
"selamat jalan, Fin. esok aku akan berjalan tanpamu lagi. kau milik Stephanie atau siapapun dia, sekarang".
lalu, Jessy jatuh tertidur dalam kelelahan setelah kesorean bermain air laut. setelahnya, ia segera meluncur, berenang dalam mimpi-mimpi yang tersisa dari api hidupnya. tanpa sadar, dalam tidur ia masih menangis. entah apa yang di lihatnya dalam mimpi yang suram disana.
...----------------...
__ADS_1
sengaja Alfin berlama-lama mengobrol dengan saudara dan tamu. sebenarnya mereka sudah berkali-kali menggoda serta memperingatkannya pada sang istri. Alfin hanya tersenyum. tak ada yang tahu, kelelahan sudah menggerogoti otak dan tenaganya. telah begitu keras perjuangan yang harus di laluinya untuk tiba pada hari ini. hari yang sejujurnya ingin di lompatinya, meskipun ia tahu pasti itu tak mungkin.
"akting dan dramaturgi yang luar biasa. harusnya, aku dapat *Academy awards* untuk hari ini". pujinya pada dirinya sendiri. perutnya mual menyambut kalimat itu.
__ADS_1
...----------------...
dikamar, phani berbaring dengan punggung tersandar pada bantal busa yang tebal. kasur baru, pikirnya. sangat empuk. matanya berkeliling menyapu ruang. dekorasi kamar pengantin yang luar biasa, bak beraduan raja dan ratu. aneka macam bunga terangkai di beberapa tempat, menyulap nya secantik kamar bidadari. dinding yang semula krem cerah kini telah terlapisi kain mengkilat dengan lipit-lipit *smoke* yang cantik, membuat kamar itu lebih terasa panas dari biasa. untunglah di salah satu sisi dindingnya terdapat AC yang berembus pelan, menebarkan aroma melati yang bertaburan di atas kasur. phani menekan tombol *remote control* untuk membuat angin berembus sedikit lebih kencang.
sehelai gaun sutera sepanjang betis berwarna pink hadiah ibunya telah membalut tubuh phani dengan sempurna. rambut hitam bergelombang nya terurai, sebagian melintasi pundak hingga menyentuh lengan. sorot matanya beralih pada tumpukan kado yang menggunung dan beraneka warna di sudut kamar. ada yang menggelembung besar seperti televisi yang di bungkus kertas warna biru muda, ada pula kotak yang kecil seukuran kotak ponsel. apakah itu benar-benar ponsel? phani tak tau dan tak mau tau. ia bahkan tak hendak membukanya kotak-kotak itu untuk beberapa hari atau bulan kedepan. satu-satunya kado yang dibukanya adalah kotak yang berisi *hair dryer*. itu pun hanya kepentingan fotografi yang memuakkan, terutama karena ia harus tersenyum manis di depan kamera. ia bahkan tak mengerti mengapa ada kado *hair dryer* di berikan padanya, padahal jelas-jelas benda seperti itu sudah dimiliki nya sejak remaja, bertahun-tahun yang lalu.
__ADS_1