
setelah mengisi perut hingga kenyang, barulah mereka meluncur ke pasar kaget Kliwonan yang baru di gelar menjelang sore. dalam waktu sekejap, tubuh mereka berdua telah di banjiri keringat ketika menjejakkan kaki di alun-alun. wajah putih Jessy sampai berubah merah bata karena matahari terus-menerus menghuminya dengan panas terik tanpa ampun. untunglah hari telah menjelang sore,jadi Rona merah itu berlangsung memudar.
"kamu mau beli apa?" tanya Alfin sambil melihat-lihat barang-barang yang di gelar di pasar.
"apa ya?" ucap Jessy sambil menyeka keringat. sebenarnya, ia tidak berniat membeli apa-apa. ia cuman ingin jalan-jalan menghabiskan waktu saja bersama Alfin. sangat menyebalkan, sejak masuk perguruan tinggi, waktu kebersamaan mereka banyak terkurangi. apalagi, setelah lulus Alfin juga sudah menyibukkan diri dengan bisnis keluarga mengelola minimarket.
"tenang,...... aku yang traktir." Alfin melingkar kan lengannya di pundak Jessy. gadis itu menyeringai.
"masalahnya aku tidak tahu apa yang mau aku beli".
"oh." Alfin tersenyum nakal ketika terbit ide di kepalanya. "tunggu disini sebentar ya! jangan kemana-mana!."
Alfin bergegas pergi meninggalkan Jessy sendirian. beberapa saat, gadis berambut nyaris sampai kepinggang itu kikuk. ia celingak-celinguk seperti orang yang hilang dan kebingungan.
__ADS_1
"jangan nunjukin sikap bingung begitu nanti ada orang jahat ngirim gendam ke kamu". sebuah suara menyentak Jessy dari belakang. sontak ia berbalik.
"astaga Alfin!" Jessy memegangi dadanya yang berdebar-debar karena kaget.
lelaki di depan Jessy terkekeh. sebaris gigi seputih mutiara terpampang dalam senyum lebar itu. di tangan Alfin sudah tertenteng dua buah layang-layang cantik berbentuk kupu-kupu di tangannya. Jessy terperangah tak percaya. matanya membulat lebar.
"mau mengulang masa kecil bersamaku, nona?" lelaki itu menggoda dengan senyumnya, membuat pipi Jessy menampakkan lesung pipinya.
...----------------...
Jessy takjub mendengarkan sambil mencium aroma kedatangan angin, mungkin saja sang dewa sudah berkenan singgah.
" jika layang-layang terbang tinggi, berarti harapan akan terkabul, sebaliknya jika membeku dan tak mau terbang, berarti harapan kita tak di restui". Alfin melanjutkan kalimatnya.
__ADS_1
"menarik" sahut Jessy antusias "aku ingin tahu, apakah harapan ku akan terbang tinggi atau tidak".
"ayo kita terbangkan!" ajak Alfin.
Jessy mengangguk bersemangat. beriringan mereka menuju ke hamparan rumput hijau lapangan dracik yang saat itu tak terlalu ramai. beberapa saat, mereka berdua tenggelam dalam usaha menjala angin dengan layang-layang nya. anehnya, angin sama sekali terdiam. ia tak bergerak sedikitpun hanya sekadar ke angkasa.
" apa-apaan ini?" umpat Alfin habis kesabaran. ia terus saja uring-uringan menyerapahi angin yang tak kunjung datang. Jessy terkekeh.
"tenang Fin, ini kan cuma perkara angin, sini biar aku panggilkan!".
Jessy berdiri mengadah ke angkasa. kedua tangannya merentang ke langit sambil mengucap kalimat bernada perintah dan mantra. " hey, dewa angin di Utara, timur, dan barat. datanglah! izinkan kami terbangkan layang-layang untuk memohon harapan.
Alfin tergelak menyaksikan perilaku jessy. anehnya, tiba-tiba saja angin tergerak lembut, sore yang masih terasa kering perlahan berubah sedikit sejuk. semilirnya mengibarkan anak rambut jessy. Alfin pun terkesima, selama beberapa detik di amatinya gadis yang kini bertepuk gembira, mengira usahanya memanggil angin telah berhasil.
__ADS_1
ingatannya Alfin melayang kembali saat study tour ke Jogja bertahun-tahun yang sudah terlewat. pantai Parangtritis adalah saksi, kali pertama ia jatuh hati, pada gadis remaja berambut panjang yang belum di kenalnya. mereka beda kelas. gadis remaja itu tengah bercanda bersama teman-temannya sambil mencari kerang dan serpihan karang yang terdampar ke pasir. tawanya lepas, benar-benar serupa hari ini, tentu saja dengan penampilannya yang jauh lebih dewasa dan cantik.