SESUATU YANG HILANG

SESUATU YANG HILANG
chapter 23


__ADS_3

"tak tahu?" suara tenor itu meninggi. "bagaimana bisa kamu tidak tahu?".



mendengar teguran itu, tubuh phani menegak. sebuah serangan klaustrofobia mencengkram nya ketika mendengar lengkingan suara ayahnya. sekuat tenaga, phani membendung dan membentengi dirinya lebih tinggi, termasuk bulir keringat pun dilarang keluar dari kening.



"phani, Alfin itu suami kamu. bagaimana kamu bisa ringan bilang nggak tau?" ayah bicara dengan nada yang lebih tinggi. suara yang sama sekali tidak merdu.



phani menunduk. di kumpulkan nya tenaga untuk membela diri. ia tak boleh kalah. tidak lagi! "saya sedang bekerja yah, saya sudah menyuruhnya makan deluan".



"apa-apaan kamu ini, phani? ini masih suasana pernikahan kamu. karyawan saja sampai ayah liburkan untuk menghormati kamu. lihat, kamu malah disini, kerja kerja, dan kerja terus! padahal didepan masih banyak tamu. apa pekerjaan itu lebih penting dari kedatangan tamu? sekarang malah Alfin entah kemana!".



bibir phani terkatup rapat. ia bersalah. sudah jelas itu lah yang hendak dikatakan ayahnya. phani membuang muka tak berani menantang mata disana. disaat itu juga, benaknya sibuk memikirkan pembenaran-pembenaran atas keputusannya hari ini. namun, entah bagaimana, semua abai meninggalnya seorang diri.

__ADS_1



"hentikan pekerjaan kamu! cari Alfin".



ayah berbalik tanpa banyak berkata lagi. phani mulai merasa kalimat ayah bernada sarkastik itu bukan sedang bertanya. ayah tahu Alfin baru saja pergi, dan itu salah phani. klaustrofobia itu menunjukkan kemenangan tipis. diremasnya kain tipis bermotif daun maple lagi sebelum beranjak perlahan. ia mengaku salah!.


...----------------...


berkali-kali phani menengok jam dinding. sudah berjam-jam Alfin pergi. belum ada tanda-tanda lelaki itu akan kembali. seharusnya, waktu kerja Alfin sudah selesai, itu pun kalau lelaki itu pergi ke kios di pasar grosir Setono. sejak pertunangan mereka, kios itu telah di percayakan pada Alfin meskipun waktu mengurusnya masih suka di selang-seling dengan minimarket miliknya. akan tetapi, seluruh usaha batik yang dikelola ayahnya semua ditutup sementara. jadi, tak mungkin Alfin kesana.




"apa yang terjadi pada Alfin?" phani bertanya pada hening yang tetap membisu.



phani bimbang. ia tak tahu cara menghubungi Alfin. ia tak tahu nomor telponnya, tak tahu sanak famili atau teman untuk bertanya. sesaat phani merasa demikian bodoh. ia tak tahu apa-apa tentang suaminya sendiri. padahal, mereka sudah lama saling kenal.

__ADS_1



phani duduk bertopang dagu dalam kamarnya.



"*\*\*\*\**! persetan dengan semua ini" umpatnya. untuk sedikit mengalihkan kekesalan, ia mengambil kertas gambar dan mulai membuat desain lagi. tentu ia tak mungkin kembali ke tempat kerja atau mana saja selain kamar dengan resiko kena tegur lagi.



mula-mula, ia menggambar acak, bunga-bunga Lily, sulur, daun-daun, hingga akhirnya membentuk taman bunga dalam motif batik. cantik, tetapi *mood* phani sedang tak terlalu baik, sehingga gambar tak terlalu rapi, tak seperti biasanya.



phani melangkah ke jendela kaca, menatap lurus ke luar, di pada besi berukuran tinggi yang hampir menutup seluruh dinding serta halaman rumah Yang ada didalamnya. sudah dua puluh lima tahun ia tinggal disini. ada banyak cita yang terkubur. dan, inilah akhir impian nya, akhir segalanya. hidup telah berakhir di tangan ayahnya. phani tak mampu lagi menangis. sudah berkali hingga lupa rasanya. ia tersenyum sinis, menertawai nasibnya.



"seharusnya aku kabur. bukan ke Jakarta atau yang lain. ke Eropa saja". phani menangis sambil memeluk sebuah undangan dengan amplop berlogo Oxford. "susah payah aku menembusnya, kini hanya berakhir disini. tempat terkutuk ini".


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2