Senandung Cinta Gadis Desa

Senandung Cinta Gadis Desa
Bagian 12


__ADS_3

Saat senja menjelang mau tak mau pak Jodi membawa Sinta pulang. Walaupun awalnya Sinta enggan meninggalkan hingar bingar pusat perbelanjaan untuk mengalihkan perhatiannya.


Kakek dan Neneknya sudah menunggu dengan muka cemas di depan rumahnya. Sinta langsung saja berlari menuju kamar. Tak menghiraukan Kakek dan Neneknya yang sedari tadi menunggu dengan cemas.


"Tadi Saya mengajak Sinta jalan-jalan. Di rumah cuma murung dan menangis terus. Saya tidak sempat pamit ke Kakek sama Nenek karena lagi jagong manten di tempat Pak Lurah." kata Pak Jodi menjelaskan ke Nenek dan Kakek Sinta.


Nenek dan Kakek Sinta terdiam saja mendengar penjelasan pak Jodi. Bagaimanapun perasaan campur aduk berkecamuk dalam hati mereka. Bukan hanya Sinta yang merasakan, kedua Kakek dan Neneknya itupun merasakan apa yang dirasakan oleh cucunya.


Kegiatan Sinta hanya terbengong dan melamun di kamarnya. Masalah itu begitu membebani Kakek dan Neneknya. Bahkan saat mereka sedang di rumah Jodi.


"Gimana Sinta Kek ? Kerjanya cuma melamun saja." kata Nenek memulai pembicaraan.


"Gak tau Nek. Sedari awal seharusnya Kita sudah mempetimbangkan masalah ini." jawab Kakek.


"Perutnya itu lho. Tidak bisa ditutupi. Semakin lama akan ketahuan orang-orang." ujar Nenek.


"Apa sebaiknya Kita gugurkan saja." usul Nenek.


"Hush. Jangan begitu Nek. Anak dalam kandungan itu tidak salah apa-apa. Kenapa harus jadi korban." Kakek menjawab dengan keengganan.


"Tapi lama-lama ya membesar. Pasti orang lama-lama orang akan tau. Mau bilang apa kita Kek." kata Nenek selanjutnya.


Kakek terdiam. Diam seribu bahasa. Mereka juga diam. Dua-duanya dalam diam. Bingung menentukan langkah untuk cucu kesayangannya.


Tanpa mereka sadari, sedari tadi Jodi mendengar pembicaraan mereka. Kedekatan Jodi dengan Kakek dan Nenek Sinta membuat Jodi ingin terlibat dalam masalah itu.


"Eh, Nak Jodi." kata Nenek saat menyadari kehadiran Jodi.


"Bisa dibuatkan teh hangat Nek ! Enak kayaknya pagi-pagi begini ngeteh." kata Jodi.


"Oh iya. Sebentar Nak. Saya sudah membuat biangnya kok." ujar Nenek.


"Baik Nek."

__ADS_1


"Oh iya, sekalian ini Nek. Saya tadi pulang jalan-jalan beli kue serabi sama kue pancong. Tolong diletakkan di piring ya !" kata Jodi selanjutnya.


"Baik Nak."


Kakek terdiam di depan Jodi. Mungkin malu membahas masalah Sinta.


"Sinta lagi apa kek ?" tanya Jodi tiba-tiba.


Kakek agak terkejut dengan pertanyaaan Jodi. Mukanya memerah dan matanya sedikit berkaca-kaca.


"Yah begitulah Nak. Kerjanya hanya bengong. Melamun." jawab Kakek sembari menghela nafas panjang.


"Tono sama sekali belum pernah menemuinya ?" tanya Jodi.


Kakek menggelang pelan dengan wajah menahan kemarahan.


"Apa sih maunya anak itu." gumam Jodi.


Tak lama kemudian nenek datang membawa teh dan makanan yang diberi Jodi.


"Biar. Saya nanti saja. Tidak usah." kata Kakek.


"Ah. Ya tidak asyik. Saya sengaja beli ini untuk teman ngobrol dengan Kakek dan Nenek. Ayo buat dua lagi. Kita minum teh sambil ngobrol tentang Sinta." kata Jodi.


Nenekpun menyeduh teh dua cangkir lagi.


"Kita sudah tidak punya saudara lagi nak. Bapak dan Ibu Sinta sudah meninggal. Dulu pernikahan mereka ditentang, sehingga saudaranya menjauh. Enggan menjalin hubungan dengan Bapak dan Ibu Sinta." Kakek mulai menjelaskan.


"Kalau Sinta tetap di sini, nanti Nak Jodi ikut kena getahnya Kek." jelas Nenek.


"Lha, terus mau di mana ? Tempat yang ada ya hanya di sini. Itupun masih punya Nak Jodi." kata kakek.


"Halah, malah membahas itu. Itu nggak penting Kek." kata Jodi.

__ADS_1


"Maafkan kami ya Nak, jadi terlibat masalah ini." kata Nenek.


"Tidak apa-apa Nek. Aku kan sudah menganggap Nenek dan Kakek seperti keluarga sendiri." ujar Jodi.


"Eh, tunggu. Bagaimana kalau Sinta ikut saya saja ?" lanjut Jodi.


"Maksud Nak Jodi ?" tanya Kakek.


"Saya punya rumah di kota Puri Jaya. Bagaimana kalau Sinta saya ajak ke sana. Tidak ada yang kenal dengan Sinta. Lagi pula itu di kota besar. Jadi sudah pada cuek dengan lingkungan sekitar." tutur Jodi.


Kakek dan Nenek Sinta berpandangan. Ada harapan di benak mereka.


"Apa tidak merepotkan Nak Jodi nanti ?" tanya Kakek Sinta.


"Sudah. Tidak usah berfikir macam-macam. Intinya, Kakek dan Nenek setuju tidak ?" tegas Jodi.


Tidak punya alternatif lain, mereka menyetujui usulan Jodi. Sintapun tak punya pilihan lain. Ia setuju dengan usulan Jodi.


Keesokan harinya mobil sedan meluncur membawa Sinta dan Jodi meninggalkan desa. Setitik air mata menetes dari mata Sinta. Bagaimanapun di desa ini Sinta menghabiskan hidupnya. Sedari kecil, hingga ditinggal kedua orang tuanya, Sinta menghabiskan waktunya di desa ini. Apalagi tingkah Diah yang lucu dan teman-teman lainnya yang telah mewarnai hidup Sinta.


Lima jam perjalanan, sampailah mereka di rumah Jodi. Rumahnya tidak lebih besar daripada yang di desa. Tipe minimalis dan berada di lingkungan padat. Lingkungan sibuk. Dari tadi banyak berpapasan dengan orang belum ada yang menyapa.


Sinta tidak peduli dengan hal itu. Ia segera mengambil tas bawaannya dan segera menghempaskan tubuhnya ke kursi di ruang tamu.


"Kamarmu yang itu Sin !" tunjuk Jodi pada kamar bagian belakang.


Sinta segera menuju kamar. Dihempaskannya tubuhnya ke kasur. Seempuk apapun kasur yang ada tak akan berpengaruh pada Sinta. Sampai saat ini ia belum bisa melupakan Tono dan peristiwa yang sedang dialaminya.


Pikirannya menerawang ke masa lalu saat masih bersama Tono. Mengingat hal itu Sinta tersenyum manis. Namun begitu ingat bahwa kini Tono sudah menikah dengan Lastri, Sinta langsung meneteskan air mata. Jadi, mirip dengan orang gila di pinggir jalan. Kadang tersenyum dan kadang menangis.


Jodi pun jadi bingung, kerjanya Sinta hanya makan, mandi tidur. Diajak ngobrol ogah-ogahan. Diajak ke Toko milik Jodi juga malas. Padahal perutnya semakin buncit. Belum terlalu kentara sih, cuma kalau lagi duduk kelihatan mulai membesar.


Kejadian yang membuat Jodi semakin pusing adalah kejadian malam ini. Malam hari ketika Jodi bangun dan hendak ke kamar mandi. Langkah Jodi melewati kamar Sinta. Kamarnya terbuka dengan lampu penerangan yang redup. Jodi reflek melihat ke dalam kamar. Pemandangan yang ada membuat jantung Jodi berhenti berdetak. Pemandangan yang jarang ditemui semenjak istrinya pergi meninggalkan dirinya.

__ADS_1


Kala itu, Sinta tidur mengenakan daster. Dasternya tersingkap hingga pangkal paha. Betis kakinya yang bagaikan gunting padi dan pahanya yang putih mulus terlihat begitu seksi dikeremangan lampu. ****** ******** berenda begitu terlihat seksi mengintip dari balik dasternya yang tersingkap. Mata Jodi menyusuri bagian atas tubuh Sinta. Ada sedikit kecewa karena bagian atasnya masih tertutup rapat dan rapi. Walau demikian pemandangan itu mampu membangunkan barang keramat yang selama ini tertidur lelap.


__ADS_2