SESUATU YANG HILANG

SESUATU YANG HILANG
chapter 27


__ADS_3

perempuan bermata teduh itu manyun. tampak ia tak terlalu suka jawaban jessy dan seperti nya yang diajak bicara juga memahami respons itu. sayang, jessy terkesan cuek.


"nggak, mbak. saya cuman anak kost disini".


orang itu menoleh lagi. ternyata, ia tak terlalu tersinggung dengan gurauan Jessy. mungkin karena sudah beberapa kali mereka terlibat pembicaraan.


"berapa lama, mbak, sakitnya? saya dengar itu seperti penyakit imunitas?"



orang itu mengangguk. "sudah beberapa bulan ini"



jessy terpana.



sebentar kemudian, orang itu di panggil masuk untuk pemeriksaan. terbesit dalam pikiran jessy untuk menanyakan penyakit lupus lebih lanjut pada dokter Kezia suatu saat nanti. ada sesuatu yang sempat mengganggu pikirannya. campak lupa SLE pernah menyerang salah satu orang terbaik yang dikenalnya. orang itu terletak di rumah sepanjang hari karena imunitas berbalik menyerang tubuh, menyebabkan kelelahan yang ekstrim, dan mengacaukan organ-organ nya, termasuk kulit. di samping itu, ruam-ruam memenuhi seluruh tubuhnya. dan, orang itu pun akhirnya meninggalkan jessy dalam duka dan kehilangan yang panjang, termasuk saat mengingatnya kembali.


__ADS_1


jessy bangkit dan berjalan-jalan mengelilingi kompleks setelah sebelumnya menaruh bukunya terlebih dahulu. suasana di peleburan tak lagi seramai dulu saat pertama kali datang kemari bertahun-tahun lalu semasa masih duduk di SMA. area ini dulunya adalah lokasi kos-kosan mahasiswa strata baru. penjual kebutuhan dari kelontong sampai warung kopi semua ada. seorang, hanya tersisa mahasiswa Pascasarjana seperti dirinya yang ada disini. memang, kondisi ekonomi agak menurun, tapi mereka harus terus bertahan dan berjalan.



gadis itu masuk ke warung Padang sambil menyapa pemilik dan pelayan warung yang sudah dikenalnya sejak berada disini.



"silahkan. mau pesan apa neng?"



"biasa. kakap merah bakar". sahutnya Fery, si pelayan mengangguk.




"biasa, sore begini. sudah mau tutup". terangnya. "kamu sendiri, Jam segini baru makan?".


__ADS_1


"kata dokter, suruh makan sore, bukan malam. setiap hari begitu terus, teratur" jelas Jessy sok pintar. bang Andre yang duduk santai di kursi kasir, ikut tertawa . tak lama, nasi ala Padang dengan sambal hijau lalap daun singkong dan bersayur nangka muda pedas sudah tersedia di meja. tak lupa seekor kakap bakar berbumbu rempah di piring kecil serta segelas besar es jeruk tersedia di meja.



"maaf ya, mbak Nani " bisik jessy tak terdengar saat memulai makan. kadang, ia merasa mengkhianati perempuan yang sudah susah memasak, manakala ia memilik makan di luar. ia hanya tak enak terus-terusan numpang makan dan tidur gratis. sudah terlalu baik dr. Kezia menampungnya tinggal, itu saja.


...----------------...


"Sudah isi belum?" lirik buk hesty ke perut phani yang masih datar dan langsing.



phani tersenyum keki sambil mengerling ke arah suaminya untuk meminta bantuan. ternyata yang di pandangi justru tengah melempar pandangan keluar. kodenya jelas, Alfin tak tertarik menjawabnya, apalagi bergabung dalam pembicaraannya. jadi, terpaksa phani menjawabnya sendiri.



"belum Bu. kami saja baru beberapa bulan menikah" jawab phani mencoba tersenyum "barangkali belum rezeki kami saja untuk punya anak cepat".



mendengar ungkapan phani, Alfin menatap heran pada perempuan itu sekilas, seperti tak percaya dengan yang baru lewat di telinganya. phani tak menggubris nya.

__ADS_1



"wah, sayang sekali. padahal, kami sudah nggak sabar nimang cucu. ya, kan, pak, ?" Bu hesty masih tetap sumringah meskipun agak kecewa dengan pernyataan menantunya barusan. "tuh, Fin, kamu harus berusaha lebih keras".


__ADS_2