SESUATU YANG HILANG

SESUATU YANG HILANG
chapter 6


__ADS_3

"ayo!" suara riang Jessy menyentak Alfin, lelaki itu tersenyum mengiyakan.



segera, keduanya menerbangkan layang-layang di tangan. kedua benda itu terbang jauh tinggi hingga terlihat mengecil, hanya sebesar telapak tangan.



"saatnya mengucap harapan!" teriak Alfin. yang di teriakin pun mengangguk.



hanya beberapa menit mereka saling takzim. mendadak angin bertiup lebih kencang, membuat layang-layang meliuk. tiba-tiba saja, kedua itu saling bergesekan disaat yang sama, tubuh Alfin menegang dan mematung di tempat. wajah lelaki dua puluh dua tahun itu berubah pucat Pasi. layang-layang di tangannya terputus.



Jessy tersentak, kemudian ia menyadari perubahan sikap Alfin. segera ia melupakan layang-layang nya sendiri dan menggamit telapak tangan kanan lelaki itu.



"tak ada yang perlu di khawatirkan dari sebuah mitos". kata gadis itu.


__ADS_1


Alfin tersenyum tipis dan sedih. mereka saling menggenggam tanpa berkata apapun.


...----------------...


"purnama!" seru jessy, tangannya menunjuk ke arah wajah bulan berukuran hanya sedikit lebih lebar dari lingkar bola basket. bulan purnama baru saja muncul dari sisi bukit. warnanya masih kemerahan karena semburat matahari senja masih terpantul di permukaannya.



sekilas Alfin mengikuti arah tunjuk jessy. kemudian, ia kembali mengamati setiap detail perilaku jessy dari kaca spion. kesedihan timbul tenggelam di wajah lelaki yang mulai di sergap rasa lelah itu. rasa itu menyeruak setiap kali perempuan menjelang dua puluh dua tahun itu tersenyum atau tertawa. di cengkramnya setang sepeda motor kuat-kuat dari dalam sarung tangan kulit yang membungkus telapaknya.



"bagus,ya?" timpal Alfin "kamu mau melihat lebih jelas?"




alfin memelankan laju kendaraannya sebelum akhirnya mengerem ketika menemukan tempat yang cukup nyaman untuk duduk. sebuah tempat yang agak lapang dengan tanah melandai. sekilas terdengar gemericik aliran sungai dari dasar tanah di depan keduanya.



bulan sudah berubah cemerlang keperakan ketika keduanya turun dari sepeda motor dan duduk. mereka mengabaikan sunyinya jalanan di petang hari itu.

__ADS_1



"kamu ingat kan Fin? pada cahaya bulan kamu pernah mengukir janji." Jessy tersenyum samar mengingat pendakian di gunung Merbabu. saat itu tengah acara diksar pecinta alam di masa SMA.



tak hentinya Jessy mengulang cerita tentang sumpah setia yang hanya sekali diucapkan, setiap purnama tiba seolah tengah menagih dan mengingatkan janji. selama ini, Alfin tak pernah keberatan. namun, entah mengapa kali ini saja ia ingin menutup kedua telinga rapat-rapat, kalau bisa saja. jauh di lubuk hati, Alfin di cengkram perasaan yang tak mungkin di sampaikan nya pada Jessy. gadis yang kini mengikat ekor kudanya lebih rapi. Alfin mencengkram jemarinya sendiri\_mengepal. *seharusnya ia tak mengajak jessy menatap bulan kali ini*.



"Jessy" panggil Alfin pelan ketika kalimat jessy mulai memberi jeda — ruang untuknya menyela.



"ya?" jessy menyapu wajah Alfin. ia tak mengatakan apa-apa selain menyiapkan telinga untuk mendengarkan.



"maukah kamu berjanji padaku?"



"janji?" mata Jessy melebar jenaka. janji apalagi? jemari nya bahkan sudah tidak bisa menghitung beberapa kali janji yang telah mereka ucapkan.

__ADS_1



Alfin mengangguk mengiyakan. otaknya sibuk, menarik ulur tak yakin dengan apa yang hendak disampaikannya. dada Alfin naik turun seperti ada beban cukup berat disana. ada rasa perih yang harus di tanggungnya, dan ia bersiap meledak karenanya. Alfin mencoba menguatkan diri.


__ADS_2