
"ta-tapi kenapa? apa salahku?!" nada Jessy meninggi. ia mulai terguncang kata-kata Alfin...........sungguh tak mungkin, tak bisa di percaya.
mulut Alfin terkatup dapat. ia tak ingin mengatakan apapun lagi. *sudah cukup*, raungnya. *apa yang sudah kulakukan*? harusnya ia mendekap jessy sambil tertawa keras dan berkata ini hanya lelucon. sayangnya, ini bukan lelucon, bukan pula mimpi di siang terik.
"*kau harus melakukannya*!" sebuah suara garang ayah menembus lorong eustachius di telinga Alfin. "*kau harus meninggalkan nya malam ini juga*!".
" *cukup*!!" Alfin ingin berteriak sekerasnya, menutup daun telinga yang terus saja menagih janji. tak terasa...ia mulai gemetar.
"kamu tak salah Jes. sama sekali tidak! kita hanya terjebak pada keadaan yang salah. hubungan ini juga termasuk kesalahan terbesarku." Alfin menelan ludah dengan getir.
__ADS_1
"apa maksudmu?!" tanya jessy ke sekian kali.
Alfin agak kesal. *tolong, jangan membuatku mengulang-ulang kenyataan bodoh ini, jes*. sekali lagi Alfin menelan ludah dan berusaha meneguhkan hati. "hubungan ini adalah sebuah kesalahan, jes. KESALAHANKU yang terbesar. aku mencintaimu. namun, faktanya cintaku itu ternyata akan membunuhmu. aku pendosa,. jes. pendosa tanpa ampunan".
Jessy terdiam. perasaannya campur aduk antara ketidakpercayaan, amarah, kesedihan yang memantik tiba-tiba dalam jiwanya. antara percaya dan tidak percaya; ia merasa seperti tengah di permainkan. dicobanya menahan diri dan tak menyela kalimat Alfin yang terdengar timbul tenggelam dalam kegelapan. sesuatu di kepalanya mulai terasa berdenyut. di kumpulkan nya puzzle, keping demi keping tanpa daya.
"maksudmu?" Jessy menuntut.
"itu sungguh candaan yang lucu, Fin," ulangnya lagi.
__ADS_1
Alfin tak menjawab. sekilas, di keremangan, di lihatnya wajah Jessy memucat. entah mengapa, secuil rasa dalam diri Alfin mengatakan bahwa berita yang di bawanya tak terlalu mengejutkan jessy. apakah sebetulnya Jessy sudah tau? akan tetapi, Alfin tak ingin memastikan. untuk menatap mata Jessy saja, ia tak sanggup. bahkan, ia sendiri sibuk menahan diri agar tak jatuh.
"maksudmu kau akan segera melamar ku.begitu kan? tolong jangan main-main denganku." Jessy menatap lurus-lurus ke arah Alfin yang tetap geming. kegelisahan tempo hari deras menderanya cukup beralasan. *kesibukan di rumah Alfin, dan ia tidak tahu. Alfin akan menikah! dan, bukan dengannya*!.
Jessy menggeleng kencang. digigitnya bibir hingga terasa sakit. *jadi, ini bukan mimpi? Alfin mengkhianatinya*? air mata mulai meleleh di pipi Jessy dah berjatuhan di pangkuan nya. kini, ia mulai bisa meraba alasannya. Alfin yang tak lagi ceria dan antusias saat bersama nya atau ketika menerima telepon. raut wajah yang tidak cerak seperti biasa, juga senyumnya yang terkesan hambar dan di paksakan. semua itu ..........
"kau tidak boleh melakukannya, Fin! kau sudah berjanji padaku!" pelan-pelan, ketidakpercayaan nya berguguran. Jessy berteriak histeris.
air mata Alfin mulai mengembang. segera, di alihkannya pandangan ke langit bertabur gemintang. " tolong, jangan menangis, Jessy" hatinya memohon. Akan tetapi, guncangan tubuh Jessy yang di tangkap ujung mata Alfin menjawab lebih awal.
__ADS_1
...****************...
Alfin membiarkan Jessy menghempaskan kekecewaan, dan sakit hatinya beberapa lama. Alfin tak menangkap apalagi memeluknya. ia harus membiarkan Jessy menghadapi kekacauan dalam hatinya seorang diri, sejak malam ini. Jessy harus terbiasa meskipun sakitnya saat ini pastilah luar biasa. setelah tangis Jessy reda, barulah ia bertutur.