
Rintik hujan berjatuhan dari langit, mengganti kabur kelabu yang sudah Selama beberapa jam membungkus alam. jendela-jendela ditutup karena air berloncatan masuk dari luar, membasahi segala sesuatu yang berdekatan dengan udara luar.
serbuan bulir cair dingin menabuh atap seng dengan nada berkeretak. angin kencang sekali berembus membuat derap di atap makin deras dan juga menyobek-nyobek daun pisang menjadi puluhan bagian.
di dalam kamar,Jessy sudah menutupi tubuhnya sebatas pinggang dengan selimut tebal.sedang,punggungnya masih bersandar pada bantal yang berdiri sejajar pada dinding. jemarinya masih sibuk mengotak-atik ponsel *touchscreen*, berbalas pesan dengan orang-orang terdekatnya.
"urgent" kata fera barusan melalui pesan singkat. "*rasa-rasanya kok ada sesuatu yang sedang terjadi ya? aku kok gk nyaman sama berita ini*."
kening Jessy berkerut. di pikirnya sejenak peristiwa belakangan. rasa-rasanya tak ada hal aneh. jadi, ia mengetik balasan pesan itu.
"ada apa memangnya?".
"serius kamu gk tau? padahal ini menyangkut kamu lho," di layar,tertulis lagi pesan yang di kirim Fera dari seberang sana.
__ADS_1
"apa sih? kamu bikin aku penasaran aja," balas Jessy lagi.
"*ya, sudahlah. besok saja kuceritakan."
"oke*" chat kedua sahabat itu pun berakhir.
apa sebenarnya yang di maksud oleh fera? pikir Jessy . kenapa juga ia tak langsung menceritakan saja yang di ketahuinya di layar ponsel tadi?.
bukan pula kebiasaan fera bermain tebak-tebakan. suka tidak suka, pikirannya mulai mengira-ngira apa yang sedang ingin disampaikan gadis itu.
meskipun demikian, Jessy tak akan mencoba memaksa fera untuk menceritakan beritanya. mungkin, ruang di layar ponsel dirasa tak cukup untuk mewakili cerita fera yang suka ngelantur kemana-mana. mungkin fera akan suka rela menceritakan padanya besok.
"jangan lupa Kliwonan segera tiba "
Jessy menarik kedua ujung bibirnya, seulas senyum tersembul disana. rasa hangat menjalari setiap pembuluh ketika sebuah nama muncul di layar ponsel. **Alfin** .
__ADS_1
setiap pesan Alfin adalah cahaya, seluruh dunia segera teralihkan begitu Alfin mendekat. semua hal-hal kecil akan makin mengecil di depan Alfin tak terkecuali sesuatu yang konon *urgent*, seperti yang baru saja dikatakan fera.
Jessy melirik kalender di dinding yang berada tak jauh darinya. Alfin benar, ritual *selapanan* itu sudah di depan mata. hari yang dinanti oleh warga batang dan sekitarnya karena hanya datang sebulan sekali dalam kalender Jawa. Kliwonan, atau lebih tepatnya hari Kamis Wage malam Jumat Kliwon adalah saat yang di anggap sakral karena di selenggarakan untuk menghormati bahurekso sebagai cikal bakal dibukanya kabupaten batang.
banyak toko dan warung tutup keesokan harinya. sebaliknya,pada malam sebelumnya, sebuah pasar kaget di gelar untuk menjajakan aneka macam barang kebutuhan rumah tangga. masyarakat berharap dapat *ngalap berkah* dari tradisi kliwonan dengan melakukan ritual pengobatan seperti mandi dan membuang pakaian, mencari jodoh, mencari keuntungan dalam berdagang, dan sebagainya.
selesai berbalas pesan, Jessy meninggalkan ponsel. Kini perhatiannya teralih pada sepucuk undangan. ia merobek sampul plastik dan mengamati kertas *offset* berlatar belakang foto kedua mempelai di bagian depan. satu persatu temannya telah tiba di pelaminan. itu menggembirakan sekaligus merisaukan hatinya.
"*aku mau bikin undangan dengan latar senja," katanya suatu ketika pada Alfin. "kau tahu, senja di parangtritis itu terlalu melegenda untuk di lupakan*".
__ADS_1
*Alfin meringis. ya, di senja itu, di parangtritis, pertama kalinya Alfin mengenal Jessy*. *semenjak sore,tak lepas dari rambut panjang berkibaran di permainkan angin laut hingga menutupi separuh wajahnya. kaus biru muda dan celana sepanjang lutut berwarna krem basah di serbu ombak. Alfin tak akan pernah lupa*.