
"jika suatu hari nanti terjadi sesuatu padaku, berjanjilah, kau harus tetap tegar melangkah jangan menoleh lagi kebelakang."
" apa maksud mu ?" Jessy kaget mendengarnya. sejauh ini belum pernah Alfin berujar seperti yang baru saja meluncur. kalimatnya sungguh aneh. "kamu ini bilang apa sih? kayak mau pergi jauh saja dan ......tidak akan pernah kembali".
mulut Jessy menutup karena telapak tangannya segera menekan bibir yang sembarangan bicara. wajahnya berkerut, ia menyesali kalimat terakhir nya barusan.
bibir Alfin terkatup seperti ada anak kunci menyegelnya rapat-rapat. Alfin menarik dan menggeliatkan bibir berkali hingga bisa bergerak lagi. itu pun perlu usaha agak keras untuk mendongkrak dan membukanya lagi.
"aku memang akan pergi jessy, aku harus pergi" Alfin menahan napas sesaat sebelum bicara lagi dengan perlahan dan hati-hati. "dan, kali ini aku sedang serius. bukan sedang bercanda kalau kamu mengira atau mengharapkan nya begitu."
...****************...
__ADS_1
petir meledak di dalam kepala jessy. apa-apaan ini? kedua bola matanya membelalak.
"kamu ini bicara apa sih Fin? aku benar-benar gak mengerti".
Jessy memutar tubuh dari menghadap bulan menjadi posisi menyamping sekaligus menghadapi Alfin. bulan pucat yang bergerak semakin tinggi kepuncak langit itu tak lagi di perhatikan nya. sesekali terlihat benda bulat besar yang bersinar dalam gelap malam itu bermain petak umpet bersama bintang-bintang di antara kelambu awan. kabut gelap mulai bergulung mendekati cahaya yang berangsur temaram, meninggalkan kedua orang yang sibuk dalam spekulasi masing-masing.
Alfin menatap kosong pada rumput yang tak berdaya di bawah kakinya. rumput itu patah terinjak sepasang sandal kokoh dari kulit sintetis miliknya.
" kamu pasti mengerti maksudku, Niken." suara Alfin terdengar berat. tak sedikit pun matanya menatap pada kekasih yang selama delapan tahun ini banyak mengisi hari-harinya. dikumpulkan nya segenap tenaga agar tetap tegar dan meyakinkan. " hubungan kita harus berakhir.........sampai..disini".
jessy terperenyak, ia terpaku di tempat selama beberapa menit. bahkan, Jessy tak yakin masih mendengar jantungnya berdetak atau tidak. perhatian nya hanya tertuju pada satu arah saja, yaitu pada Alfin yang bergerak gelisah. sorot matanya pun menghujam pada lelaki yang mencengkram kunci sepeda motor dengan eratnya seolah sarung tangan tak melindungi telapak nya dari rasa yang menusuk.
__ADS_1
ia pasti salah dengar.pasti, Alfin sudah pernah menyatakan sumpah bahwa ia tak akan pernah meninggalkan jessy apapun yang terjadi. sumpah itu.......seperti sudah terprasasti di permukaan bulan purnama, malam dimana Alfin pernah mengucap nya.
"aku akan mencintaimu selamanya, dan tidak akan pernah meninggalkan mu walau apapun terjadi. purnama itu menjadi saksi sumpahku." lalu, apa maksud kalimat barusan?
"maaf Jessy." seperti mendengar jerit hati Jessy, sebuah kalimat singkat nan pasrah meluncur dengan getar hebat dari dada Alfin. "lupakanlah janjiku dimalam purnama itu, Jessy. anggap itu hanya omong kosong tak berarti."
"hah?! apaan sih kamu ini? kamu bercanda kan Fin?" sejenak Jessy seolah tersadar, meskipun ternyata bibirnya terlalu gemetar sehingga hampir tak jelas kalimat yang baru di ucapkan.
gadis itu tetap melotot tak percaya. ia tertawa parau namun terdengar menyedihkan. pernyataan Alfin sungguh lucu dan tidak masuk akal. Alfin yang penuh cinta,ceria dan ........ia tak bisa melanjutkan lagi, terdesak hantaman rasa perih yang menderanya. sesaat kemudian hening.
"itu tidak lucu Alfin!" sungut Jessy mengambang.
__ADS_1
" aku sungguh-sungguh, jes. kamu tak salah dengar," suara Alfin menembus relung hati lawan bicaranya.
"ta-tapi kenapa? apa salahku?!" nada Jessy meninggi. ia mulai mengguncang kata-kata Alfin......sungguh tak mungkin, tak bisa di percaya.