SESUATU YANG HILANG

SESUATU YANG HILANG
chapter 25


__ADS_3

"kalau begitu, Laksamana" tawar jessy memandang sosok Cheng Ho yang berkilau keemasan, "Carikan aku jodoh yang mencintaiku apa adanya, dengan segala kekurangan dan kelebihan ku. dan, buat aku melupakan Alfin!".


Laksamana Cheng Ho pasti tertawa mendengar permintaan jessy. "aku bukan pengabul permohonan!" mungkin itu yang hendak di katakannya pada gadis yang selalu berjalan seolah tanpa tujuan hidup selama beberapa bulan terakhir.



"sungguh menyedihkan" seolah mendengar kalimat bernada mengejek itu, jessy menoleh. hampir-hampir ia percaya kalimat itu ditujukan untuk dirinya. ternyata, tak jauh darinya ada sepasang muda mudi sedang terkekeh-kekeh membicarakan sesuatu yang tak dimengerti jessy.



jessy menggeleng kan kepala. ia pun meninggalkan Cheng Ho yang masih menerima banyak tamu. sejauh ini, ia hanya mengamati semua dari luar pagar. tak banyak bicara lagi ganteng Alfin, jessy menyusuri komposisi klenteng, seperti kuil kyai jangkar, kyai cundrik, kyai dan nyai tumpeng dengan mata sayunya.


__ADS_1


"anda orang hebat, Laksamana. kau orang besar. kau juga bisa hidup dan bertahan tanpa perempuan di sampingmu. apakah kau juga mengerti pahitnya cinta sepertiku?"



prof. Dr. pramana adiratna, MM, pengampu mata kuliah ekonomi makro masih menjelaskan kebijakan-kebijakan fiskal dan moneter masih terngiang-ngiang di benak jessy, padahal saat ini ia sedang duduk di belakang meja belajar. mata nya tak berpindah dari buku super tebal, menelusuri kata demi kata. semua dijejalkan ke dalam otak kirinya, lalu mentransmisikan ke otak kanan untuk merangkai analisis perkembangan ekonomi negeri ini dipandang dari kebijakan-kebijakan pemerintah. otaknya melayang-layang menyambangi lagi berita demi berita di televisi, koran-koran, sampai artikel yang berdebaran di internet tentang ekonomi kerakyatan, Industri skala makro dan mikro, yang sempat singgah, berharap simpul syaraf otaknya cukup bisa di mengerti tentang inflasi demi inflasi yang terus menyapa, mencekik rakyat kecil yang terus berharap dapat bernapas di antara harga-harga yang terus melambung tinggi.




teras masih sepi, belum ada satu pasien yang antri. ia mulai membaca, bumi manusia, sastra luar biasa hebatnya karya Pram. entah bagaimana, otaknya yang terbatas mulai berdenyut. rasanya salah, merehatkan pikiran dari tulisan berat buku tadi ke buku yang lain meskipun berbeda jenis, pikirnya menertawai kebodohannya sendiri. akhirnya, jessy menyerah ketika datang pasien pertama. mereka membuka gerbang besi yang sudah terbuka sedikit, seorang lelaki muda dan gadis remaja. yang satu sepertinya berusia sekitar dua puluhan akhir, yang satu lagi seusia SMA. mereka tersenyum ramah padanya. Jessy juga mengangguk. mereka berdua duduk di kursi panjang yang sama dengan jessy.


__ADS_1


.. "antri juga, mbak?" tanya si lelaki. sementara si remaja asyik dengan *smartphone* miliknya sambil meraih nomor antrian yang ternyata nomor satu. jessy merasa anak itu tahu, dokter Kezia tak pernah menggunakan sistem antri via telepon.



Jessy tersenyum tipis . "bisa dibilang begitu".



lelaki yang tingginya kurang dari 175 cm itu menatap tak mengerti tapi juga tak membantah.



"siapa yang mau periksa?" jessy mengerling remaja putri berambut ikal yang mengingatkan nya pada artis Korea di suatu drama. anak itu kini. berpindah ke kursi yang lebih dekat dengan ruang konsultasi dan pemeriksaan.

__ADS_1


__ADS_2