SESUATU YANG HILANG

SESUATU YANG HILANG
chapter 12


__ADS_3

pikiran perempuan muda itu melayang-layang hingga berhenti pada sebuah wajah perempuan tua yang sejuk.


"kau anak perempuan hebat. kelak, kau akan luar biasa dengan bakat yang kau miliki ini".


suara lembut itu terngiang-ngiang. hanya orang itu yang mampu mengerti diri dan semua citanya. tidak seperti orang lain, yang selalu membuatnya berjalan mengikuti garis tertentu.


"kamu harus masuk jurusan desain grafis!"


"aku ingin masuk jurusan seni rupa, ayah."


"seni rupa? kau mau jadi apa kalau masuk jurusan itu?"


gadis itu terdiam.


"coba lihat sepupumu, kuliah jurusan sembarangan. jadi apa ia sekarang? kalau kamu masuk jurusan grafis, kau juga menggambar. desainmu akan membuat usaha kita berkembang pesat. kamu tidak mau ikut mengembangkan usaha yang sudah di rintis kakek nenekmu?".

__ADS_1


ia membuka mata.


"kakek dan nenek," ulangnya pelan. "andai mereka masih ada".


ia beranjak. dengan langkah gontai, ia berjalan menuju almari dan membuka nya. dari laci, di keluarkan nya sebuah kotak kecil ukir dari kayu jati.


gadis bertipikal mediteran itu duduk di kursi kerjanya lagi. dibukanya kotak tua perlahan. disana, tertidur sebuah canting tua dengan nyamplung sampai cucuk terbuat dari lempeng tembaga, sedang gagangnya terbuat dari kayu mahoni yang sudah cukup tua pula.


"batik" bisiknya pada benda itu "hidupku"


phani mendekap canting itu di dada. dulu, canting ini dipakai nenek ketika membatik. dari neneklah, ia belajar seni menggambar, juga melukis motif batik. sebelum meninggal, canting itu di wariskan pada cucunya.


"berkarya lah. dan, terbanglah jauh tinggi" pesannya pada cucu kesayangan yang baru beranjak remaja.


matanya terpejam. hanya dirinya sendiri yang tahu apa yang tengah bergejolak dalam hati. sementara, kenangannya terbang jauh kesebuah kota dimana bunga-bunga yang selalu bermekaran sepanjang musim. lalu, mawar putih itu menyapa. wajah orang itu jelas terbayang, sejelas menonton film di bioskop..

__ADS_1


"aku selalu mencoba. tapi, aku memang gagal." gadis dengan rambut sepanjang punggung itu tertawa getir, menertawai hidupnya. "kau memang gadis bodoh, phani! tak bisa memuaskan apalagi membanggakan orang tua".


sudah terlambat. ia akan menempuh jalan yang sejatinya tak pernah di pilihnya. apa daya jika takdir telah berkehendak, terutama jika lewat lelaki bersuara berat itu.


"aku tahu yang terbaik untukmu, juga keluarga kita!"


...----------------...


Jessy tak percaya, ia telah melewati sebulan sejak malam terakhir nya bersama Alfin. sempat ia berpikir, peristiwa itu hanya lah mimpi sekejap yang segera sirna saat membuka mata. nyatanya tidak. ia justru sempat menemukan dirinya tergolek di ruang IGD sebelum akhirnya di pindahkan ke ruang rawat inap. kini, disesalinya mengapa ia mesti selamat, tidak kejang-kejang lalu mati saja saat panas tinggi. Jessy tersenyum pahit. hal yang tak bisa di pungkiri ya adalah bahwa kini ada sebuah ceruk besar dan dalam tengah bertumbuh di dadanya, begitu gelap dan menyakiti tubuhnya.


"mungkin saja. mungkin saja ada masa dimana nanti aku bisa tertawa lagi. ada masa ketika cahaya mampu bersinar terang. entah kapan".


sudah berkali-kali mantra penenang jiwa dirapal jessy. ternyata bibir terlalu mudah mengumbar janji, semudah mematahkan atau justru menemukannya jadi debu. tubuh jessy yang sudah empat hari tak lagi berbaring di atas kasur rawat inap serasa tak lagi berjiwa. sudah berkali-kali ditegakkan, nyatanya tangis masih berhamburan, terlebih saat sebuah undangan merah bata bertinta emas Tiba di depan matanya.


" kau yakin akan membacanya sekarang?" tanya ibu Jessy. Jessy mengangguk mantap sambil tersenyum. padahal, jauh di lubuk hati, ia sudah tak yakin. sudah kepalang tanggung, ia sudah tumbang sekarang, apalagi yang tersisa untuknya? membiarkan orang lain mencemaskannya adalah tindakan paling bodoh, karena ia sendiri sudah tak terlalu peduli dengan yang di rasakannya, sekalipun kematian yang mungkin menjemput secara tiba-tiba.

__ADS_1


" hal terbodoh yang pernah kulakukan adalah mencintaimu seperti ini Alfin. sangat-sangat bodoh!".


__ADS_2