Senandung Cinta Gadis Desa

Senandung Cinta Gadis Desa
Bagian 20


__ADS_3

Sinta sudah mulai menapaki kehidupan berbeda saat ditolong oleh keluarga Rejo. Namun, yang terjadi pada Jodi adalah kepanikan. Apalagi sampai malam hari Sinta tak kunjung pulang. Dio sedari tadi menangis.


"Tadi pagi pamitnya gimana Nak Jodi ?" tanya Kakek.


"Minta berangkat dulu Kek, katanya mau bantu-bantu Diah. Memang waktu itu saya belum siap. Jadi Sinta memilih untuk berangkat dulu." jawab Jodi.


Muka-muka cemas terlihat di wajah mereka. Di rumah Jodi sedang berkumpul beberapa warga yang sedari sore membantu mencari Sinta.


"Kang Parman sudah dicek jalan kerumah Diah ?" tanya Kakek.


"Sudah Kek. Jejaknya berhenti di jalan aspal. Habis itu hanya ada jejak mobil. Banyak sekali jejak mobil. Info kita terputus di situ." kata Parman memberikan informasi.


"Hmmm. Kemana kamu Sin ?" gumam Jodi.


Hari sudah larut malam. Dio tertidur karena mengantuk dan kecapaian.


"Apa sudah ditelusuri di sungai-sungai Man." tanya Jodi.


"Wah, kalau itu belum Pak." jawab Parman.


"Kamu pergilah dengan Sarmin. Coba telusuri sungai yang berada di samping jalan. Siapa tahu ?" perintah Jodi.


"Baik Pak. Kita akan mencoba menelusurinya." kata Parman dan Sarmin. Mereka segera bergegas menjalankan perintah Juragannya.


Kepergian Parman dan Sarmin tidak membuat rasa gelisah dan kuatir yang melanda Jodi mereda, bahkan semakin bertambah. Tangan Jodi seringkali memijit kepalanya karena pusing. Baru kali ini Sinta membuat rasa gelisah dalam diri Jodi.


"Kek, saya akan ikut mencari Sinta. Tolong jaga Dio. Kalau saya di rumah terus, saya tambah pusing." kata Jodi pada Kakeknya.


"Ya Nak Jodi. Apa perlu saya temani ?" tanya Kakek.


"Jangan Kek. Kakek di rumah saja. Biar saya sama Slamet." kata Jodi sambil mengajak Slamet. Slamet adalah salah satu pegawai Jodi juga.


"Baik Pak. Saya siap mendampingi Bapak." jawab Slamet.


"Sementara Kakek dan Nenek tidur di sini saja. Biar saya mudah nanti dalam koordinasi." kata Jodi.


"Yang lain berjaga-jaga di rumah dulu. Nanti kita akan bergantian mencari." kata Jodi pada pegawainya yang berkumpul di rumahnya.


"Yang belum kebagian nyari, istirahat dulu. Nanti gantian sama yang lain."


"Baik Pak."


Jodi berangkat mencari Sinta didampingi oleh Slamet menggunakan mobil sedan. Mereka menelusuri jalan yang mungkin dilalui oleh Sinta. Bermula dari depan rumah Jodi hingga sampai rumah Diah. Tak ditemukan apa-apa. Dari depan rumah Diah, Jodi melanjutkan terus mencari. Bablas hingga sampai rumah Lastri.


Sesaat hendak meninggalkan area sekitar rumah Lastri, tiba-tiba ada seseorang menghampiri. Seseorang yang mengenakan jaket hitam, topi hitam dan berkacamata. Dari dandanannya memang sengaja hendak menutupi jati dirinya.


Orang itu menghentikan Jodi.

__ADS_1


"Selamat malam Pak Jodi." sapa lelaki itu.


"Malam pak. Ada apa ?" tanya Jodi penuh keheranan.


"Juragan saya pengin ketemu pak Jodi." kata orang itu.


"Oh. Siapa juragan sampeyan ? Ada perlu apa ?" tanya Jodi.


"Ini ada hunbungannya dengan hilangnya Sinta. Bapak sebaiknya turun dari mobil. Ikuti saya." katanya selanjutnya.


Jodi segera keluar dari mobil, diikuti oleh Slamet.


"Saya sebaiknya ikut pak Jodi atau tunggu di sini ?" tanya Slamet yang berfikir untuk menunggui mobil.


"Ikut saja Met. Tidak usah difikir mobik ini. Yang penting keselamatan Sinta dan kita." kata jodi.


"Baik pak." kata Slamet segera mengikuti langkah pak Jodi dan lelaki misterius itu.


Lelaki itu berjalan menembus malam, menembus pepohonan. Kayaknya dia menuju ke sebuah perkebunan. Jalan yang dilaluinya betul-betul gelap. Tak ada penerangan kecuali yang dipegang oleh lelaki itu dan Slamet. Cukup lama mereka berjalan. Jauh ke tempat yang sunyi. Sampailah mereka ke tepi hutan. Tempat itu perbatasan dengan perkebunan.


Ada sebuah rumah kecil yang terbuat dari bilah-bilah bambu. Tampaknya itu adalah tempat istirahat para pekerja.


Lelaki misterius itu berhenti di sana.


"Masuk. Juragan sudah menunggu di dalam !"


Jodi memasuki rumah bambu itu. Didapatinya seseorang berpakain hitam dengan penutup muka dan kepala. Orang itu duduk menghadap ke tembok. Jodi hanya melihat punggungnya.


"Selamat malam." jawab Jodi.


"Berhenti di situ pak Jodi. Jangan mendekat lagi." suruh orang itu.


Jodi berhenti melangkah.


"Aku ingin memberikan sedikit info tentang Sinta. Tapi dengan syarat. Pak Jodi setuju ?" kata orang itu.


"Ya. Katakan."


"Aku ingin pak Jodi tutup mulut tentang keberadaan anak Tono dengan Sinta."


Jodi diam.


"Aku ingin pak Jodi dan keluarganya pergi dari desa ini." lanjutnya.


"Siapa anda ?" tanya Jodi.


"Setuju pak Jodi ?" tanya perempuan itu.

__ADS_1


"Bagaimana hendak memberi tahu, saya sama sekali tidak tahu keberadaan anak itu."


"Ha ha. Saya tahu pak Jodi bukan orang bodoh. Dan pak Jodi tidak sebodoh itu. Sudahlah pak, tidak usah berpura-pura tidak tahu." kata perempuan itu sembari tersenyum kecil.


"Baiklah. Tapi untuk syarat kedua saya keberatan." kata Jodi menawar.


"Tidak ada negosiasi pak. Mau atau tidak." hardiknya.


"Baiklah. Saya setuju."


Perempuan itu lalu bertepuk sekali. Masuklah orang dengan kostum yang sama membawa sebuah amplop.


"Dalam amplop itu ada denah dan lokasi tempat Tono membawa Sinta beberapa waktu yang lalu. Kami sempat memergokinya. Dari situlah pak Jodi yang harus berusaha sendiri mencari keberadaan Sinta. Semoga sukses pak, ingat kesepakatan kita." kata perempuan itu sambil pergi. Menghilang dengan cepat.


Segera Jodi membuka amplop itu. Sebuah peta menuju ke suatu lokasi.


Jodi mengumpulkan anak buahnya. Mereka segera melakukan rencana menuju ke lokasi itu.


"Ini dimana ? Aku belum pernah kesini ?" kata anak buah Jodi.


"Ada yang tahu tempat ini ?" tanya Jodi ke anak buahnya.


Semua terdiam. Tak ada yang tahu.


"Sial. Aku ditipu." gumam Jodi.


"Coba aku lihat nak Jodi." kata Kakek Sinta tiba-tiba.


Jodi menyerahkan peta itu ke Kakek.


"Hmmm. Ini tempat persembunyian. Lenih tepatnya tempat istri mudanya pak Lurah." kata Kakek.


"Kakek tahu ?" tanya Jodi penuh harap.


"Hanya saja, kalian tidak bisa kesana tanpa dipandu oleh orang yang pernah kesana sebelumnya." kata Kakek.


"Pak Lurah betul-betul jenius, bisa membuat rumah di tempat tersembunyi begitu." lanjut kakek.


"Lalu, bagaiman nih kek ?" tanya Jodi.


"Mau tidak mau, aku harus ikut dengan kalian. Kalau kakek, tanpa peta itu juga bisa sampai." kata Kakek menjelaskan.


"Tapi kek ?" cegah Jodi.


"Kenapa ? Kakek sudah tua ? Boleh dibuktikan nanti nak Jodi, siapa yang loyo dan masih segar bugar." kata kakek.


"Ayolah, tak usah basa basi. Kita berangkat."

__ADS_1


"Bisa pakai mobil kek ? Biar menghemat waktu."


"Bisa, sampai daerah tertentu kita bisa naik mobil. Selanjutnya mau tidam mau kita harus jalan. Kecuali, nanti kita beruntung ada mobil di dalam sana." kata kakek.


__ADS_2