SESUATU YANG HILANG

SESUATU YANG HILANG
chapter 2


__ADS_3

" aku juga pengen foto prewedding dengan latar alam. aku gak suka layar indoor, membosankan tau. kau tau?"


seperti biasa, raut wajah Alfin selalu datar,ia hanya menunjukkan emosi sabatas yang di izinkan nya. semua usulan Jessy di iyakannya saja. yang ia tahu, satu-satunya tugas penting adalah menciptakan lagu untuk Jessy, bidadari yang di kirim dari langit untuk mendampingi hidupnya. namun, sampai hari bahagia itu tiba, ia tetap merahasiakannya dari Jessy, membuat Jessy selalu penasaran, kira-kira lagi seperti apa yang bakal Alfin nyanyikan untuknya.


"Hmm. cepat sekali waktunya, ya?" gumam Jessy. baru saja di selesaikan nya membaca waktu pelaksanaan resepsi pada kertas undangan di tangannya. tidak ada seminggu kedepan.



"semoga saja Alfin mau aku ajak kondangan. apa ia punya waktu?" gadis itu berpikir sejenak, menelusuri rute yang harus di tempuh oleh Alfin. di bayangkannya, Alfin mesti dua kali kerja. tersebab, kini Alfin sudah di Pekalongan. Jessy menyeringai. artinya lebih dari seratus kilometer jarak yang harus di tempuh Alfin sepanjang pulang pergi.


"apa boleh buat." Jessy menyeringai nakal.


"temanku akan menikah," Jessy renyah dalam telponan nya.


"teman? siapa?" sebuah suara maskulin nan dalam terdengar dari seberang sana. suara itu lagi-lagi menggetarkan dada Jessy.


"itu lho, si Wulan, teman SMA ku." Jessy menerangkan. tanpa di minta, Jessy mulai berkicau menceritakan beberapa kisah yang di lalui nya bersama dengan Wulan.

__ADS_1



"oh" Alfin menanggapi tanpa reaksi, membuat Jessy menyipit kan mata sebal. dalam hati, ia ingin menjitak lelaki itu.



"kok 'oh' doang sih ? kamu pernah ketemu Wulan lho. dia itu *wedding singer* favorit alumni sekolah kita. ia juga yang aku minta menyanyi di pernikahan saudaraku". Jessy berkata dengan bangga.




"ya, kita Kondangan kesana,lah! nggak enak juga kalau sampai nggak datang. dia selalu meluangkan waktu buatku". entah bagaimana, suara Jessy tidak terdengar meyakinkan. seolah kalimat-kalimatnya memang di tujukan untuk menyindir Alfin. "kamu ada waktu nggak?".



"kondangan? ntar yah,aku nego dulu sama Andi. semoga saja ia bisa gantiin tugasku."

__ADS_1



sejenak suara Alfin menghilang dari dalam telepon. Jessy menunggu dengan harap-harap cemas. ia hanya mendengar perbincangan pelan dan jauh sampai akhirnya Alfin bicara lagi. "oke, kita bisa pergi. Andi bersedia menjaga toko sendiri."



Jessy bersorak dalam hati. akhirnya, ia punya waktu seharian sama Alfin! beberapa waktu ini, Alfin terlalu sibuk sampai hampir tidak ada waktu untuknya. Jessy terus berceloteh riang mengekpresikan kegembiraannya. sementara, orang di seberang sana tak menjawab banyak selain ya, tidak, atau oh. Jessy mengabaikan tanggapan Alfin.


ia terus berkisah tentang langit senja, bintang,dan Bunga-bunga yang akan di inginkan nya, seolah pernikahan Wulan adalah pagelarannya sendiri.


"aku sayang kamu," Alfin ketika menyudahi telepon. ada sedikit nada aneh dalam kalimat itu. hanya saja, desiran di hati Jessy setiap Alfin mengucapkan kata itu membuatnya lupa ada hal-hal kecil yang mengganggunya. tidak penting, ujarnya pada diri sendiri.



" *me too*" hanya itu yang bisa di jawabnya mengambang, seolah tidak rela memutuskan perbincangan nya, masih banyak yang ingin di ceritakannya. ada lain waktu, hibur Jessy pada diri sendiri. akhirnya, ia hanya berkata "*see you next*".


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2