
"saya cuma sopir. pantes nggak, kalau jadi pasien dokter kecantikan?"
jessy menyeringai menyadari lelaki itu tengah membalas gurauannya, kecuali kalau ia memang benar-benar sopir.
"dia siapamu?" tanya jessy tanpa maksud menyelidik.
"oh, itu adik saya".
jessy menyeringai atas jawaban spontan lelaki berkaca mata segi empat itu. sopir gadungan ternyata, ia mengambil kesimpulan. pasien lain mulai berdatangan dan duduk di kursi yang di sediakan di depan ruang praktek.
"mbak tidak pindah?" tanya si lelaki.
"tidak perlu. saya disini bukan antri dokter."
"lalu?"
"antri jodoh mungkin. kali saja Nemu disini". sahut jessy tanpa ekspresi.
lelaki itu tertawa geli. ada-ada saja orang ini, pikirnya. entah karena suasana hati tidak baik, atau memang perempuan itu suka berbicara gaje.
tak lama, dokter Kezia muncul dan mempersilahkan pasien pertama masuk sesuai nomor urut.
__ADS_1
"boleh kenalan, mbak?" lelaki ramping itu mengulurkan tangan. "nama saya Rian" lanjutnya.
Jessy masih menunjukkan sikap formal sebelum menjawab pertanyaan Rian. "jessy" jawabnya singkat.
Rian mengangguk. keduanya tak menunjukkan diri sempat terkagum dalam benak masingmasing, "nama yang bagus".
sejenak kemudian, Rian sudah berpamitan karena urusan adiknya dengan dokter sudah selesai. jessy sendiri tetap berada di kursinya sambil mengamati wajah-wajah yang ingin di tangani dokter Kezia. dalam pikirannya, jessy cukup terkagum pada penampilan mereka yang *high class*, wajah putih mulus mengkilat bak porselen, rambut di cat cokelat, pakaian bermerek, duduk santai dengan celana rata-rata di atas lutut, dan sebagian besar perempuan.
"mungkin mereka artis" tebak jessy pintar-pintar bodoh.
setahunya, hanya sedikit orang yang berobat karena permasalahan kulit lain atau kelamin. sempat ia berjumpa dengan penderita HIV disini. wajahnya pucat dan tubuhnya kurus. pasien itu tak terlalu banyak bicara.
"*HIV dan AIDS makin* *meningkat saja. belum lagi penyakit seksual lain" jelas sang dokter muram kemudian*.
"kok bisa begitu?"
dokter Kezia masih terlihat sedih "*free \*\*\*, narkoba* " sesaat, jessy menangkap kegeraman dalam suaranya "*penjualan \*\*\*\*\*\*, obat perangsang, viagra, alat suntik yang terlalu bebas tanpa kontrol maksimal dari pemerintah ataupun penjual*!"
"*belum lagi video porn\* semakin merajalela*!" tukas sang dokter lagi.
__ADS_1
jessy ngeri membayangkan. ia melirik ke arah pintu yang tertutup.
"*korban kosmetik dengan kadar timbal dan merkuri yang tinggi" suara dr.kezia kembali menggema. "ingin cantik instan, mengabaikan bahaya! beli produk abal-abal. tahu-tahu terpapar zar yang berbahaya*.
seseorang duduk di samping jessy setalah Rian tadi beranjak pergi. perempuan tak kurang dari tiga puluh tahun yang di antar seseorang yang lelaki yang kini pergi mengambil nomor antrean ini tampak kusam. seluruh tubuhnya tertutup jaket. namun, jessy menangkap ada reaksi tak nyaman pada gerak-geriknya. namun, rasa-rasanya bukan sekali ini orang itu datang kemari.
"sakit apa, mbak?" tanya jessy hati-hati.
orang itu menoleh tak tenang. Jessy sudah bersiap tak mendapat jawaban. dalam hati, ia berpikir duduk disini seperti sebuah penelitian ringan. apakah orang-orang itu terganggu?
"lupus" jawab perempuan itu datar.
jessy terperangah. *sakit apa*?!
"mbak, keliatannya kamu juga sering kemari?" sapa perempuan berambut ikal yang di ikat dengan penjepit itu yang sepertinya mulai mengenali jessy.
sebuah senyum mengulas di bibir jessy. "saya pasien tetap disini"
"oh, ya?" perempuan itu tertarik. "sakit apa?"
__ADS_1
"sakit hati, mbak"