SESUATU YANG HILANG

SESUATU YANG HILANG
chapter 11


__ADS_3

"iya" Alfin berusaha seramah dan setenang mungkin namun tetap cepat. dalam hati, ia merutuk kenapa juga Andi harus izin sampai dirinya harus menggantikan.



"ini bukan tugasku". Alfin mengeluh.



di samping itu, Alfin sedang tak ingin bertemu satu manusia pun. tatapan mata mereka seolah menuduh, suara-suara terdengar memaki, angin begunjing, semua tak sanggup di tanggung nya. padahal, sebentar lagi barang-barang dari supplier segera berdatangan untuk restok. Alfin merasa meledak.



"*apa lebihnya jessy dari pada Stephanie? phani jauh lebih cantik dan juga kaya! lebih dari itu, orang tuanya banyak membantu kita waktu susah. bersama mereka, hidupmu tak akan berkekurangan*!"


__ADS_1


Alfin muak, terutama bila ada yang menghubung-hubungkan kebahagiaan dengan uang dan kecantikan. semuanya terlalu naif, klise,dan absurd. baginya, Jessy sudah yang tercantik, belum ada yang menandingi nya, betapa pun sederhana dalam penampilan, selaras dengan rumah yang sama dengan sederhananya, betapa pun orang tuanya hanya petani melinjo dan pengusaha emping kelas rumahan. tapi, kesahajaan keluarga itu telah membawa limpahan kesejukan bagi Alfin.



disisi lain, Alfin tak bisa menampik. pak Raihan telah menopang hidup keluarnya seumur hidup. sebab, orang itu lah penggalan dana saat keluarga nya di ambang kebangkrutan saat ternakan ayam potong keluarganya habis di lahap api. adalah mustahil menolak keinginan pak Raihan untuk menjodohkan phani dengan dirinya.



usai Jam kerja berlalu, Alfin tak lekas pulang. di abaikan nya semua telepon dari orang tua, padahal sudah belasan kali benda itu berdering memanggil.




"undangan belum di ambil". begitu pesan calon mertuanya tadi pagi.

__ADS_1



Alfin tak ambil pusing. di matikan nya benda itu. setelahnya, ia berjalan kaki tak tentu tujuan, menenggelamkan diri dalam dunia yang hanya bisa di nikmati nya sendiri. di kosongkan nya pikirannya, menikmati sensasi ketidakwarasan dan ketidakpedulian pada dunia sekitar. Alfin terus berharap agar tubuhnya mampu terus menopang jiwa, sebab hari-hari kedepan ia harus berjalan sendiri tanpa di topang siapapun, termasuk jessy. ia harus melupakan wajah, tawa, senyum, tangis, dan semua cerita tentang Jessy, selamanya. esok pagi begitu gelap, segelap hatinya malam ini.


...****************...


malam di kota Pekalongan memang gak terlalu sunyi juga tak terlalu hingar. kendaraan bermotor masih sibuk berlalu lalang. lampu-lampu kota pun masih cukup terang menyinari temaramnya kita batik, sekalipun toko-toko sudah sangat jarang yang buka. di suatu sudut rumah besar di kawasan Kauman, masih ada seorang gadis yang terjaga, sudah lewat dari dentang pukul dua belas, gadis itu terus termangu menatap sehelai kertas gambar berukuran A3 dengan sebatang pensil di tangan. sebuah gambar batik bermotif burung *Phoenix* terbentang disana. sejak sore ia menggambar, lalu memberi warna dengan hati-hati.



"suram sekali warna batikmu?" tegur ayah kemarin sore. gadis itu agak kesal karna belum bisa memberi karya yang memuaskan. padahal, batik label "kinanthi" identik dengan variasi warna berderang.



wajah tirus gadis itu seolah semakin menajam manakala ia tampak serius mencoba memberi sentuhan lain; gradasi warna cerah. tapi, lagi-lagi ia merasa kesal. ia membanting semua pensil warna di atas meja dan menghentikan pekerjaannya. lalu, disandarkannya punggung ke kursi selama beberapa puluh menit dengan mata terpejam.

__ADS_1


__ADS_2