
Sinta dan Jason bergegas melangkah ke pasar. Sepintas mereka seperti Ibu dan anaknya. Jason menggandeng tangan Sinta. Mereka melangkah menuju pasar dengan gandengan tangan yang mesra. Sejurus kemudian mereka tiba di pasar. Dipilihnya baju lelaki buat Sinta dan Jason. Rupanya Sinta memilih untuk menyamar.
“Tante, kenapa beli baju laki-laki ?” tanya Jason.
“Buat nyamar.” jawab Sinta singkat.
Jason mengangguk faham.
“Kamu beli baju perempuan ya ?” usul Sinta.
“Ih. Nggak mau. Aku tidak mau pakai baju perempuan.” tolak Jason.
Baju yang baru saja dibeli segera mereka kenakan. Sinta betul-betul seperti laki-laki. Cuma saat ini tidak lagi menggunakan caping. Topi yang dikenakannya. Jason juga sama, mengenakan baju laki-laki dan bertopi. Saat mereka hendak melanjutkan perjalanan, tiba-tiba dikejutkan oleh suara orang lelaki.
“Pakai baju apapun, tetap saja aku bisa mengenali Sin.” kata orang itu.
“Danu.” pekik Sinta dalam hati. Segera Sinta menoleh ke arah sumber suara. Betul-betul Danu. Secepatnya Danu mencekeram tangan SInta.
“Lepaskan ! Lepaskan Dan !” teriak Sinta.
Namun, bukannya dikendorkan pegangannya malah mencengkeram semakin kuat.
“Aku tidak akan melepaskan. Juga biang kerok kecil ini.” kata Danu selain mencengkeram Sinta juga memegang erat tangan Jason.
“Lepas Om ! Lepas !” kata Jason berontak.
“Diam !” bentak Danu pada Jason.
“Lepaskan ! Lepaskan !” teriak Sinta dan Danu serentak. Namun, semua itu tidak menggoyahkan cengkeram Danu yang justru semakin kencang.
Teriakan Sinta dan Jason mulai menarik perhatian orang-orang di pasar. Sinta melihat hal itu sebagai suatu kesempatan. Lalu berteriak sekencang-kencangnya.
“Tolong ! Tolong ! Ada orang jahat ! Tolong !” teriak Sinta. Jasonpun ikut-ikutan berteriak. Sontak saja hal itu menarik perhatian orang-orang di sekeliling mereka. Melihat hal itu, Sinta dan Jason semakin keras berteriak.
“Hai ada apa ini ?” tanya orang-orang mulai mengelilingi SInta dan Jason.
“Ini pak orang Jahat. “ teriak SInta.
Orang-orang mulai memegang Danu.
“Eh, bukan pak. Anu, jangan salah faham.” kata Danu. Cengkeraman Danu mulai mengendur.
Kesempatan bagi Sinta untuk meloloskan diri. Diraihnya tangan Jason yang juga sudah terlepas dari Danu. Mereka segera berlari meninggalkan kerumunan. Orang-orang masih menginterogasi Danu. Bahkan ada beberapa diantaranya yang hendak memukul Danu. Sinta tidak menyia-nyiakan. Mereka menyelinap di antara kerumunan orang-orang di pasar. Segera berlari menjauhi pasar.
__ADS_1
Langkah mereka begitu cepat, nyaris berlari. Jason mulai terengah-engah.
“Capek Son ? Tante gendong saja ya ?”
Jason mengangguk setuju. Sinta segera menggendong Jason di punggung. Mereka berusaha secepat mungkin meninggalkan pasar dan menghindari Danu. Tak lelah Sinta jalan cepat. Peluh mengguyur tubuhnya. Apalagi tubuhnya menggendong Jason di punggungnya. Anehnya langkahnya Sinta tak surut oleh waktu. Jauh sudah langkahnya. Sekuat-kuat langkah Sinta, akhirnya sampai pada puncaknya. SInta jatuh terduduk.
“Tante ! Tante !” teriak Jason.
“Tante tidak apa-apa Son. Cuma capek. Kita istirahat sebentar ya ?’ ujar SInta
Mereka beristirahat di pinggir jalan. Apalagi angin bertiup sepoi-sepoi.
“Tante, ada sungai. Ke sana yuk !” ajak Jason.
“Ayok !” sambut Sinta girang.
Mereka berlarian menuju sungai. Jason membuka bajunya. Hanya mengenakan ****** ***** saja. Lalu mencebur ke sungai. Sungguh lincah berenang kesana kemari. Apalagi setelah berjalan begitu jauh dan lama. Segarnya air sungai membantunya mengembalikan tenaga yang ada.
Sejenak Sinta ragu-ragu. Ingin juga menceburkan diri ke sungai. Tapi, baju yang dibelinya hanya dua potong. Repot juga kalau bajunya basah.
“Ayok Tante !” ajak Jason.
“Tante di sini saja, di pinggiran.” ujar SInta.
“Di sini airnya segar. Tante tidak bisa berenang ya ?” tanya Jason.
“Kalau gitu, Ayok dong ! Pakai celana saja. Kayak aku. Gak usah malu sama aku Tan “ ajak Jason sekali lagi.
Sinta membenarkan Jason dalam hati. Dia ikut menceburkan diri ke sungai, namun tetap mengenakan baju.
“Segar kan Tan ?” ujar Jason.
Begitu riang mereka bermain air. Berenang ke sana ke mari. Setelah puas, mereka tiduran di pinggir sungai sambil menunggu baju kering.
“Tante, malam nanti tidur di mana ?” tanya Jason.
Sinta tertegun. Dia sendiri belum tahu hendak tidur di mana. Tapi, Sinta tidak ingin membuat Jason kuatir.
“Nanti kita tidur di gubug dekat sawah. Yang biasa dipakai petani menunggui sawah. Kalau malam kan kosong.” jawab Sinta walau hatinya tak yakin.
“Asyik, nanti bisa tidur sama tante lagi kan ?” tanya Jason.
“Ya pasti lah. Nanti akan Tante peluk.” jawab Sinta sambil senyum.
__ADS_1
Mereka melanjutkan perjalanan mencari tempat untuk tidur nanti malam. Telah jauh mereka melangkah namun gubuk yang dinantikannya tak kunjung terlihat. Langkah mereka mulai ke tepi hutan. Di tengah rerimbunan pohon ada sebuah rumah gubuk kecil.
“Tante, lihat !” teriak Jason.
Rumah itu sepertinya berpenghuni, karena ada asap mengepul dari dalam rumah.
“Permisi ! Permisi !” teriak Sinta.
Tak lama kemudian ada seorang nenek tua keluar. Berjalan mengenakan tongkat dan langkahnya mulai tertatih-tatih.
“Lho. Siapa ini ?” tanya Nenek.
“Saya Sinta nek. Ini Jason.” kata Sinta.
“Oh, ya. Ayo masuk !” ujar Nenek mempersilahkan.
“Panggil saya Nenek Ijah.” kata Nek Ijah memperkenalkan diri.
“Nak Sinta dan Jason ini dari mana ?“
“Lagi perjalanan jauh nek. Boleh kami istirahat di sini. Barang semalam ?” pinta Sinta penuh harap.
“Oh, tentu. Tentu. Tapi seadanya lho ya !” jawab Nenek Ijah.
Rumah itu hanya terdiri satu ruang. Tanpa ada sekat. Tempat tidur, kursi tamu dan tempat masak di ruang yang sama.
“Mau tinggal di tempat begini ?” tanya Nenek Ijah memastikan.
“Pasti nek. Mau.” jawab Sinta.
“Itu tempat buat kalian istirahat.” tunjuk nenek pada ranjang satunya.
“Apa kita tidak menganggu nek ?” tanya Sinta lagi.
“Oh, tentu saja tidak. Malah bisa jadi teman Nenek. Sudah cukup lama cucu nenek pergi meninggalkan rumah ini. Biasanya dia yang tidur di ranjang itu. Tapi, karena masih muda, cucu nenek lebih suka tidur di luar. Sama teman-temannya. Kalau di rumah ini kan tidur sama orang yang sudah lanjut usia.” jelas Nenek Ijah sambil tertawa.
Sinta dan Jason meletakkan barang bawaan mereka di ranjang yang tersedia. Jason kemudian rebahan di ranjang itu. Sementara Sinta duduk menemani Nek Ijah.
“Nak Sinta, bisa bantu Nenek ?” tanya Nek Ijah.
“Oh, iya Nek. Apa yang bisa saya lakukan ?” tanya SInta.
“Bikin minum air panas. Saya sudah kehabisan. Cuma harus ambil air dulu di sumur luar.” ujar Nek Ijah.
__ADS_1
“Baik Nek.”
Sinta segera mengambil ember dan pergi ke sumur di luar rumah. Suasana di situ masih alami. Sehingga ambil air di sumurpun masih menggunakan timba. Timbanyapun masih timba tali. Tentu saja, Nek Ijah kesulitan melakukan hal ini.