
" maaf. aku tak sanggup menolak, jes. ayahku sudah sakit-sakitan. keluarga kami terlibat banyak utang Budi. mungkin mereka tak pernah menagihnya. aku yang harus tau diri, kumohon kau mengerti".
Jessy tak menyanggah. ia tak bisa berpikir. hatinya terlalu sakit akibat tikaman belati mendadak itu. begitu dalam tertancap; hingga nyaris tak tahu lagi, harus berempati pada lelaki di depannya atau justru dirinya sendirilah yang layak di kasihani. ia hanya tau, hanya ada satu penjelasan untuk semua kekonyolan ini. lelaki itu memilih menghabiskan sisa umurnya dengan seseorang yang akan memeluk dalam tawa dan air mata Alfin selama-lamanya. sayangnya orang itu bukan dirinya.
air matanya Jessy mengalir tak lagi tanpa terbendung. ia tak akan membendungnya lagi sekarang. Alfin harus tahu dan melihat nya, bahwa ia sangat terpukul, terluka dan sakit hati.
"sungguh, jes. aku tak bermaksud melukai mu. aku hanya menyayangimu seumur hidupku".
lagi-lagi, gadis itu tak menjawab. bullshit! ia tak percaya. masihkah kata 'cinta' Alfin ada Alfin ada artinya? jika ternyata ia di tinggalkan?.
Jessy memandang jauh ke langit, pada rasi-rasi bintang yang berpencar. kabut yang barusan melintas telah tersingkap. KerLiP gemintang terlihat bersinar lebih terang dari biasa. dingin mulai merayap Jessy mulai di serang mati rasa. ia tak lagi mendengarkan kata-kata Alfin berikutnya yang samar-samar. denyut dikepalanya makin kuat.
"antar aku pulang,Fin ," katanya tiba-tiba memutus kalimat Alfin yang entah apa. lelaki itu menoleh.
"apa?" Alfin tergagap, terlupa pada fokus sebelumnya,
__ADS_1
"kau dengar,'kan?" Jessy berkata ketus dan bangkit. ditinggalkannya Alfin dengan kecamuk dan pergolakan batinnya sendiri. sesaat, matanya berkunang-kunang karena gerakan yang tiba-tiba. nyaris ia jatuh kalau Alfin tidak buru-buru menangkapnya. namun kemudian, Jessy menepis pertolongan lelaki itu dan malah sekaligus muak.
Alfin terdiam, di cobanya bersabar diri menerima perlakuan jessy. gadis itu berhak melakukannya, bahkan seharusnya lebih dari ini, ia bersiap. tetapi, Jessy tak melakukan apa-apa selain memintanya mengantar pulang.
segera mereka melesat menembus kesunyian. malam makin menggigil, menyisakan dua sejoli itu tenggelam dalam kebekuannya masing-masing. tak ada yang kuasa memulai pembicaraan. di sepanjang jalan, semerbak aroma kembang kopi tertiup angin semilir menyisakan suasana eksotik sekaligus membuat bulu kuduk mengembang di bawah keremangan malam Bermandi cahaya bulan.
__ADS_1
"*jadi, pesta sepanjang hari ini adalah kado perayaan perpisahan dari Alfin untukku*?" hati Jessy tersayat-sayat dan menggeram sambil memandangi punggung Alfin. *andai saja ada suatu keajaiban, sepeda motor ini menabrak sesuatu dan tergelincir jatuh. tak akan ada esok hari yang buruk menikamku. Alfin tak perlu menikah dengan orang lain. kami akan mati bersama-sama dalam ikatan sumpah janji setia tak terpisahkan selama-lamanya*.
...****************...
di tempat lain, fera uring-uringan. serasa berjuta kali sudah ia menelepon Jessy tapi tak ada tanda-tanda di angkat. instingnya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres telah terjadi pada gadis itu. padahal.....fera baru saja mendapat berita buruk. sangat-sangat buruk untuk di ketahui Jessy.
"kamu dimana, Jessy? ini penting. tolong angkat telepon ku. kamu harus mendengar nya dan mengetahui nya. dan, kau tak akan pernah percaya ini semua."
matanya merayapi Jam dinding, mencari dimana jarum panjang dan pendek disana menunjuk waktu.
__ADS_1
"ya,salaaamm...." matanya terbelalak seperti mau loncat dari liangnya karena terkejut, sudah hampir tengah malam. telepon sama sekali tak di angkat, SMS dan WhatsApp sama sekali tak terbalas, padahal sedari sejak sore di hubunginya, "kamu kemana sih jes?"
...****************...