya dari awal." batin Sinta.


Bingung. Itulah yang terjadi. Semua menimbulkan efek yang tidak enak. Jika Sinta menyerah dan pasrah pada Tono, semua orang pasti akan mencibir. Bisa jadi Lastri akan memberikan balasan yang menyakitkan. Namun, jika menentang Tono dan berusaha keluar dari dusun terisolir itu, Sinta tidak mempunyai kekuatan.


Tak terasa air matanya mengalir dari sudut mata Sinta. Dadanya bertambah sesak. Semakin sesak dan terasa mau meledak.


Sinta bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju jendela. Dibukanya jendela kamar perlahan. Matahari perlahan mulai terbit di ufuk timur. Sinta menghirup udara dalam-dalam mencoba menenangkan hatinya.


Gubrak. Suara benda jatuh diiringi dengan tangisan seseorang.


"Nek, kelincinya lepas lagi !" teriak Ninda sambil menangis.


Nenek Ninda tergopoh-gopoh mendatangi Ninda.


"Lepas kemana ?" tanya Nenek Ninda.


"Kesana Nek !" tunjuk Ninda.


"Ya dikejar. Kamu jadi perempuan bisanya cuma nangis. Laki-laki dan perempuan sama saja. Ayo dikejar." bentak nenek Ninda.


Sinta tersentak. Kata-kata itu memang buat Ninda, tapi amat menusuk hatinya.


"Benarkah perempuan bisanya cuma nangis saja ?" batin Sinta.

__ADS_1


Lagi-lagi Sinta bengong.


“Apakah aku akan seperti Ninda ? Seorang perempuan yang bisanya hanya menangis menghadapi kenyataan ?” bantin Sinta.


Perempuan bisanya hanya nangis saja. Itu kalimat yang terngiang-ngiang di telinga Sinta. Kalimat itu begitu bergaung. Semakin lama semakin keras. Membuat kepala Sinta seperti mau meledak.


“Ya Sinta, kamu bisanya hanya menangis dan berlari. Berlari seperti kelincinya Ninda. Ha ha ha .. “ sebuah suara bergaung keras di kepala Sinta.


“Tidak ! Aku tidak seperti itu.” teriak Sinta.


“Ha ha Sinta. Buktiknya, kamu lagi menangis sekarang. Lagi mewek. Ayo bersimpuh Sinta. Ratapi Nasibmu seperti Ninda itu lho. Lihat Ninda. Duduk bersimpuh karena kelincinya lepas lagi. Enak lho Sinta. Sambil menunggu orang datang membantumu. Ha ha.” lagi-lagi suara itu bergaung di kepala Sinta.


“Tidak ! Aku bukan Ninda dan aku lebih kuat dari Ninda.” teriak Sinta.


Tok. Tok. Tok.


Pintu kamar Sinta diketok.


“Tante ! Tante kenapa teriak-teriak begitu. Tante ! Buka pintunya !”


Ternyata Jason mengetuk pintu Sinta. Terkejut oleh teriakan Sinta.


Sinta tersadar.


“Apa aku sudah gila ? Teriak-teriak sendiri. Lalu menangis.” batin Sinta.


“Tidak apa-apa Son. Tante lagi olah raga kok.” kata Sinta sambil membuka pintu kamar.


“Lalu kenapa Tante teriak-teriak seperti itu ?” tanya Jason penasaran.


“Tuh !” kata Sinta sambil menunjuk keluar jendela. Terlihat di sana Ninda sedang duduk bersimpuh dan menangis.


“Kenapa Ninda Tante ?” tanya Jason selanjutnya.


“Itu lho, kelincinya lepas lagi.” jelas Sinta.


“Oh.” kata Jason.


“Gitu saja ? Ayo dibantuin menangkap ?” ajak Sinta.


Jason menggeleng tegas.


“Kenapa ?” tanya Sinta penuh selidik.


“Nggak ah, nanti malah Jason kena semprot Ninda.”

__ADS_1


__ADS_2