
"ayo kita pulang". jessy menyeret fera keluar.
kening fera bekernyit. "kita belum makan apapun. dan, oh....... bahkan camilan itu belum kaumakan".
"kita kesini bukan untuk makan dan minum gratis" suara jessy terdengar jengah di antara dentuman musik organ tunggal dan lagu yang di bawakan wedding singer. semua pemandangan ini menyiksa batinnya.
"oke...oke. kau tak bersalaman dulu dengan mereka? fera mengerling ke arah panggung.
"apa aku bilang mau menyalami mereka dengan bilang, Fin selamat yaaaa..,aku ikut berbahagia untukmu begitu? silahkan kalau kau mau kesana, aku tunggu di luar".
jessy berkata dengan gamang sambil ngeloyor pergi, meninggalkan hingar bingar musik dengan lagu-lagu bertema cinta yang tengah menggema di seluruh ruang, juga fera yang masih melongo tak mengerti.
"eh,tunggu" teriaknya ketika mulai memahami yang terjadi.
saat tamu yang bersalaman selesai, Alfin kembali mencari sosok Jessy di antara kerumunan yang cukup rapat. akan tetapi, sosok itu telah menghilang.
"apa tadi aku berhalusinasi?" pikir Alfin.
__ADS_1
...----------------...
mata jessy mengerjap silau saat berada di luar gedung. rasa gerah menyergap seketika setelah sebelumnya di peluk hawa AC yang sejuk. ia terus berjalan melintasi aneka jenis mobil yang berderet-deret di tempat parkir. sebelum sampai kederetan sepeda motor, ia menemukan tempat sampah. disana, suvenir kipas cantik berlabel nama kedua mempelai di buangnya.
di belakangnya, fera terpincang-pincang menyusul langkah jessy. gadis itu nyaris seperti berlari saja, sementara ia sendiri memakai *high heels*. meskipun begitu, sama sekali ia tak menyalahkan jessy ataupun memintanya berjalan sedikit lambat. sikap menyebalkan itu sudah cukup menunjukkan bahwa jauh didalam dirinya, Jessy masih cukup terluka.
"ayo kita ke kembang langit" usul jessy.
"kamu ini perlu terapi hati"
muka Jessy masam. ia mengira fera bercanda, padahal sebenarnya sahabatnya itu memang tak terlalu memperhatikan setiap kata yang didengarnya. otaknya hanya sibuk pada satu hal saja, memikirkan Jessy. ia takut gadis itu akan melakukan hal yang tidak-tidak. dan, fera tak bersedia membiarkan risiko itu terjadi di depan matanya.
__ADS_1
"kamu brengsek,Alfin! semoga kau mendapat pembalasan untuk yang kau lakukan ini" sumpah fera kesekian ratus kali. ia benar-benar lupa, kehancuran Alfin berarti juga kehancuran untuk perempuan yang dinikahinya.
...----------------...
jessy dan fera siang itu bergembira. sesaat fera tersenyum melihat perilaku jessy yang berpose *selfie* gila di antara bunga-bunga menawan didesa kembang. mungkin warna-warni aneka bunga itu bisa menjadi terapi hati yang berantakan.
"ayo lanjut ke celong?" ajak jessy selanjutnya. "apa? kau gila? dari sini ke celong itu ibarat dari Utara ke selatan"
"kalau tak mau temani ya sudah. aku sendiri yang kesana" timpal Jessy ketus sambil terus berjalan lebih dulu.
"oke,oke. tapi, aku yang mengemudi!"
fera sebal. kalimat jessy belakangan ini sangat tidak bersahabat. akan tetapi, ia hanya bisa diam dan mengikuti setiap keinginan gadis manja yang hampir setengah gila ini. kalau saja bukan karena janji pada kedua orang tua jessy, fera enggan mengikuti keinginan tak masuk akal itu. disisi lain, nyawa jessy jauh lebih penting untuk dijaganya.
__ADS_1
"semoga kamu tak perlu melihat deritanya, Alfin. kalau tidak, kau pasti tak akan pernah merasa bahagia sepanjang pernikahan mu". fera merutuk lagi sembari menarik bibirnya lebih keras.