
semua benda telah selesai dipak dalam troli. tak ada lagi yang di yakini mungkin akan di butuhkan. Jessy telah melempar semua kenangan masa lalunya ke dalam api hingga nyaris tak sisa. hanya hati saja yang tak mampu memungkiri lubang hitam besar kini menganga lebar dalam dirinya.
" jadi, kamu benar-benar akan pergi?" tanya fera dalam telepon dan terasa sangat jauh bagi jessy. ia akan meninggalkan semuanya selama beberapa lama demi ketenangan yang di butuhkannya.
"ya, tentu saja. aku butuh suasana baru".
"aku ikut menyesal, jes" fera terdengar prihatin, tulus, dan sungguh-sungguh.
"terimakasih, fer. kamu terbaik sejauh ini".
begitu juga ia. ia masih satu-satunya. aku masih teramat mencintai nya. kalimat itu di telan lagi dengan paksa, menyisakan gumpalan besar di dada Jessy hingga membuatnya sesak bernapas.
"kau akan kemana?" tanya suara diseberang sana lagi.
__ADS_1
"tak jauh. tapi, ku harap cukup membuatku lebih baik" suara jessy mengambang, namun tidak terdengar sedih.
"kenapa sih kamu nggak mau bilang tempatnya?"
"kalau bilang-bilang, namanya bukan retreatism" Jessy terkekeh tak meyakinkan tersebab memang tak ada hal lucu untuk ditertawakan.
"oke.oke, hope you Will be better. now and ever, little angel l. Time Will Pay your Faith".
"thanks so much, sister".
Jessy menarik napas panjang, mata hitam nan sipitnya menatap lagi pada troli besar didepannya. kemarin benda ini dibawa pulang selepas wisuda. hari ini, benda itu akan menemani nya lagi berjalan-jalan ke negri antah-berantah yang mungkin tak di kenalnya.
"aku sudah siapkan tempat terbaik yang aku bisa. mudah-mudahan kamu suka. yaaa...kalo tak suka, nanti bisa cari lagi Yang lebih baik".
__ADS_1
Hmhh!! di tariknya lagi napas panjang sebelum resleting troli di tarik menutup.
"aku kabur, melarikan diri! aku kalah perang" umpatnya. "it's bullshit. love is nothing!!"
Jessy menjinjing troli ke dekat pintu kamar, lalu menyeretnya dengan bantuan roda di bagian bawah troli. menjadi anak tunggal dalam keluarga telah menempanya menjadi lebih mandiri. walaupun mengangkat beban seperti troli itu umumnya tugas laki-laki, jessy menampik tawaran bantuan. lebih dari itu, beban fisik mungkin dapat membantu mengalihkan dunianya sesaat.
"mudah-mudahan semua baik-baik saja," doa Jessy saat mobil *travel* yang di tumpanginya menjauh meninggalkan kantor tempat tadi jessy menunggu.
sepanjang perjalanan, jessy melewati waktu dengan menebarkan pandangan menembus kaca jendela. bahkan, nyaris tak di dengarnya suara lelaki muda yang duduk disebelahnya. tampaknya, lelaki berpenampilan rapi itu naik mobil ini dari Pekalongan. akan tetapi, Jessy tak terlalu peduli pada lelaki berkemeja batik hitam bermotif daun maple bersudut runcing pada tepi-tepinya. ia tampak agak antuasias mengajak jessy bicara. lelaki itu terus bicara, menghamburkan cerita-cerita yang akhirnya bosan sendiri ketika jessy hanya menimpali dengan singkat dan tak terlalu respek. merasa tak di tanggapi, lelaki itu mengajak bicara orang lain. jessy merasa lega. ia melepas pandangan keluar jendela dan menikmati hijau gelapnya alas Roban, kepada pedagang kelapa muda yang berderet sepanjang jalan.
__ADS_1
"seandainya ada kelapa muda yang memiliki efek insomnia parsial" jessy tersenyum nakal saat membayangkan sesuatu yang absurd. dibayangkannya ia meneguk air segar didalam kulit keras warna hijau itu, lalu kepalanya tiba-tiba pusing, sadar-sadar ia sudah melupakan semua kisah yang pernah dilaluinya bersama Alfin.