
Sinta akhirnya bisa lepas dari kesulitannya kali ini. Kedatangan dua orang pencari madu ternyata membuka jalan Sinta untuk bisa kembali. Membuka kembali cerita hidupnya yang pernah dirasakannya berhenti. Pertolongan Tuhan memang tidak terduga. Sebelum ajal berpantang mati. Dan selama jiwa ini masih bersemayam dalam tubuh manusia, Tuhan masih memberinya jatah rejeki.
Kini Sinta bertemu Jason. Seorang yang memilih bersamanya daripada tinggal hidup penuh kenikmatan di rumah Pak Rejo. Seorang yang dengan setia menungguinya ketika Sinta terbaring tak berdaya didepan goa.
Lama sekali keduanya berpelukan. Walau tak ada hubungan apa-apa diantara mereka, tapi satu sama lain merasa kehilangan tatkala salah satu tak ada di sisi mereka. Perjalanan telah mebuat mereka seperti saudara. Sekilas seperti Kakak dan Adik. Kadang seperti Ibu dan Anaknya.
Jason menagis. Begitu pula dengan Sinta. Tangis bahagia.
"Tante, kemana saja sih ? Aku fikir tak bisa lagi bersama dengan Tante." kata Jason yang masih menangis tersedu sedan. Sinta membisu. Akankah Dia menceritakan tentang Satria pada Jason.
Karena tidak mempunyai pilihan lain, Sinta bercerita pada Jason.
"Om Satria jahat." jerit Jason.
"Awas kalau aku sudah kuat, aku akan balas perbuatan Om Satria pada Sinta." lanjut Jason.
"Sudah Son. Bukan saatnya untuk menghujat seseorang. Tak usah dendam begitu. Sebaiknya kita segera pergi." ajak Sinta pada Jason.
Keduanya hendak melangkah meninggalkan tebing itu. Tapi tiba-tiba kuda yang ditinggalkan Satria meringkik keras. Sinta terkejut, segera menoleh ke arah kuda.
"Lho, kuda itu masih di sini ? Satria tidak membawanya ? Jangan-jangan !" kata Sinta segea menarik Jason. Jason faham apa yang difikirkan oleh Sinta.
"Tenang tante. Sejak Tante pergi, aku selalu duduk di sini. Aku selalu menunggu karena ada kuda itu. Kuda itu memberi petunjuk kalau Tante pasti tidak jauh dari sini. Dan selama itu aku belum pernah ketemu Om Satria." kata Jason menjelaskan.
"Kamu yakin ?" tanya Sinta.
"Ya Tante." tegas Jason.
"Baiklah !" ujar Sinta mulai tenang.
"Kita naik kuda itu saja Tante !" usul Jason.
Usulan Jason dianggap bagus oleh Sinta. Selain bisa menghemat tenaga, mereka juga bisa lebih cepat sampai ke tujuannya.
"Ayo naik !" teriak Sinta sambil menaiki kuda Satria.
Kuda itu masih hafal dengan Sinta dan Jason sehingga tidak melakukan perlawanan ketika mereka berdua naik ke punggungnya.
Kuda itu segera berjalan perlahan menyusuri jalanan yang sempit.
"Kita mau kemana Tante ?" tanya Jason.
"Kita balik dulu ke tempat Nenek Ijah. Bekal Tante harus diambil. Nanti Jason yang ambil ya !" kata Sinta.
__ADS_1
"Oke Tante !"
"Tapi tunggu !" tiba-tiba Sinta menghentikan laju kudanya.
"Bagaimana dengan Satria ?"
"Tenang Tante. Om Satria tidak pernah pulang ke rumah." ujar Jason.
Sinta lega mendengar hal itu. Mereka segera menuju ke rumah Nenek Ijah. Sinta memacu kudanya perlahan. Selama perjalan mereka banyak bercerita dan bercanda. Setelah sekian lama perjalanan, mereka sudah dekat dengan rumah Nek Ijah dan berhenti agak jauh dari rumahnya. Sinta menunggu dekat kuda, sementara itu Jason berlari menuju rumah.
Namun tak seperti harapan Jason dan Sinta. Begitu Jason membuka pintu seseorang menyapanya.
"Jason !" sapa Satria. Jason kaget.
"Om Sarria ! Om di rumah ?" tanya Jason menutupi kekagetannya.
"Tante Sinta mana ?" tanya Jason pura-pura. Satria tidak menjawab. Hanya melangkah menuju ke meja makan. Sambil makan Dia menjawab," Tante Sinta pergi beberapa lama. Dia pesan ke kamu untuk tinggal dengan nenek sampai kembali." kata Satria berbohong. Matanya menatap ke piring. Tak berani bertatapan langsung dengan Jason.
Jason menangis. Pintar juga berakting anak itu.
"Tante. Tante. Aku mau ikut Tante." teriak Jason sambil ke luar rumah.
"Jason mau kemana ?" panggil Satria.
Jason berlari ke arah Tante bersembunyi. Beruntung Satria tak mengejar. Satria masih berfikir Sinta sudah tewas jatuh ke jurang.
"Tante ! Tante !" panggil Jason lirih.
Jason mencari Sinta yang tiba-tiba menghilang. Tadi masih di sekitar tempat kuda di tambatkan. Jason masih berusaha mencari. Tiba-tiba ada tangan menarik Jason ke semak belukar.
"Tante !" pekik Jason kaget.
"Ssttt !" kata Sinta sambil memberi isyarat Jason supaya diam.
"Ternyata Om Satria ada di rumah. Baru saja pulang dan sedang makan." ujar Jason menerangkan.
"Ya sudah. Kita tinggalkan saja barang Tante di situ. Biar Satria mengira seperti yang dia perkirakan." sahut Sinta.
"Tapi Tante, baju Jason dan Tante masih di dalam !" tunjuk Jason ke dalam rumah.
"Biar saja. Kita bisa mendapatkannya lagi." papar Sinta.
Mereka segera menungganggi kuda. Namun sayang, saat tali kuda dikekang, kuda itu meringkik keras sehingga terdengar oleh Satria dari dalam rumah. Satria bergegas lari ke luar rumah dan memburu ke arah ringkikan kuda.
__ADS_1
Sementara itu kuda yang ditunggangi Jason dan Sinta sudah berlari kencang meninggalkan rumah Nenek Ijah.
"Hai ! Siapa itu ?" teriak Satria.
Namun tidak digubris. Kuda itu segera lenyap dari pandangan. Satria tidak menyerah. Ia berlari ke kandang kuda dan menunggangi salah satu diantaranya. Dipacunya kuda itu sekencang-kencangnya.
Dua ekor kuda berpacu. Berkejar-kejaran. Mencoba untuk tetap di depan.
"Aduh, Satria mengejar ini. Bisa-bisa terkejar." batin Sinta.
"Om Satria mengejar kita Tan !" jerit Jason yang hampir tak terdengar oleh kerasnya deru tapak kaki kuda.
Merasa dirinya tidak seimbang dengan Satria, Sinta mengarahkan kuda ke sungai. Kuda dipacunya menerjang air yang dalam. Sampai di situ tali kuda ditarik kuat-kuat sehingga kuda berhenti mendadak. Hal itu membuat Jason dan Sinta terlontar ke sungai.
Diambil oleh Sinta sebutir batu, lalu disambitkan ke arah kuda.
Tak.
Batu terkena punggung kuda dan membuatnya kembali berlari. Kuda berlari menyeberangi sungai menembus semak belukar. Bergegas Jason dan Sinta mencari tempat persembunyian. Beruntung, di sekitar sungai banyak semak belukar yang rimbun sehingga memudahkan mereka mencari tempat bersembunyi.
"Tante, Om Satria mengejar kita ?" tanya Jason dalam kondisi gugup.
"Iya."
Tak seberapa lama muncul Satria dengan kudanya dan menyeberangi sungai. Melewatkan mereka yang bersembunyi di semak-semak belukar.
Perhatian Satria pada kuda tunggangan Jason dan Sinta yang kini sudah berlari menjauh dari tempat Sinta bersembunyi. Tak menyadari kalau kuda yang dikejar Satria tak lagi ada yang menunggangi, Satria tetap saja mengejar dengan laju kencang.
Sinta menghela nafas lega. Ia mengajak Jason untuk segera meninggalkan tempat itu.
"Ayo cepat pergi ! Bisa repot kalau Satria balik ke sini." ajak Sinta pada Jason.
Mereka kembali ke awal saat baru pertama beremu Jason. Menyusuri jalan dan semak belukar dengan berjalan kaki.
"Kamu terluka Son ?" tanya Sinta pada Jason saat mereka mulai berjalan meninggalkan tempat itu.
"Tidak Tante. Aku baik-baik saja." jawab Jason sambil mengepalkan tangan.
"Tante bagaimana ?" tanya Jason balik.
"Seperti yang kamu lihat !" jawab Sinta sambil tertawa bahagia.
Mereka mulai berjalan. Tak tahu hendak kemana. Tak tahu hendak makan apa. Tak tahu hendak tidur dimana.
__ADS_1