SESUATU YANG HILANG

SESUATU YANG HILANG
chapter 22


__ADS_3

"hmmm.." phani menjawab acuh tak acuh. pandangannya masih tertuju pada kain mori yang terbentang pada gawangan. "makan saja dulu".



Alfin menggeleng. ia tak habis pikir. seharusnya ini masih curi, apalagi usaha batik ini milik keluarga besar pak Raihan, ayah phani sehingga aneh rasanya jika phani tak mengikuti perintah orang tuanya. phani berkeras tetap bekerja, padahal masih banyak tamu. sedang Alfin juga hendak mengajak phani pergi dan memperkenalkan nya ke saudara-saudara setelah resmi menjadi istri. namun, phani sepertinya tidak antusias menanggapi rencana tersebut. bahkan kali ini, perempuan itu menolak makan bersamanya.



"lain kali, katuk pintu dulu Fin. kau hampir membuat batik ku gagal total sekaligus melepuh kan kulitku" tegas phani masih kesal. selama berkata, sama sekali tak di tatapnya kembali wajah Alfin. ia mulai membatik lagi "oh,ya. jangan lupa tutup kembali pintunya kalau mau keluar."



Alfin tak membantah. kembali ia meninggalkan phani sendiri dengan perasaan terluka harga diri. disapunya ruang kerja karyawan yang sepi. alat-alat membatik masih tertata rapi di tempat penyimpanan karena pembatiknya diberi libur tujuh hari.

__ADS_1



Alfin terus berjalan. ia tak kembali ke rumah seperti rencana nya semula bila berhasil membujuk phani. sebaliknya, ia justru meraih sepeda motor yang kebetulan sudah terparkir di luar garasi. lekas di nyalakannnya kendaraan itu dan meluncur pergi tanpa tujuan. benak nya masih terasa kacau. enggan di terimanya tatapan mertua ketika Alfin sendirian, seolah bertanya, "dimana istrimu?" terlebih, ia selalu melihat phani dengan wajah jessy, meskipun rasa kecewa kemudian menyadarkannya --- bahwa phani bukanlah Jessy, terlebih jessy sama sekali tidak pernah seketus phani. ingatan tentang jessy kembali meremukkan hati Alfin.


.


...----------------...


phani menatap kosong pada punggung Alfin yang kemudian menghilang di balik pintu. ada rasa sesal dan bersalah menyesak dadanya. di letakkan nya lagi canting di atas wajan berisi malam yang mendidih. sejujurnya, sejak pagi ia tak bisa benar-benar berkonsentrasi. biasanya, mampu menyelesaikan sepertiga kain dalam waktu setengah hari karena ia mumpuni dan terampil membatik dengan cepat. namun, ternyata tidak Hari ini. ia hanya mendapatkan seperempat nya karena membatik dengan lambat.



__ADS_1


phani tak mampu menjawab pertanyaannya sendiri. kembali ia menatap ke arah daun pintu, lalu berpindah ke arah daun jati pada motif batik. entah bagaimana daun itu justru terlihat lebih mirip daun maple bergerigi tumpul yang bertebaran di atas kain mori putih depannya. disentuhnya satu daun pada motif yang terdekat dengan jemari. malamnya sudah dingin. karena hanya itu yang bisa di lakukannya untuk bertahan.



"lebih dingin mana, hatiku atau salju di musim dingin sana? benar kan? ini musim dingin?" sapa phani pada kombinasi daun jati dan maple di atas kain.



suara pintu di buka terdengar lagi. kembali phani terlonjak. hampir saja kesalahannya bangkit lagi, mengira Alfin datang. ia menoleh. ekspresi meledak sudah terpasang disana. hanya sedetik saja, wajah tak bersahabat itu membeku. ternyata, ayahlah yang datang berkunjung.



"Alfin mana?" pak Raihan mendekat. dilihat seksama, kedua orang itu punya kemiripan yang kental.

__ADS_1



"tidak tahu, yah. sejak tadi phani ada disini," sahut phani pura-pura fokus pada kainnya.


__ADS_2