
*klik*!
terdengar suara kunci di buka. sedetik. kemudian, pintu terbuka lebar. seorang perempuan berusia tiga puluhan akhir muncul disana. kening perempuan dengan sebuah turban cokelat gelap dan kaus oblong warna merah tua pudar itu berkernyit diiringi pandangan penuh tanya.
jessy tersenyum sopan, tak mengacuhkan tatapan curiga dan waspada perempuan yang berdiri didepannya. ia sendiri tak mengenali orang itu.
"maaf, apa benar ini rumah Bu kezia?". tanyanya pura-pura tak tahu.
"iya, benar. mbak siapa yah?" jawab perempuan itu tak mengurangi sikapnya. sepertinya, orang itu kurang suka dengan orang asing. atau, mungkin memang ia berhati-hati dengan orang yang belum dikenal, terlebih membawa troli besar.
"saya jessy, keponakannya dari batang".
__ADS_1
mendadak ekspresi tak bersahabat perempuan itu buyar, berganti ramah yang tak dibuat-buat.
"Oalah, ini toh yang namanya mbak jessy. maaf, saya tak tahu". kini perempuan yang diterka jessy sebagai asisten rumah tangga itu tersenyum minta maaf. "silahkan masuk. dokter Kezia masih dinas. mungkin sore baru pulang. tapi, saya sudah siapkan kamar. mari masuk."
jessy tersenyum lega. di tolaknya tawaran untuk membantu membawakan troli dari orang yang menyebut diri sebagai mbak Nani.
segera, Jessy menyalakan kipas angin agar suasana gerah sedikit berganti. di tatanya semua barang, termasuk buku-buku ke dalam rak kesibukannya membuatnya lupa pada rasa penat yang mulai menyerang. sehingga, setelah selesai ia langsung terjatuh dalam tidur. ia bahkan tak mendengar ketika mbak Nani mengetuk pintu untuk menawarinya makan siang. rasanya sudah lama sekali tidurnya tak lagi selelap ini.
bangun-bangun, hari sudah menunjukkan pukul 16.17. Jessy keluar kamar. rupanya si nyonya rumah sudah pulang dari dinasnya di rumah sakit. sekarang, tampaknya ia tengah asyik menonton berita sore.
__ADS_1
perempuan berkacamata silinder berbentuk oval dengan bingkai keemasan itu menoleh begitu di lihatnya pintu kamar jessy terbuka. pandangan mereka bertemu.
"hai..." perempuan lima puluh tahun itu menyapa riang pada Jessy yang justru masih mengerjap-ngerjapkan mata sambil tersenyum malu.
"Bu Dhe" Jessy mencium tangan perempuan berambut sebahu yang tak lain kakak ayahnya. sepelasnya, kedua perempuan itu terlibat dalam perbincangan ringan.
...----------------...
hampir keseluruhan hari di habiskan phani dengan menguji coba desain batiknya. selama proses itu, ia melakukannya sendiri. dengan segala asumsi nya, ia menolak membatik bersama pada karyawan. akhirnya, pak raihan, ayahnya, membuatkan sebuah ruang berukuran 3×3 meter dengan beberapa jendela lebar untuk mengurangi efek panas, sebagai ruang kerja phani. tentu saja selama proses uji coba, ia tak akan keluar sampai dipandangnya perlu. hari ini masih hari yang pertama. phani baru saja menggambar pola di atas kain sepanjang 2,5 meter. kali ini di cobanya motif daun jati berwarna hijau terang. phani memberinya nama Roban Penjaga.
seseorang membuka pintu. phani melonjak kaget. hampir saja ia menumpahkan malam panas yang tengah di goreskannya ke atas kain dengan canting. ia mendesis marah tanda tak suka diganggu karenanya, ia memasang gampang masam.
__ADS_1
"makan, phan" tegur seorang lelaki di ambang pintu yang tak lain adalah Alfin.