
Jason sedang asyik menikmati ikan panggang terakhir tatkala seorang pria berkuda menghampiri mereka. Langkah kaki kudanya membuat Sinta segera waspada. Dioleskannya abu bekas membakar ikan yang sudah dingin kemukanya. Muka Sinta menjadi cemong karena abu. Tentu saja itu dilakukan agar dirinya terlihat jelek dan tidak menarik perhatian lelaki penunggang kuda.
"Hai dek ! Jangan lupa apinya dimatikan ya !" teriak pria berkuda.
"Iya Om. Pasti." jawab Jason.
Pria itu berpaling hendak pergi. Namun mendadak balik.
"Iya dek. Mba. Nanti kalau ketemu wanita cantik namanya Sinta. Lapor ke kami ya !" kata pria berkuda.
"Seperti itu bukan Om !" kata Jason sambil menunjuk Sinta. Sinta tersentak kaget.
"Jason, apa yang kamu lakukan ?" batin Sinta cemas.
"Ha ha ha ! Bercanda kamu dek. Ini yang dicari tuan puteri Sinta. Bukan puteri abu. Ha ha." pria berkuda tertawa terbahak-bahak. Sinta mendelik. Matanya melotot ke Jason. Jason jadi takut.
"Kalau berjumpa dengan tuan puteri Sinta, beritahu kami di gerbang sana !" ujar pria itu sambil menunjuk arah gerbang yang dimaksud.
"Baik Om !" sahut Jason.
"Baik pak !" sahut Sinta.
Pria berkuda itu pergi. Sinta segera memalingkan muka. Ada rasa takut kalau pria berkuda itu mengenali dirinya. Secepatnya Sinta bersembunyi di semak-semak sampai pria itu pergi.
Jason heran melihat tingkah Sinta. Sampai saat ini Jason belum faham kalau yang dicari memang Sinta yang bersamanya.
"Tante ! Lagi ngapain di situ ? Seperti orang ngumpet ?" tanya Jason.
"Nggak pa pa. Lagi pengin saja." jawab Sinta sekenanya.
"Muka Tante cemong." ujar Jason.
"Oh. Apa iya ?" sahut Sinta pura-pura tidak tahu.
"Berarti betul kata Om tadi. Tante kaya putri abu." Jason berkomentar.
"Biar saja. Gak masalah." jawab Sinta enteng.
"Tante Sinta yang tuan puteri cantik seperti apa ya, wong Tante Sinta yang kaya puteri abu saja sudah cantik. Seksi lagi." gumam Jason.
"Terus. Ngeledek terus. Awas tak tinggal sendirian ntar malam." ancam Sinta menggoda.
"Ih Tante. Jahat amat. Aku cuma bercanda." kata Jason memelas.
"Udah. Ayo jalan ! Cari tempat buat nanti malam." kata Sinta sambil mencuci muka yang cemong karena abu.
"Api sudah padam belum ?" tanya Sinta memastikan.
"Sudah Tante." jawab Jason.
__ADS_1
Mereka berjalan perlahan. Melihat-lihat ke kanan dan ke kiri. Berharap mendapatkan tempat untuk tidur di malam hari ini.
"Capek Tante. Istirahat dulu ya !" pinta Jason.
"Kamu bukan capek, tapi kekenyangan." ujar Sinta.
"Iya ya." sahut Jason.
Mereka berdua duduk istirahat. Sinta duduk sambil mengipaskan daun ke tubuhnya. Saat itulah terdengar teriakan seorang anak kecil.
"Hush. Hush. Nenek, kelincinya lepas !" teriak seorang gadis kecil yang ternyata adalah Ninda.
Teriakan Ninda membuat Jason dan Sinta kaget.
"Eh, Tante. Tolong Tante. Kelinciku lepas. Tuh, lari ke sana." tunjuk Ninda sambil mengejar kelincinya.
Sinta ikut mengejar kelinci itu.
"Jason, kamu hadang dari arah sana !" ujar Sinta.
Jason mengikuti arahan Sinta. Kelinci kini di handang oleh tiga orang. Kelinci berlari ke arah Jason. Jason berusaha menangkap, tapi lepas. Dengan gesit kelinci berlari ke arah Ninda. Ninda berusah menghadang. Jason berusaha mengejar kelinci.
"Jason, loncat. Tangkap kelincinya !" teriak Sinta.
Jason meloncat. Lalu terjatuh.
Hup. Jason jatuh tepat di tubuh Ninda. Nindapun ikut terjatuh. Tubuh mereka bertindihan. Parahnya, hidung Jason tepat menempel di pipi Ninda. Mereka berdua terdiam dalam posisi seperti itu. Jasonpun menikmati halusnya pipi Ninda. Entah apa yang merasuki kedua bocah itu. Mereka terdiam dalam posisi itu begitu lama. Sampai akhirnya.
Ninda segera tersadar kalau hidung Jason dalam posisi mencium pipinya, di dorongnya tubuh Jason sehingga terlontar ke belakang.
"Mana Tante ?" teriak Ninda.
"Ini lho !"
"Hore !" teriak Ninda melihat kelinci sudah di tangan Sinta. Ninda segera berlari menuju Sinta.
"Hati-hati pegangnya nanti terlepas lagi." ujar Sinta.
"Ya Tante." sahut Ninda.
"Eh, Jason. Kamu lagi apa ?" tanya Sinta melihat Jason hanya terduduk bengong.
"Nggak pa pa Tante." sahut Jason.
"Terima kasih ya Tante." kata Ninda.
Tiba-tiba muncul Nenek Ninda.
"Bagaimana Ninda ? Sudah ketangkap kelincinya ?" tanya Nenek.
__ADS_1
"Sudah Nek, dibantu sama Jason dan Tante." jawab Ninda.
"Oh. Gitu. Terima kasih ya Neng." kata Nenek.
"I ya Nek."
"Eh, ayo ke rumah Nenek. Bisa istirahat di sana." ajak Nenek.
"Apa tidak merepotkan Nek ?" tanya Sinta.
"Ha ha. Merepotkan siapa ? Aku hanya berdua sama Ninda. Jangan sungkan. Ayo !" ajak Nenek.
Sinta dan Nenek Ninda berjalan lebih dulu di depan. Mereka berdua asyik ngobrol. Jason dan Ninda mengikutinya di belakang.
"Hai mesum !" kata Ninda sambil melotot ke arah Jason. Jason terkejut. Langkahnya terhenti. Nindapun ikut berhenti.
"Kamu harus tanggung jawab !" tegas Ninda dengan mata yang semakin melotot tajam.
"A a a ku tidak sengaja." kata Jason gugup.
"Tidak sengaja kom nempel terus. Nggak segera dilepas." cibir Ninda.
Jason terdiam. Bingung mau bicara apa.
"Tapi, kamu juga ..." elak Jason.
"Aku apa ? Mau lari dari tanggung jawab ?" tanya Ninda.
"Iya maaf." kata Jason pada akhirnya.
"Terus, aku harus bagaimana ?" tanya Jason pasrah.
Ninda diam. Mereka berdua terdiam. Tanpa disadari Nenek dan Sinta sudah lumayan jauh meninggalkan mereka.
"Kamu harus menikahi aku !" kata Ninda tegas sambil berlari mengejar Nenek dan Sinta.
Jason terkejut. Tapi juga bingung mendengar omongan Ninda.
"Jason, ayok !" teriak Sinta yang sudah jauh melangkah. Sementara Ninda sudah berdiri di samping Neneknya sambil memegang kelincinya erat-erat.
Jasom segera melangkah menuju Sinta. Langkahnya segera dipercepat. Setengah berlari Ia mendekati Sinta. Merekapun segera berjalan menuju rumah Nenek. Sesekali Jason melirik ke Ninda, gadis kecil itu melirik sambil melotot ke arah Jason. Jasonpun segera memalingkan wajah.
Tak seberapa lama mereka sampai di rumah Nenek. Rumah yang sederhana tapi lumayan besar. Rumah yang terbuat dari papan kayu. Ruang tamu yang luamayan besar.
Merekapun disuguhi dengan makanan desa. Semua serba rebusan.
"Ayo silahkan !"
Sinta dan Jasonpun menikmati hidangan yang disuguhkan.
__ADS_1
"Malam ini menginaplah di sini. Aku tahu, kalian bukan orang sini. Kelihatan darj gerak-gerak kalian. Kalian sedang mencari tempat untu bermalam kan ?" ujar Nenek.
Sinta tak kuasa menolak, karena memang tempat bermalam sangat dibutuhkan oleh mereka. Ada banyak kamar sehingga Sinta dan Jason bisa mendapatkan kamarnya masing-masing. Jason segera menuju ke kamarnya. Direbahkannya tubuhnya untuk menghilangkan penat yang setelah jauh berjalan bersama Sinta. Sedangkan Sinta berada di kamar sebelah Jason. Kamar Jason berhadap hadapan dengan kamar Ninda. Sedangkan kamar Sinta berhadap hadapan dengan kamar nenek Ninda.