
Sinta dan Jason duduk bersama di tepi sungai. Menikmati indahnya alam desa dan jernihnya air sungai.
Kriuk. Kriuk.
Terdengar perut Jason menagih jatah makanan. Sinta tersenyum.
"Lapar Son ?" tanya Sinta.
Jason mengangbuk malu-malu.
"Makan ikan mau ?" tanya Sinta.
"Iya Tante. Tapi dapat ikan darimana ?" tanya Jason.
"Itu lho, di situ banyak ikan." tunjuk Sinta ke arah sungai.
"Bagaimana menangkapnya ? Kita tidak punya pancing." ujar Jason.
Sinta tertawa. Sedari kecil sungai adalah dunianya. Menangkap ikan bukan hal yang baru baginya. Bahkan tanpa alat apapun.
"Lihat ini Son." kata Sinta mulai beraksi.
Sinta jalan pelan-pelan di sungai. Tangannya dibenamkan di air mengikuti langkah kakinya yang nyaris tak bersuara. Sinta memajukan kakinya. Kadang juga memundurkan kakinya. Tiba-tiba tangan Sinta bergerak sangat cepat. Mata Jason hampir tak bisa mengikuti gerakan tangan Sinta.
Hup. Seekor ikan meronta di tangan Sinta. Lumayan besar juga ikan yang ditangkap Sinta.
"Lihat nih Son !" teriak Sinta sambil tertawa bangga.
Jason berteriak kegirangan.
"Ayo sekarang Jason coba !" tantang Sinta.
"Oke Tante." jawab Jason siap menerima tantangan.
Jason mencoba meniru apa yang dilakukan Sinta.
"Hore ! Aku dapat lagi !" teriak Sinta.
Jason cemberut. Sekian lama berusaha belum juga berhasil.
"Hore Son ! Dapat lagi !" seru Sinta.
Jason semakin menekuk bibirnya. Bibirnya seperti busur panah. Manyun.
"Udah Son. Sudah banyak ikannya. Besok lagi mencoba menangkap ikan." ujar Sinta.
"Ntar dulu Tante. Sebentar lagi !" jawab Jason setengah berteriak.
"Ya sudah. Kamu lanjutin latihan menangkap ikan. Tante masak dulu ya ?" ujar Sinta.
Sinta menyiapkan panggangan ikan dari kayu, sedangkan Jason masih sibuk menangkap ikan. Gigih juga anak itu.
"Hore Tante. Dapat nih !" teriak Jason kegirangan.
Sinta mengacungkan jempol. Sebenarnya yang di dapat Jason bukan ikan, tapi kecebong. Namun, Sinta tidak ingin memupus kebahagiaan Jason.
Tempat pemanggangan sudah jadi. Tinggal memanggang ikan.
"Apinya bagaimana Tan ?" tanya Jason.
Tanpa menjawab pertanyaan Jason, Sinta mengumpulkan dedaunan kering. Lalu diambilnya dua buah batu. Diadunya batu itu dekat dedaunan kering yang diiumpulkannya. Percikan api yang timbul membuat daun kering itu jadi terbakar.
"Weih. Kok bisa ya Tante !" teriak Jason senang.
"Tante hebat !" puji Jason.
__ADS_1
"Ayo kita panggang ikannya !" ajak Sinta.
Mereka mulai memanggang ikan hasil tangkapan Sinta. Asyik sekali Jason memutar-mutar ikan yang sedang di panggang.
Tanpa mereka sadari ada dua orang lewat di samping mereka. Seorang Nenek dan cucunya yang masih kecil. Ikan panggang itu menarik perhatian cucunya.
"Nek. Pengin ikan itu !" bisik cucunya pada Nenek yang menyertainya.
Sinta mendengar itu.
"Ayo Nek ! Adek ! Sini !" ajak Sinta.
Dua orang nenek dan cucunya menghampiri Sinta.
"Silahkan Nek ! Ini siapa namanya ?" tanya Sinta pada gadis kecil.
"Ninda." jawab anak itu pendek.
"Ayo Ninda. Silahkan dicoba. Cuma tidak pakai bumbu." ujar Sinta seraya menyerahkan seekor ikan bakar pada Nenek dan Ninda.
"Nek, bumbu-bumbu yang dari pasar tadi mana ?" tanya Ninda pada Neneknya.
"Oh iya. Saya punya bumbu. Tadi dapat di pasar." ujar Nenek sambil mengeluarkan bumbu yang dibawanya. Lengkap sudah acara makan ikang panggang di pinggir kali.
"Wah. Terima kasih Nek. Mantap ini." sahut Jason.
"Ayo ! Ayo. Nanti kalau kurang saya tangkapkan lagi." kata Sinta.
Mereka dengan lahap memakan ikan panggang hasil tangkapan Sinta.
"Ngomong-ngomong kalian berdua bukan orang sini ?" tanya Nenek memecah kebisuan.
"Bagaimana Nenek bisa tahu ?" tanya Sinta balik.
"Oh. Kami jalan terlalu jauh Nek. Tiba-tiba Jason lapar." kata Sinta berbohong.
"Apa kamu pernah bertemu perempuan bernama Sinta ?" tanya Nenek.
Jason dan Sinta saling berpandangan.
"Memang kenapa Nek ?" tanya Sinta penasaran.
"Juragan Tono, sedang mencari keberadaan Sinta. Itu Istri sirinya." kata Nenek berbisik.
Jason melirik pada Sinta. Sinta menggelengkan kepalanya pelan.
"Dapat duit banyak kalau bisa memberi informasi keberadaan Sinta." lanjut Nenek.
Sinta dan Jason terdiam.
"Sejak Sinta di bawa ke sini, jejaknya menghilang. Tapi dipastikan belum keluar kampung." ujar Nenek.
"Ini kampung apa sih nek ?" tanya Jason.
"Ini kampung tersembunyi. Dulu buat tempat tinggal Istri mudanya pak Lurah. Kampung ini di kelilingi jurang. Jadi kalau sudah masuk, keluarnya hanya lewat 1 gerbang. Tuh di sono." jawab Nenek sambil menunjuk ke arah barat.
"Lho. Kamu belum tahu juga." tanya Nenek keheranan.
"Jason masih kecil Nek. Belum tahu masalah seperti ini." jelas Sinta sedikit gugup.
"Ya. Ya." jawab Nenek sambil mengangguk-angguk.
"Nek ! Ayo ! Sudah." rengek Ninda cucu Nenek.
"Oh Ya. Maaf ya Nak. Si Ninda ini." kata Nenek.
__ADS_1
"Kami permisi dulu. Terima kasih atas ikan panggangnya." lanjut Nenek.
Mereka beranjak pergi.
"Nek, tunggu ! Ini bumbu-bumbunya ketinggalan." kata Sinta.
"Sudah, buat kalian saja." sahut Nenek.
"Terima kasih Nek." sahut Jason gembira.
Nenek dan Ninda segera pergi. Lalu menghilang dari pandangan Sinta dan Jason.
"Jadi, kampung ini memang buat tempat menyembunyikan Istri muda pak lurah. Makanya banyak misteri." kata Jason.
"Tidak usah sok tahu Son !" timpal Sinta.
"Lho yang ngomong Neneknya Ninda tadi." sanggah Jason.
"Huhh." ujar Sinta.
"Istri sirinya juragan Tono itu Sinta. Eh, Sinta itu kan Tante. Jangan-jangan !" kata Jason.
"Tidak usah sok tahu. Memang nama Sinta hanya aku saja. Sana laporkan ke Tono kalau Sinta ada di sini." tantang Sinta.
"Tante tidak usah marah begitu. Yang penting istrinya juragan Tono itu kan bukan Tante." kata Jason selanjutnya.
Jason memandangi Sinta dengan tajam. Dipandanginya dari ujung rambut sampai ke ujung kaki.
"Tapi, Tante pantas kok kalau jadi Istri juragan Tono." timpal Jason.
"Bisa diam gak !" bentak Sinta.
"Iya Tante." kata Jason takut.
Mereka berdua terdiam. Sinta asyik dengan ikan panggang yang sudah lengkap rasanya. Jason asyik dengan segudang pertanyaan, kenapa Sinta marah. Masing-masing tenggelam dalam pergulatan rasa dalam dirinya masing-masing.
"Jason, jangan lupa api dimatikan kalau sudah selesai." kata Sinta.
"Tante, aku pengin lagi. Tapi ikannya habis."
"Belum kenyang juga ?" tanya Sinta.
"Ini yang di dalam perut ada cacing apa naga ?" ujar Sinta sambil tertawa.
"Ih Tante. Tidak lucu." jawab Jason sambil balik kembali ke sungai mencoba menangkap ikan. Sinta mengikutinya, namun tidak ikut turun ke sungai. Ia membiarkan Jason menangkap ikan sendiri.
"Ayo Jason, pasti bisa." kata Sinta memberi semangat.
Hap. Hap.
Namun belum ada jua seekor ikan di tangan Jason.
"Ayo, coba lagi !" tantang Sinta.
Jason mencoba lagi. Dia melangkah perlahan di sungai. Tangan ya sudah di benamkan ke air. Dan ...
Hap. Seekor ikan menggelepar di tangan Jason.
"Hore Tante. Bisa ! Bisa !" teriak Jason kegirangan.
Sinta mengancungkan jempolnya dan bertepuk tangan.
"Hebat Jason ! Ayo segera di panggang ! Keburu sore." teriak Sinta.
Matahari sudah berada di sisi barat. Semburat merah tembaga menyambut petang yang datang menjelang.
__ADS_1