SESUATU YANG HILANG

SESUATU YANG HILANG
chapter 24


__ADS_3

seorang laki-laki duduk seorang diri di atas pasir dengan lutut bertekuk ke atas dan tangannya bertaut melingkari pergelangan kaki. suara ombak sedikit menenangkan rasa risau di hatinya. entah berapa jam sudah ia mengadukan takdirnya di pantai slamaran. matanya lurus memandang garis horizon di cakrawala, pertemuan permukaan laut sekaligus kaki langit. rasa-rasanya di ambang batas itu lah nasibnya kini berada di antara dua kehidupan yang tak jelas dirinya akan menuju kemana.


"lemah!" Alfin menggeram. "aku laki-laki. pantang menyerah pada takdir!".


tangannya meraih segenggam pasir basah dan melemparnya asal ke arah ombak yang menyentuh tempat sandalnya dilepas hingga benda itu bergeser beberapa puluh sentimeter. sedang, pasir yang dilemparnya seketika berhamburan dipecah ombak. lalu, ia berdiri. sesaat baru disadarinya pengunjung sudah semakin berkurang dari saat ia datang tadi siang. perutnya mulai keroncongan.



"ah, rupanya sarapan pagi tadi adalah kali terakhir aku makan."



pikirannya melayang kembali pada phani. mungkin saja perempuan itu tengah menantinya. ya, phani. untuk pertama kali, saat berpikir tentang perempuan, namanya lah yang terlintas. Alfin tersenyum optimis. barangkali, ini adalah awal baru baginya meniti gelombang kehidupan yang memang sudah cukup sulit baginya.

__ADS_1



"mulai sekarang, aku harus percaya pada phani. hanya ada phani." janjinya. mengalihkan perhatiannya dari bayang-bayang Jessy yang mulai menyapa.


...----------------...


berbekal sepeda motor pinjaman dari dokter kezia, jessy memanfaatkan waktu untuk menyusuri Semarang selepas jadwal kuliah. dari kawasan pamularsij dan banjir kanal timur, ia berhenti di klenteng gedung baru, Sam po kong, klenteng satu-satunya peninggalan Laksamana Cheng Ho saat menyambangi kota atlas ini.




"siapa sangka takdir kita sudah berakhir ya, Fin?" gumam jessy pada deretan hio yang masih mengepulkan asap beraroma harum. pandangannya kemudian beralih pada patung Cheng Ho yang berdiri gagah dengan pandangan tajam dan berwibawa.

__ADS_1



"katakan padaku, Laksamana, bagaimana Alfin bisa enyah dari kenangan ini? sedang, terlalu dalam sudah ia menelusuri setiap relung kehidupanku." tanyanya sendu pada sosok yang gagah berdiri di samping kuil. tentu saja sosok itu acuh tak acuh pada jessy yang mengajaknya bicara.



jessy melanjutkan langkah ke arah tempat dimana lilin-lilin berukuran besar dua jari tengah dan dua ibu jari yang saling di tautkan membentuk lingkaran. api di ujung atas lilin merah itu berkedip-kedip tertiup embusan angin, terus menyala sepanjang siang dan malam, tak peduli waktu terus beranjak, sampai masa memisahkan nya. beberapa lilin tampak masih baru, selebihnya sudah tinggal setengah atau malah hampir habis.



"kau pembual, fin. kau bilang ingin menyalakan lilin sebesar itu di hari pernikahan kita, katamu perlambang cinta abadi. nyatanya, kamu pergi lebih duluan sebelum mimpi kita di nyalakan!" rutuk jessy lagi. lalu, ia berlanjut ke goa batu, saksi berdatangan sekaligus markas pasukan Cheng Ho selama tinggal sementara waktu di pulau Jawa.


__ADS_1


jessy mengamati setiap detail perjalanan Cheng Ho melalui relief-relief yang terbentang sepanjang dinding, seolah tengah merangkai *puzzle* kenangannya sendiri. tanpa sadar, ia terus-terusan menghela napas, menyesali kepergian nya kemari kalau hanya untuk mengingat rasa sakit yang di torehkan Alfin melalui kenangan-kenangan manis. namun, Cheng Ho tentu saja tak mau di salahkan karena sama sekali tak terlibat konspirasi dalam konstelasi cinta jessy dan Alfin.


__ADS_2