
Diah dan Sinta asyik bermain air di pantai. Hari yang cerah dan suasana angin yang tidak begitu kencang membuat mereka begitu asyik bermain-main. Tanpa sadar mereka tengah diawasi oleh sepasang mata yang sedari tadi mengikuti gerak langkah mereka. Betul saja, ketika Diah minta ijin ke Sinta hendak ke toilet, tangan kekar menarik Sinta.
"Kak Tono." pekik Sinta.
Namun Tono buru-buru meletakkan telunjuknya di bibir. Sinta faham. Tono mengajaknya ke arah pepohonan cemara. Tempat yang rimbun oleh pohon gerombolan pohon cemara. Tempat yang sejuk dengan bangku-bangku yang disediakan di bawahnya.
Akhirnya mereka berdua duduk di salah satu bangku kosong. Sinta begitu deg-degan menunggu apa yang hendak dilakukan oleh Tono.
"Sin, Aku mau ngomong. Sebetulnya aku .." kata Tono terputus. Sepertinya Tono juga deg-deg ini.
Sinta hanya terdiam sembari memandangi wajah Tono yang berubah memerah.
"Sebetulnya Aku say ..." terputus lagi kata-kata Tono. Begitu susah mau mengatakan sayang sama kamu.
Tono seperti menghimpun kekuatan. Luar biasa cinta ini, baru mau mengatakan saja butuh energi yang sangat besar.
Sinta sudah faham apa maksud Tono. Sebagai perempuan Ia menunggu. Menunggu apa yang hendak dikatakan oleh Tono.
"Aku sayang Kamu Sin." bisik Tono lirih. Walaupun lirih Sinta tau apa yang dikatakan oleh Tono. Wajahnya memerah seketika. Kebahagiaan serasa menyelimuti seluruh tubuh Sinta. Apalagi sedari tadi tangan Tono masih tetap menggenggam erat tangan Sinta.
"Gimana Sin ? Kamu terima aku ?" sekali lagi Tono berbisik. Nyaris tidak terdengar bersaing dengan suara ombak pantai.
"Sama Kak." jawab lirih Sinta sembari tertunduk malu.
"I yes." pekik Tono sambil berjingkrak.
Sinta tersenyum bahagia melihat hal itu.
"Woi ... disini rupanya. " teriak seseorang yang mengagetkan mereka. Siapa lagi kalau bukan Diah.
"Ditinggal sebentar langsung mojok." semprot Diah selanjutnya.
Diah langsung berbaur dengan mereka yang tentu saja membuyarkan apa yang tengah mereka bicarakan.
"Kak Tono. Kok di sini ? Apa ndak dicari sama Lastri ?" kata Diah menggoda.
Tono kebingungan digoda seperti itu. Dia cuma senyam-senyum di samping Sinta. Tanpa disadari tangan mereka masih saling berpegangan.
"Apa ini. Hei-hei. Nggak boleh." kata Diah sembari berusaha memisahkan tangan mereka.
__ADS_1
Sinta tertunduk malu. Tono tertawa.
"Kak Tono yakin dengan yang ini. Yang itu bagaimana ?" goda Diah.
"Yang itu yang mana ?" jawab Tono pura-pura bego.
"Lah. Kak Tono tuh. Itu lho yang ndempel terus kayak prangko." terang Diah selanjutnya sambil mengedip-kedipkan matanya.
"Sudah ah. Aku tidak ada hubungan apa-apa sama Dia." jelas Tono.
"Iya Yah. Jangan goda kak Tono terus." kata Sinta Nimbrung.
"Cie-cie. Ada yang bela tuh Kak. Mantap." ujar Diah.
"Diiiii yaaah." teriak Sinta sambil mencubit pinggang Diah.
Diah meloncat menghindari cubitan Sinta. Berlari ke arah bis.
"Kita kesana yuk !" ajak Tono pada Sinta. Sintapun mengiyakan. Keduanya berjalan menuju ke tempat bis parkir. Namun kali ini keduanya tidak berpegangan tangan.
Disela-sela kebahagiaan mereka ada sepasang mata yang mengawasi dengan air mata yang nyaris jatuh. Seandainya bukan di tempat umum pasti gadis itu sudah menangis sedari tadi. Ya, siapa lagi, gadis itu adalah Lastri. Sebetulnya Lastri mencari Tono karena acara mau segera dilanjutkan, tetapi yang terpampang di wajahnya adalah fragmen cinta antara Sinta dan Tono. Selama ini Lastri beranggapan kalau Tono menaruh hati padanya. Setiap kesempatan dan setiap kegiatan Lastri dan Tono begitu lengket. Hampir dikatakan dimana ada Lastri di situ pasti ada Tono.
"Tono nembak Sinta." batin Lastri.
Walaupun sudah berusaha menahan air mata, tapi setetes air mata tak mampu terbendung lagi oleh Lastri. Bergulirlah air mata yang sedari tadi ditahan dengan segenap usahanya.
---
Tiba-tiba terdengar teriakan dari suara megaphone.
"Ayo ... kumpul ! Kumpul !" teriak salah seorang panitia.
Lastri tersadar dari tangisnya dan berusaha menghapus setiap tetes air mata dari pipinya. Ia ingin terlihat tegar, walaupun sebenarnya ia ingin menangis sekencang-kencangnya.
"Acara sudah selesai. Kita pulang."
Masing-masing mengambil tempat duduk di bis. Cuma ada yang beda kali ini. Lastri memilih duduk di belakang dengan Citra. Begitu masuk langsung diam. Duduk dan ngobrol dengan Citra. Sementara Sinta duduk di depan. Langsung dipepet oleh Tono. Mereka duduk berdua di belakang pak Supir. Diah memilih duduk dekat pintu. Sementara Dirjo hanya menelan ludah ketika tahu Sinta sudah di tempel oleh Tono.
"Asem." batinnya menggerutu.
__ADS_1
Sejumlah aksi yang telah disiapkan untuk menggoda Sinta buyar sudah. Apalagi melihat Sinta begitu nyaman di samping Tono, dadanya serasa mau meledak. Namun, capek juga berdiri. Apalagi setelah sejumlah aktivitas dilakukan di pantai. Dengan langkah lemas, Dirjo memilih bangku kosong yang berada di tengah.
Sementara itu di bangku belakang sopir Tono melirik Sinta. Disaat bersamaan Sinta melirik ke Tono. Kedua mata mereka bertatapan. Lalu tersenyum malu-malu.
Bispun melaju kencang membawa cerita di benak masing-masing. Membawa kenangan yang indah ataupun yang menyebalkan.
Seperti halnya dengan Sinta. Diapun senyum-senyum sendiri di rumah ketika mengingat Tono mengungkapkan rasa cintanya. Di atas ranjangnya dia hanya senyum-senyum bahagia.
"Sin. Sinta !" terdengar teriakan Nenek memanggil.
Segera Sinta terbangun dan menghampiri Neneknya.
"Iya Nek." jawab Sinta.
"Itu dicari sama Pak Jodi. Katanya ada proyek." kata nenek selanjutnya.
"Proyek Nek ? Proyek apa ?"
"Wah, Nenek ndak tau Sin. Coba saja ke depan. Tuh Pak Jodi di ruang tamu." kata nenek.
"Baik Nek." jawab Sinta.
Segera Sinta menuju ke depan, ke rumah majikannya. Ketemu Pak Jodi. Ditemuinya Pak Jodi di ruang tamu. Sedang memegang kamera dan baju-baju bagus.
"Eh, Sinta. Kemari Sin !" pinta Pak Jodi.
"Tadi pagi, Aku kan bilang ada pekerjaan buat kamu. Ini dia." kata pak Jodi sambil menujuk ke baju-baju bagus dan modis.
"Baju itu buat apa Pak ?" tanya Sinta ragu.
"Sinta akan jadi model Kita. Mau kan Sin." jelas Pak Jodi.
"Ada honornya lho." lanjut pak Jodi.
"Tapi." kata Sinta masih bingung.
"Tenang Sin. Kamu cantik dan baju-baju ini memang buat remaja seperti Kamu." jelas Pak Jodi.
"Hasilnya ini akan di pajang di toko online milik Saya. Oke ?" kata Pak Jodi menjelaskan.
__ADS_1
Sinta mulai mengerti. Dia akan jadi model baju yang dijual pak Jodi. Pantas saja, oleh-oleh yang diberikan kemarin pas di tubuhnya, karena memang baju yang dijual oleh pak Jodi sasarannya abg seperti dirinya. Sinta mengambil baju sepasang, celana jeans dan kaos, Ia membawanya ke kamar mandi untuk mencobanya.