
tergopoh-gopoh fera meninggalkan sepeda motor sembarangan di halaman rumah Jessy kenyataan bahwa semalam Jessy tak merespon pesan ataupun teleponnya benar-benar mencemaskan.
"Jessy dimana Bu,?" tanya fera pada Bu Lastri.
perempuan yang masih menyapu itu tak begitu antusias. tampaknya, perempuan nyaris lima puluh tahun itu tak menyadari situasi rumit yang tengah berlangsung. "itu masih tidur di kamar, tumben juga biasanya dia bangun pagi. mungkin masih lelah."
"memangnya,semalam ia pulang jam berapa?" fera masih di rundung cemas
"kurang tahu. Jessy bawa kunci sendiri kayaknya sih hampir tengah malam gitu".
fera nyaris tak percaya pada pendengarannya. perempuan itu begitu lugu, terlalu percaya pada lelaki brengsek bernama Alfin. namun, ia mengabaikan perasaannya. ia mengeloyor begitu saja ke kamar Jessy.
greegg!!
duh di kunci, jantung Jessy berdetak lebih kencang beberapa kali, membuat ketakutan nya juga berlipat. *Tuhan, semoga Jessy baik-baik saja*.
__ADS_1
"Jessy...!!" panggilnya sambil mengetuk pintu. tak ada jawaban. kecemasan makin bergolak, apalagi saat pintu diketuk makin deras,belum ada jawaban dari dalam
Bu Lastri mendekat. meskipun heran dengan sikap fera, ia tak bertanya. instingnya mulai bekerja, ada hal penting hendak di sampaikan gadis muda itu, dan kemungkinan besar berkaitan dengan Jessy. mungkin saja bisa menjelaskan tentang sikap aneh yang tunjukan anaknya pagi ini. ia ikut mengetuk pintu. disaat yang sama, pak Rahmat suaminya menyusul. mereka ikut memanggil dan mengetuk kencang.
tak mendapat sambutan, pak Rahmat memutuskan untuk mendobrak pintu kayu yang tak seberapa kokoh itu.
Brakk!!!!
"Jessy!!!" serentak tiga orang itu menghambur.
...****************...
Jessy terbaring dengan mata terpejam. ia tak merespons suara-suara di sekitarnya. tubuhnya gemetar pelan. sesekali gumam tak jelas, hampir-hampir terdengar seperti bisikan keluar dari bibirnya.
fera menyentuh kening sahabat baiknya itu dengan telapak tangan. napasnya agak memburu tubuhnya pun berguncang. antara sedih dan marah membara.
__ADS_1
"kau akan membayar semua ini!" geram fera sambil menelan bulat-bulat bayangan Alfin yang muncul di kepala. "seumur hidup, aku tak akan memaafkan mu kalau sesuatu yang buruk sampai menimpa jessy".
dengan bantuan tetangga yang terbaik hati meminjamkan mobil, Jessy yang panas tinggi di bawa ke puskemas untuk menjalani rawat inap.
...----------------...
Alfin duduk di belakang meja kasir dengan perasaan tak menentu. semalaman, ia tak kembali kerumah. ia langsung saja kemari, menghindari cecaran orang tua tentang hubungannya dengan Jessy. hatinya perih, seperih-perihnya. menyakiti hati Jessy bukan sesuatu yang disukainya. apalagi meninggalkannya, benar-benar tak pernah di impikannya seumur hidup.
"apakah Jessy baik-baik saja?" pertanyaan \*\*\*\*\*\*\* muncul berkali-kali dalam ingatannya. namun, ia tak pernah yakin akan jawabannya.
Alfin mengenal Jessy seperti mengenal detak nadinya sendiri. ia bahkan mampu merasakan bila sesuatu yang buruk menimpa gadis itu. hanya saja, entah bagaimana kali ini Jessy terasa sangat jauh dari jangkauan Indra keenamnya. bahkan, hanya untuk mendengar suaranya lewat telepon Alfin sudah tak punya kuasa. ia terjebak dalam dunia asing yang di ciptakan nya sendiri.
"mas, kerjanya yang bener dong!" seru pelanggan mengagetkannya.
"eh, iya. maaf Bu". Alfin mengambil barang belanja yang ditaruh di keranjang sambil menghitungnya dengan *scanner barcode*.
__ADS_1
"makanya jangan melamun terus!" perempuan paruh baya itu masih sewot sambil berkali-kali menengok jam tangan. tampaknya ia tengah terburu-buru. "cepetan, ah!".