SESUATU YANG HILANG

SESUATU YANG HILANG
chapter 20


__ADS_3

mobil itu terus melaju kencang, melintasi terminal kecil Bahurekso. bahurekso, nama itu melekat kuat, menusuk-nusuk membran yang menghalangi ingatan jessy akan sosok yang melegenda disepanjang Pantura.



"oh, iya. orang itu adalah salah satu penakluk alas Roban, awal mula dan pembuka tanah di wilayah batang". gumam jessy pelan saat memasuki kota Kendal, salah satu kota yang melahirkan beberapa pemimpin perempuan di era modern.



"terima kasih". ujar jessy pada sopir saat mobil jenis Van itu berhenti di alamat yang di tujunya. lelaki yang tadi mengajak jessy bicara sudah tidak ada. tiba-tiba, rasa kasihan muncul diantara ketidak menyesalannya atas perilakunya tadi. akhirnya, ia memilih mengabaikan keduanya.



"tak ada yang perlu dikhawatirkan" katanya pada diri sendiri. matanya menyapu sebuah rumah berpagar besi tinggi dan besar dengan cat hitam di depannya. bangunan itu berdiri angkuh menghadang nya.

__ADS_1



"tak jauh berbeda" gumam nya lagi ketika meneliti bangunan di balik gerbang berbentuk jeruji itu. perlahan, di bukanya kunci gerendel pintu kecil di samping gerbang.



"tak di gembok" pikir jessy. "kurasa mereka sudah tau aku akan datang siang ini".




jessy melepas sandal yang mulai menapaki lantai keramik hitam yang agak dingin. angka 37 di lihatnya lagi di dinding cat putih yang sudah agak kusam, angka yang sama dengan sebelah gerbang tadi, ia memencet bel. sebuah nada terpantul pelan digendang telinga jessy. rupanya, *speaker* terletak jauh di dalam sehingga suaranya nyaris tak terdengar dari luar.

__ADS_1



belum ada tanda-tanda seseorang keluar dari dalam rumah. sekali lagi, bel di pencet. suara tipis pun kembali terdengar. kali ini, jessy berharap akan ada orang yang akan datang membuka. ia berbalik menemukan kursi teras dari kayu jati ukir dengan lengan berbentuk melengkung sampai berujung seperti ujung daun pakis muda.



"sopankah aku bila langsung duduk saja?".



jessy mengurungkan niat. sebaliknya, ia mengamati rumah ini sekali lagi. rumah ini cukup sejuk bila dibanding kan dengan Semarang yang terik. bahkan, sesaat ditepi gang tadi, gerah sudah cukup menggangu. sayang, jessy tak suka dengan kesan murung yang di tangkap nya atas rumah ini. untuk selama-lamanya telah meninggalkan kesan yang nyata pada rumah ini. jessy tahu, lelaki berambut putih sempurna di usia setengah abad itu adalah perawat taman yang baik. berbeda dengan sang istri yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk pekerjaan dan kegiatan sosial.


__ADS_1


hendak di pencetnya bel untuk kali ketiga, mendadak dari kaca gelap yang tertutup tirai tipis berwarna putih tipis tertangkap sebuah bayangan. bayangan itu makin nyata membentuk sosok tubuh yang mendekati pintu.


__ADS_2