
Masakan sop menjangan sudah siap. Selain sop ada juga makanan gorengan lainnya. Gorenagn dibuat dari minyak goreng kelapa yang dibuat sendiri oleh Nek Ijah. Aktif sekali Nek Ijah, dalam kondisinya yang begitu masih bisa beraktifitas sebagaimana orang normal lainnya.
Lumayan lama Sinta menunggu kepulangan Jason dan Satria. Namun hingga masakan hampir dingin keduanya belum juga kembali ke rumah.
"Saya cari dulu Jason dan Satria ya nek ! Sayang nanti kalau sopnya dingin tidak enak lagi." kata Sinta.
"Ya. Ya. Biasanya Satria nerlatih memanah dekat sungai. Tempat orang-orang biasa mandi di sungai." kata nek ijah menjelaskan.
Setengah berlari Sinta mencari kedua orang itu. Sinta segera menuju ke tempat yang ditunjukkan oleh Nek Ijah. Namun, tidak ada aktivitas orang di sekitar sungai.
"Apa mereka sudah selesai latihan ?" bisik Sinta dalam hati. Namun dari arah pemandian di sungai ada suara orang sedang berenang. Sinta segera menuju ke sana. Betul saja, Satria dan Janson sedang mandi dan berenang di sana. Sinta berlari ke arah mereka.
"Hai Tria dan Janson. Makanan sudah siap. Nenek menyuruh kalian pulang." teriak Sinta setelah dekat dengan mereka.
"Hore ! Hore ! Ayo Om Tria kita makan dulu !" teriak Jason kencang sekali. Jason lalu meloncat dan berdiri dari berendam ke sungai. Saking senangnya Jason lupa kalau Ia mandi hanya menggunakan daleman.
"Aaaaaaaaa ! Jason apa yang kamu lakukan !" teriak Sinta kaget. Satriapun berenang hanya mengenakan daleman.
Sinta begitu grogi. Segera Ia memalingkan wajahnya. Satriapun sadar dengan apa yang terjadi, segera Ia menceburkan diri ke sungai lagi.
"Pulang saja dulu Sin, nanti kami menyusul !" kata Satria dari sungai.
Tanpa menjawab dan menoleh, Sinta meninggalkan mereka. Ia berjalan dengan cepat meninggalkan sungai. Ada rasa malu dan rasa gairah yang merasuk ke dalam tubuhnya. Lama sudah, Ia tak merasakan belaian lelaki.
"Pak Jodi, kapan kita bisa bersama lagi." bisik Sinta dalam hati. Air matanya mulai mengenang di pipinya walaupun tak sempat menetes.
Tubuh Sinta yang kuat dan teruji membuatnya cepat samapi di rumah. Nenek sudah menunggu di depan pintu.
"Lho, mana Satria dan Jason ?" tanya Nek Ijah keheranan melihat Sinta pulang sendirian.
"Menyusul Nek. Tadi Ijah tinggal soalnya mereka sedang merapikan barang-barang yang digunakan." jawab Sinta sekenanya. Padahal pikirannya masih tertuju pada senjata Satria yang begitu perkasa. Memikirkan itu, gairah Sintapun perlahan bangkit. Ia tetap kepikiran dengan kejadian di sungai walaupun sudah sekuat tenaga berusaha melupakannya.
"Ada apa dengan aku ini ? Apa aku jatuh cinta dengan Satri ? Tidak. Itu tidak boleh terjadi. Apa hanya nafsu karena lama tidak bersinggungan dengan lelaki ?" batin Sinta. Fikirannya berkecamuk antara kenyataan dia telah bersuami dan kebutuhan biologisnya yang berharap untuk dilampiaskan.
Sejurus kemudian Jason dan Satria datang. Merekapun segera menyantap masakan buatan Sinta. Apalagi setelah beraktivitas memanah dan menunggang kuda. Rasa lapar yang semakin menggila membuat masakan Sinta terasa sangat enak.
"Enak sekali masakan Tante Sinta. Iya gak Son ?" puji Satria sambil melirik ke Sinta. Sinta hanya tersipu malu. Wajahnya sedikit merah.
__ADS_1
"Betul Om. Sopnya terasa segar dan lezat. Tidak kalah sama beli di warung." timpal Jason.
"Restoran kali Son." ralat Satria.
"Iya betul. Restoran." kata Jason sambil tertawa. Mereka tertawa bersama. Harmonis sekali hubungan mereka, seperti keluarga yang lama sekali tidak bersua.
Suasana seperti itu belum mampu menghapus bayang-bayang Satria pada kejadian di sungai. Hingga malam saat mau tidurpun kejadian di sungai masih terbayang jelas di benaknya.
"Tante belum tidur ?" tanya Jason yang melihat Sinta masih terbuka kedua kelopak matanya.
"Belum, susah mau tidur." sahut Sinta.
"Ingat Om Satria ya ?" tebak Jason.
"Hush. Apa sih kamu ?" hardik Sinta malu karena ketahuan yang ada dalam fikirannya.
"Emang ganteng Om Satria itu. Badannya luar biasa tegap. Bentuk tubuhnya sempurna." puji Jason lirih.
"Ada lagi yang hebat Tan." lanjut Jason.
"Apa itu ?" tanya Sinta penuh selidik.
Deg. Dada Sinta berdegub-degub mendengar omongan Jason. Mereka lalu terdiam lama. Tak lama kemudian terdengar suara dengkuran Jason. Rupanya Jason tertidur duluan. Sinta berusaha sekuat tenaga agar segera tertidur.
Fajar segera menjelang. Matahari mulai bersinar terik.
"Ayo Sin, katanya mau belajar naik kuda !" ajak Satria di depan rumah.
"Ayo Tante. Naik kuda bisa menghemat waktu perjalanan lho !" timpal Jason.
Sinta perlahan mendekati kuda yang dibawa oleh Satria.
"Dielus-elus dulu kepalanya, biar kenal dan akrab." kata Satria memberi contoh. Sinta mencoba. Tangan lembut Sinta membuat kuda itu meringkik lembut.
"Tuh Sin, kudanya mulai meringkik lembut. Tandanya mau berkenalan denganmu. Ayo sekarang naik !" ujar Satria.
"Aku takut. Sama sekali belum pernah naik kuda." jawab Sinta.
__ADS_1
"Tidak usah takut. Bareng saya." kata Satria sambil menaikan Sinta ke atas kuda. Lalu Satria naik di belakang Sinta.
Satria memegang tali kuda seperti merangkul Sinta. Dada Sinta sangat bergemuruh saat itu. Antara takut dan grogi dalam pelukan Satria. Walaupun dia sadar kalau Satria tidak berniat memeluknya. Hanya saja posisi Satria memang harus seperti itu.
"Hiya ! Hiya ! Hiya !" teriak Satria sambil menepuk punggung kuda. Kudapun berlari pelan. Sinta sangat ketakutan, Ia memegang erat tangan Satria.
"Tidak usah takut. Ada aku." bisik Satria lirih.
Kudapan mulai berlari. Pertama pelan, lama-lama bertambah kencang.
Jason yang melihat kejadian itu berteriak kegirangan.
"Ayo tambah kencang lagi Om !" pinta Jason.
"Jangan ! Jangan !" tolak Sinta ketakutan.
Namum Satria tidak mengindahkan ketakutan Sinta. Sinta memegang tangan Satria semakin kencang dan Satria memeluk Sinta dengan erat. Sekilas pasangan Satria dan Sinta seperti pasangab kekasih yang sedang memadu cinta dari atas kuda. Nampak mesra, berpelukan di atas kuda.
Laju kuda mulai melambat. Namun, peganga Sinta pada Satria tidak mengendur. Begitu juga dengan pelukan Satria pada Sinta. Justru semakin erat. Kudapun berhenti berlari. Sinta menghela nafas lega. Kepalanya menengadah tertopang pundak kanan Satria. Mata Sinta terpejam. Satria lalu mencium kepala Sinta dengan lembut. Sinta sama sekali tidam menolak. Malah melenguh lirih.
"Tria." bisik Sinta lirih.
"Ya Sin ? Masih takut ?" balas Satria lembut.
Sinta menggeleng pelan. Mata Sinta yang terpejam diikuti dengan bibir Sinta yang ranum terbuka lebar. Suara ******* Sinta membuat Satria lupa diri. Bibirnya segera menyambar bibir Sinta. Keduanya berpagutan layaknya dua ekor ular yang tengah berkelahi. Dada Sinta bergemuruh hebat.
Tiba-tiba Jason berteriak dari belakang.
"Hai, lagi pada latihan apa ini ?" teriak Jason.
Satria dan Sinta terkejut. Mereka lengah sehingga jatuh dari kuda.
Brug.
"Aduh, sakit !" jerit Sinta yang terjatuh.
"Tante, tante kenapa ? Kok tidur di bawah begitu ?" tanya Jason melihat Sinta tergeletak di bawah ranjang.
__ADS_1
"Gak pa pa Son. Tadi Tante cuma terjatuh. Tidurnya terlalu minggir." kata Sinta menjelaskan sambil tersenyum kecut karena semua itu hanya mimpi.