SESUATU YANG HILANG

SESUATU YANG HILANG
chapter 3


__ADS_3

" rumah Alfin kelihatannya sibuk," tutur fera saat mereka bertemu di keesokan hari.



"O,ya?" Jessy tersenyum geli namun tak terlalu tertarik. keluarga Alfin adalah pedagang. mereka punya beberapa kios di pasar. wajar saja kalau mereka selalu sibuk. "apanya yang aneh?".



Jessy terbahak mengingat kata *urgent* di pesan fera kemarin.



" apa Alfin tidak mengatakan apa-apa padamu?" gadis berambut sebahu itu tak mengubah nada bicaranya. ia masih sibuk dengan kacang rebus di meja rumah Jessy.



Jessy angkat bahu, ia tenggelam dalam kegiatan bersama pakaian-pakaian yang menumpuk. sudah beberapa hari mereka tak mendapat perhatiannya.

__ADS_1



"kamu nggak diajak kerumahnya?" fera mengernyitkan kening masih menyelidik. sementara, mulutnya masih sibuk mengunyah camilan.



"lah, apa kaitannya dengan ku?" tanya jessy sambil menyetrika. di perhatikan nya baju di tangannya dengan penuh kasih sayang. pikirannya pun terbang jauh ke langit saat menatapnya. kebaya berwarna ungu lembut dengan paduan bordiran bunga-bunga cantik untuk kencan ku bersama Alfin besok, ujarnya di benak sambil menyemprotkan wewangian pada baju itu. aku pasti sangat memesona dengan baju ini, tambahnya lagi sembari senyum-senyum.



Fera mengerutkan kening memerhatikan perilaku jessy, ia mengerutkan bibir. apa yang salah?bisiknya pada diri sendiri. sebuah rasa tak dikenal mengaliri hatinya. hanya saja ia tak bisa menjermahkan insting yang tiba-tiba terbit. "yah, mungkin saja ini semua ada hubungannya denganmu."




kali ini fera yang angkat bahu, ia betul-betul tak mengerti. padahal, gosip-gosip sudah ramai beredar di kampungnya. sayangnya, sampai saat ini belum ada kepastian dari pihak keluarga Alfin. rasa-rasanya janggal juga kalau Jessy sama sekali tidak tahu apa-apa. atau, jangan-jangan jessy juga tengah menyembunyikan sesuatu? diamatinya gadis yang masih dalam posisi membelakangi nya.

__ADS_1



"mungkin besok" suara jessy ringan memecah keheningan. fera menatap sahabatnya. "kami mau kondangan bareng ke rumah Wulan."



fera tersenyum lega. "barangkali" ujarnya tak yakin. drama apa ini? pikirnya. di pandangnya Jessy lekat-lekat, seakan ada kengerian sekaligus empati yang dalam di mata fera pada sahabatnya. sementara, jessy sendiri masih asyik mengerjakan tugas rutinnya.


...----------------...


Jessy berkali-kali melirik jam tangan bertali kulit yang melilit pergelangan tangannya. sudah siang, wajah Alfin sama sekali belum tampak. teleponnya juga tidak di angkat. begitu pula pesan-pesannya tak ada yang di balas. matahari sudah bergerak naik beberapa inci sejak Jessy baru duduk di teras rumah.



ada yang tak beres, pikir Jessy gundah. menunggu memang bukan hal yang di sukainya. terlebih, lama seperti ini Jessy cukup gesit untuk berpergian sendiri. Alan tetapi, kali ini ia akan pergi bersama Alfin. lelaki itu sosok yang pasti di tunggunya.


namun, di sisi lain, bukan hal biasa jika seorang Alfin terlambat begitu lama. apa ada sesuatu? atau......pikiran Jessy kembali menambat pada berita dari fera. perasaan Jessy tak nyaman. ia mencoba menepiskan kegelisahannya dengan memainkan game online . setidaknya, permainan itu sedikit menyibukkan pikiran nya.

__ADS_1


tak beberapa lama, terdengar suara sepeda motor menderu. sebuah motor besar dengan lelaki atletis yang mengendarai nya. melihat sosok itu, kekhawatiran seketika menguap dari wajah Jessy. terlebih, saat senyum rupawan tersemat di bibir lelaki itu ke arah Jessy manakala helm dilepas.


__ADS_2