
phani memejamkan mata bulatnya. diciptakannya sebuah pemandangan dari keping-keping kenangan yang tersimpan jauh didalam benaknya. sebuah taman luas dengan kursi panjang terbuat dari besi terletak di beberapa sudut. sementara, beberapa pokok maple berdiri berjajar bagai barisan tentara penjaga. daun-daun berwarna merah kecoklatan berguguran tertiup angin. ketika tiba-tiba seorang lelaki berlilit syal di lehernya tiba-tiba muncul, phani menarik kembali *slide show* di pelupuk matanya dan mengembalikan *file* itu ke brankasnya lagi.
gadis berkulit cokelat terang itu bangkit dan mengeluarkan sebuah benda berbentuk buku dari laci mejanya. ia lalu membuka halaman demi halaman yang ternyata berisi motif-motif batik yang dibuatnya. perempuan itu mengamati gambar terakhir pada *cabinet*. gambar itu di buat dengan gurat tipis. batik motif baru, bergambar daun maple.
phani mulai mewarnai, merah dan coklat dengan latar belakang hitam. lama ia termangu . sudah selesai. sebelumnya, jauh di lubuk hati ia berharap dapat mengulur waktu kalau Alfin datang. waktu sudah menunjuk pukul 02.00 WIB dini hari. belum ada tanda-tanda lelaki berbaju lebar itu masuk kekamar. dalam hati kecilnya, Phani bersyukur, mungkin saja Alfin tak akan masuk. entah mengapa, malam ini terlalu Menakutkan untuk di lewatinya.
mendadak pintu dibuka, membuat phani sedikit terperanjat. sosok alfin muncul di ambang pintu dengan ekspresi minta maaf karena kemunculannya yang mendadak. Rupanya sudut mata elang itu sempat menangkap keterkejutan phani.
"kupikir kau sudah tidur". sapa Alfin yang sudah di kecilkan.
__ADS_1
"tadinya aku juga berharap begitu. sayangnya tak semudah itu," sahut phani menimpali. "kau darimana saja?".
Alfin yang sedang melepas kemeja menoleh. agaknya tak disadarinya wajah phani yang mendadak merah muda saat mendapati Alfin hanya mengenakan atasan kaus singlet. dada lelaki itu bidang dan berotot itu sangat kentara. Alfin sendiri terkesan cuek.
"oh, aku di telepon teman-temanku. maaf membuatmu menunggu,".
mendadak phani dikejutkan lagi oleh kehadiran orang lain. refleks ia terlonjak dan duduk. ternyata, orang itu tak lain adalah Alfin yang sekarang duduk di tepi kasur. rupanya lelaki itu sudah selesai mandi. ia kini tampak segar meskipun matanya sedikit sayu memancarkan lelah yang menderanya. kali ini, Alfin telah mengenakan piama berwarna coklat gelap yang sepertinya juga masih baru. lagi-lagi, ekspresi minta maaf terpasang disana.
"kalau kamu sudah mengantuk atau lelah, tidur sana".
__ADS_1
lelaki itu berkata hati-hati sambil tersenyum menyejukkan. sikapnya begitu santai dan tanpa beban. Alfin menguap lebar.
mendengar nada bicara seringan itu, phani tercengang beberapa saat. *aku tak salah dengar kan*? ia bahkan tak tahu harus berkata atau melakukan apa. tanpa sadar, ditatapnya lelaki berahang persegi yang mulai membaringkan diri di sebelahnya.
kelopak mata Alfin sebentar saja sudah mengatup dengan erat sampai-sampai phani mengiranya sudah tertidur. rasa bersalah mulai mengganggunya karena berharap dapat menolak lelaki itu. tetapi.......
"belum tidur?" mendadak Alfin membuka mata lagi, membuat phani gelagapan.
"em, a-aku .."
menyadari phani kebingungan belum menemukan jawaban, Alfin menyeringai lebar, membuat hati phani berantakan. cepat-cepat perempuan itu membaringkan diri dan menutupi tubuhnya dengan selimut, lalu pura-pura memejamkan mata. disaat itu lah, Alfin menarik tubuh ramping itu dalam pelukannya. pertama kali, secara nyata ada perempuan lain singgah dalam hidupnya. dada Alfin berhamburan dan gemetar. mungkin phani tak tahu, Alfin butuh kekuatan yang teramat besar untuk memulai semuanya, hal-hal yang tak diyakininya, begitu pun sebaliknya.
__ADS_1
...----------------...